Devaluasi Yuan Picu Perang Mata Uang Global

Ade Hapsari Lestarini    •    13 Agustus 2015 11:13 WIB
ekonomi china
Devaluasi Yuan Picu Perang Mata Uang Global
Mata uang yuan terendah dalam empat tahun terakhir. AFP PHOTO / FRED DUFOUR

Metrotvnews.com, Shanghai: Mata uang Tiongkok untuk pertama kalinya turun ke level terendah dalam jangka waktu empat tahun. Kemerosotan tersebut setelah bank sentral Tiongkok mendevaluasi yuan.

Sumber-sumber di pemerintahan mempercayai jika devaluasi yuan tersebut bisa membantu eksportir negara itu. Demikian seperti dilansir dari Reuters, Kamis (13/8/2015).

Yuan diperdagangkan di Tiongkok mencapai titik terendahnya dari 6,4510 per USD, dan terendah sejak Agustus 2011. Bahkan, mata uang yuan mengalami nasib buruk dalam perdagangan internasional, yakni menyentuh 6,59 terhadap USD.

Mata uang ini telah kehilangan 3,5 persen terhadap dolar AS di Tiongkok dalam dua hari terakhir, dan melemah sekitar 4,8 persen di pasar global setelah bank sentral Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) mengubah cara menghitung tingkat referensi yang diperbolehkan bagi yuan untuk berdagang di titik dua persen.

PBOC mengatakan sekarang akan menghitung yuan secara harian, dengan lebih memperhatikan kekuatan pasar, termasuk harga penutupan di sesi perdagangan hari sebelumnya.

Devaluasi yuan ini memicu kekhawatiran perang mata uang global, dan tuduhan bahwa Beijing telah mendukung eksportir. Namun demikian, bank sentral tetap berusaha untuk meyakinkan pasar keuangan bahwa langkah ini tidak akan membuat depresiasi menjadi stabil.

"Melihat situasi ekonomi internasional dan domestik, saat ini tidak ada dasar untuk tren depresiasi berkelanjutan bagi yuan," demikian pernyataan Bank Rakyat Tiongkok (PBOC).

Setelah yuan melemah lebih dalam pada awal perdagangan Rabu, dealer mata uang mengatakan bank milik negara itu terlihat menjual dolar atas nama PBOC untuk menahan jatuhnya yuan. Adapun tingkat pasar spot pulih di akhir hari dan ditutup di level 6,3870.

"Rupanya, bank sentral tidak ingin yuan berjalan di luar kendali," kata seorang pedagang di sebuah bank Eropa di Shanghai.

Namun, sumber yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan Tiongkok mengatakan suara pemerintah yang kuat telah menekan yuan secara keseluruhan hampir 10 persen.

Pada perdagangan Selasa, devaluasi yuan mengikuti data ekonomi yang buruk dan mengakibatkan satu hari kejatuhan terbesar sejak 1994. Serta menimbulkan kecurigaan pasar bahwa Tiongkok memulai depresiasi jangka panjang dari nilai tukar yang akan membuat ekspor Tiongkok lebih murah.

Data pertumbuhan aktivitas pabrik di Tiongkok dan penjualan ritel membuat pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini menjadi lamban. Sementara pengeluaran fiskal melonjak 24,1 persen pada Juli, mencerminkan upaya Beijing untuk merangsang kegiatan ekonomi.


(AHL)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

1 day Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /