Persembahan Ahsan/Hendra untuk Indonesia

Suryopratomo    •    18 Agustus 2015 16:49 WIB
bulu tangkis
Persembahan Ahsan/Hendra untuk Indonesia
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (Foto: Dok PBSI)

Sungguh bermakna sekali persembahan yang diberikan ganda putra Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan bagi peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia. Sehari sebelum Hari Kemerdekaan Ahsan dan Hendra mempersembahkan gelar juara dunia bulu tangkis.

Tidak mudah perjalanan yang harus ditempuh Ahsan dan Hendra. Berada pada unggulan ketiga, mereka harus menghadapi unggulan pertama dari Korea Selatan Lee Yong-dae/Yoo Seon-yeong di semifinal. Beruntung Ahsan main cemerlang di set kedua, sehingga pasangan Indonesia terhindar dari rubber-game dan menutup pertandingan dengan dua game langsung.

Pada pertandingan final hari Minggu, Ahsan dan Hendra sedikit lebih ringan perjuangannya. Mereka mampu menang dua game langsung dari unggulan sembilan asal Tiongkok Qiu Zihan/Liu Xiaolong.

Gelar juara dunia sangat berarti karena tahun lalu kita harus pulang dengan tangan kosong. Pada Kejuaraan Dunia 2013 silam, kita juga merebut dua gelar juara di ganda putra dan ganda campuran. Ahsan dan Hendra ketika itu mempersembahkan gelar untuk ganda putra.

Bagi Hendra gelar hari Minggu itu merupakan gelar juara dunia ketiga. Sebelumnya pada tahun 2007, Hendra keluar sebagai juara saat berpasangan dengan Markis Kido.

Bangun Kembali

Bulu tangkis Indonesia membutuhkan energi baru untuk membangun kembali kejayaannya. Setelah 70 tahun Indonesia Merdeka kemampuan untuk membangun kembali kejayaan bulu tangkis seharusnya semakin besar. Kita seharusnya memiliki kemampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang olahraga.

Kita seharusnya pantas berkaca kepada Jepang dan Thailand yang mampu membangun kembali bulu tangkis mereka. Setelah lama terpuruk, kedua negara itu mampu menampilkan permainan yang pantas untuk diperhitungkan.

Apalagi kalau kita melihat Spanyol dan India yang tiba-tiba bisa mengungguli Tiongkok di nomor tunggal putri. Pebulu tangkis Spanyol Carolina Marin dan pemain India Saina Nehwal bisa tampil di pertandingan puncak. Marin melengkapi gelar juara All England dengan menjadi juara dunia.

Prestasi Marin menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam bulu tangkis. Ketika sesuatu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menerapkan iptek dalam pembinaan, maka prestasi tinggi akan bisa dicapai.

Selama ini kita lebih mengandalkan kepada bakat alam. Seakan-akan bintang muda bisa lahir dengan sendirinya. Ternyata kita terengah-engah untuk bisa mendapatkan Taufik Hidayat muda dan Susy Susanti yang baru.

Sekarang kita beruntung memiliki orang seperti Victor Hartono. Bos Djarum itu mau berkorban bagi bertahan bulu tangkis Indonesia. Victor bukan hanya menyediakan fasilitas untuk klub Djarum di Kudus, tetapi mendanai Sirkuit Bulu Tangkis di dalam negeri.

Namun kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada pribadi-pribadi. Seperti di atletik kita beruntung memiliki orang seperti Bob Hasan yang mau mengeluarkan dana dari kantong pribadi untukk pembinaan atletik. Tetapi kalau satu saat tidak ada lagi Bob Hasan atau Victor, bagaimana nasib pembinaan olahraga di Indonesia.

Pemimpin Visioner

Seperti halnya kehidupan bangsa ini, olahraga pun membutuhkan pemimpin yang visioner. Olahraga hanya bisa maju apabila pemimpinnya punya visi dan kemampuan untuk merangkul banyak orang untuk merealisasikan visi itu.

Tidaklah mungkin olahraga akan maju apabila dipimpin oleh orang yang pikirannya kerdil. Pemimpin yang hanya maunya sendiri dan tidak jelas sebenarnya konsep yang dipikirkannya.

Kita sudah lihat sepak bola bukannya semakin baik, tetapi lebih babak belur. Pemimpinnya tidak terbuka pikirannya dan berpikiran sempit. Oleh karena tidak mau mendengarkan masukan akhirnya terjerembab sendiri.

Turnamen Piala Kemerdekaan yang dibuka Presiden Joko Widodo kehilangan gemanya. Sesumbar bahwa banyak televisi berebut menyiarkan, ternyata tidak terbukti. Akhirnya TVRI yang dipaksa untuk menyiarkan pertandingan.

Dengan kualitas tim Divisi I seperti itu, siapa yang mau menyaksikan pertandingan. Nyaris tidak ada media cetak yang mau melakukan liputan, padahal berapa anggaran negara yang dipakai untuk itu.

Berulangkali kita sampaikan, persoalan pada pembinaan olahraga kita adalah pada sisi manajemen. Termasuk sepak bola yang menjadi masalah adalah buruknya manajemen di klub. Langkah yang harus ditempuh adalah membuat satu klub yang bisa dijadikan model oleh klub-klub lain.

Kita bersyukur ada orang seperti Glen Sugita yang mau menangani Persib Bandung atau Peter Tanuri yang menangani Pusam Gelora Dewata. Namun tetap dibutuhkan waktu untuk membuat mereka berhasil membina klub agar lebih profesional.

Kalau klub sudah profesional, maka juara bukan sekadar tujuan. Juara itu harus dicapai melalui pembinaan bukan dengan membeli kemenangan.

Sekarang ini juara menjadi tujuan. Bertemu dengan kepentingan pengurus yang sekadar mencari hidup, maka jadilah kompetisi yang bisa diatur. Siapa yang punya anggaran lebih untuk juara, maka dialah yang akan bisa menjadi juara.

Semangat kompetisi yang ke depan harus kita bangunkan. Semua harus dipacu untuk meraih prestasi tertinggi melalui kerja keras. Bahkan harus menerapkan sport science apabila ingin menjadi juara sejati.


(RIZ)

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%
Jelang Chelsea vs Barcelona

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%

1 hour Ago

Pelatih Chelsea Antonio Conte tidak memungkiri bahwa laga melawan Barcelona akan jadi laga yang…

BERITA LAINNYA
Video /