Krisis Keuangan Warnai Perjalanan Dortmund ke Wembley

- 21 Mei 2013 21:10 wib
REUTERS/Ina Fassbender/fz
REUTERS/Ina Fassbender/fz

Metrotvnews.com, Berlin: Perjalanan Borussia Dortmund dari di tepi kebangkrutan pada 2005 sampai final Liga Champions melawan Bayern Muenchen yang akan berlangsung Sabtu, disebut sebagai Titik Nol menuju Wembley, oleh CEO Hans-Joachim Watzke.

November silam, ia mengumumkan bahwa Dortmund mencatatkan rekor keuntungan berjumlah 34,3 juta euro untuk musim 2011/2012, ketika mereka memenangi gelar ganda Liga Jerman dan Piala Jerman. Kondisi itu sangat bertolak belakang dari Maret 2005 ketika, dengan hutang sebesar 120 juta euro, Watzke nyaris mengumumkan kebangkrutan Borussia yang akan membuat mereka tersingkir dari Bundesliga dan hanya diizinkan berkompetisi di sepak bola amatir.

Setelah memenangi gelar Liga Champions 1997, klub terjerat hutang dalam jumlah besar akibat mereka mendatangkan pemain-pemain bintang dengan biaya besar, sebagai upaya tetap berada di papan atas sepak bola Jerman.

Borussia mengambang di bursa saham Frankfurt pada Oktober 2000, namun uang yang keluar lebih banyak daripada uang yang masuk, sehingga memicu masalah-masalah keuangan.

Ketika mantan Presiden Dr Gerd Niebaum mengundurkan diri pada Oktober 2004, klub itu terjebak hutang, Stadion Westfalen mereka telah dijual dan penggantinya Reinhard Rauball menghadapi tugas sangat berat.

"Saya tidak pernah mendapat tanggung jawab seperti itu sepanjang hidup saya," kata pria yang berprofesi sebagai pengacara ini, yang dua kali menebus Borussia pada 1970-an dan 1980an.

"Ketika sebelumnya saya membantu menyelematkan klub, situasinya tidak mudah, namun banyaknya uang yang terlibat berarti kami perlu menemukan solusi." "Ini sepenuhnya merupakan pengalaman baru dengan banyaknya uang yang terlibat." Watzke memiliki ingatan yang jelas perihal hari-hari seputar 14 Maret 2005 ketika ia harus meyakinkan 5.800 pemegang saham Borussia, sejumlah bank, dan Liga Sepak Bola Jerman (DFL) bahwa klub itu memiliki masa depan keuangan.

"Itu benar-benar kacau dan anarkis, itu tidak lebih ringan daripada yang terjadi delapan tahun silam,"kata Watzke mengenai hari-hari pertamanya sebagai CEO pada Februari 2005.

"Saat saya baru hari mengambil alih, kami harus memperhatikan situasi kami di bursa saham, atau (dianggap) melanggar hukum karena terlambat mengumumkan kebangkrutan." "Kemudian jika kami tidak mendapatkan tanda tangan untuk paket keuangan, itu hanya akan berarti mendaftarkan kebangkrutan dan menuju sepak bola amatir."

"Para kreditur berada di pintu kami dan sampai September 2006 kami berada di bawah kendali mereka. Jika krisis keuangan menghantam Jerman lebih awal sebelum 2008, tentu saja tidak  akan ada sepak bola profesional di Dortmund."

Para pemain harus mendapat pemotongan gaji sebesar 20 persen, ketika nilai saham klub itu merosot 80 persen. Dengan kebangkrutan yang berhasil dihindari, klub kemudian memangkas bujet mereka, menyingkirkan pemain-pemain yang digaji terlalu besar, merekrut talenta muda, dan mengadopsi filosofi baru.

"Kami tidak akan pernah lagi berhutang untuk mengejar kesuksesan olahraga, sekarang kami hanya  menghabiskan apa yang kami dapatkan." Borussia mencari bentuk permainan terbaik selama beberapa tahun setelah krisis mereka, dengan tiga pelatih yang berganti-ganti dari Desember 2006 sampai Mei 2008, ketika klub itu finis di peringkat ke-13 di liga.

Kemudian Dortmund mendekati pelatih ambisius Jurgen Klopp, yang membawa Mainz 05 promosi ke Liga Jerman pada 2004 dan mampu mempertahankan mereka di kompetisi strata tertinggi selama tiga tahun dengan tim yang terbatas, namun memiliki sistem permainan yang rapi.

Saat itu Klopp juga telah didekati untuk melatih Bayern Munich, namun tim Bavaria itu memilih Jurgen yang lain - manan pelatih timnas Jerman Klinsmann - dan Dortmund mendapatkan pelatihnya. Beberapa musim pertama pelatih 45 tahun itu berlangsung dengan baik: finis di peringkat keenam pada musim pertamanya, peringkat kelima di musim kedua, kemudian dua musim berturut-turut menjuarai liga pada 2010-2011.

"Ketika saya tiba di sini, saya berpikir, secara naif, bahwa saya dapat berbelanja dengan tas-tas besar berisi uang dan memilih pemain-pemain. Kemudian saya mendengar mengenai bujet," aku Klopp.

"Terdapat sedikit uang, namun ada tradisi hebat dan harapan-harapan yang tinggi." "Hanya ada dua pilihan: mengambil kredit, namun itu tidak dapat dilakukan, maka kami bergantung pada pemain-pemain muda." 

"Beberapa dari anak-anak ini bermain di Bundesliga pada usia 19 tahun, menyenangkan untuk melihat mereka telah berkembang dan merealisasikan potensi mereka." "Final ini adalah tonggak sejarah, namun tidak seorang pun merasa bahwa perjalanan ini sudah berakhir."

"Bahkan jika kami memenangi final, kami akan tetap tampil baik dan kemudian berusaha meningkatkan sepak bola spesifik."  (Antara)

()

JAMIE Carragher yakin, satu-satunya yang bisa menggagalkan Liverpool juara adalah mereka sendiri.