Ayo Kerja vs Realita PHK

Coki Lubis    •    19 Agustus 2015 02:07 WIB
hut ke-70 ri
Ayo Kerja vs Realita PHK
Presiden Jokowi (berkemeja putih) ketika mencanangkan Gerakan Ayo Kerja di Titik Nol Indonesia. (foto: Antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ayo Kerja yang merupakan tema peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 RI mendapat perhatian khalayak hingga sempat menjadi trending topic. Seperti biasa, ada netizen yang menanggapi positif, namun tak sedikit yang menyebut gerakan yang Presiden Jokowi canangkan itu masih jauh panggang dari api.

Presiden Joko Widodo sebagai top influencer isu Gerakan Ayo Kerja banyak dihujani pertanyaan. Masyarakat memahami Gerakan Ayo Kerja sebagai bekerja untuk mendapatkan nafkah sehingga bisa memenuhi kebutuhan. Bekerja = mata pencaharian.

Di dalam konteks tersebut maka Gerakan Ayo Kerja berhadapan dengan realitas terjadinya PHK di sejumlah daerah. Setidaknya ada 30 ribu lebih pekerja dirumahkan akibat perusahaan tempat mereka bekerja mengakhiri atau mengurangi produksi seiring pelambatan ekononomi.

Menjadi ironis sebab bersamaan itu tersiar kabar 'impor' pekerja dari daratan Tiongkok. Ribuan orang pekerja itu menjadi salah satu syarat yang Tiongkok ajukan untuk menggarap berbagai proyek infrastruktur vital yang sedang dikebut pemerintahan Jokowi-JK. 

Artinya di sana jumlah lapangan kerja menyusut, ada potensi lapangan kerja baru yang tertutup bagi tenaga kerja lokal. Ayo kerja! Kerja apa? 

Namun demikian sebenarnya netizen yang mengkritik tahu benar bahwa yang dimaksud Gerakan Ayo Kerja adalah semangat gotong royong membangun negeri. Cakupannya lebih dalam dari sebatas kerja sebagai mata pencaharian. 

Selama belum ada reaksi konkrit dari pemerintah tentang 'kerja apa?' yang ditanyakan, selama itu pula kritik -bahkan sinisme- terhadap Ayo Kerja akan selalu ada. Boleh jadi gerakan yang Presiden Jokowi canangkan di Titik Nol Kilometer itu dipandang sekedar jargon belaka. 

Kritik, sindiran, kenyinyiran atau apalah istilahnya, sepatutnya ditanggapi positif. Selain dengan penjelasan yang masuk akal -bukan janji yang menggampangkan masalah, apologia karena belum genap setahun memerintah, apologia bahwa negara lain juga sedang tiara ekonominya atau pengakuan basa-basi bahwa banyak yang belum tercapai- rakyat butuh aksi nyata. Menghapus mereka dari jaringan pertemanan di media sosial tak lebih aksi lari dari kenyataan.  

Buka lapangan kerja baru. Beri kemudahan kepada UMKM. Dorong munculnya pengusaha-pengusaha baru. Beri nafas kepada dunia usaha yang sedang kembang-kempis bertahan hidup. Lindungi produk dalam negeri. Hargai kerja keras petani dan nelayan. Turunkan harga-harga barang.

Terlebih dalam hitungan bulan komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN akan berlaku. Produk dari seluruh negara ASEAN -dan made in China tentunya- leluasa masuk pasar Indonesia yang gurih. Seleluasa itu pula pekerja dari segala penjuru ASEAN mengisi lapangan kerja di luasnya NKRI.   

Betul sekali produk made in Indonesia akan leluasa memasuki pasar-pasar seluruh Asia Tenggara. Betul sekali lulusan sekolah dan peguruan tinggi Indonesia berkesempatan berkerja di berbagai negara anggota ASEAN. Tapi sesiap apakah Indonesia sebetulnya?

Kabinet sudah pula disusun ulang. Darah baru disuntikan ke dalam tim ekonomi. Segeralah para punggawa negeri menjadi pelopor Gerakan Ayo Kerja. Bergotongroyonglah presiden, wapres, menko dan menteri memperbaiki 

Paling tidak, dengan semangat hari kemerdekaan dan keinginan memiliki negara yang sejahtera, kita tidak lagi sekadar tinggal di rumah yang sama. Kita bergotong royong membangun dan memperbaiki rumah yang sama-sama ditinggali demi kesejahteraan bersama. 

Ayo Kerja!


(LHE)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

2 days Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /