Proyek Pembangkit Listrik Tanah Air Dipenuhi Pekerja Asing

Eko Nordiansyah    •    19 Agustus 2015 19:40 WIB
proyek 35.000 mw
Proyek Pembangkit Listrik Tanah Air Dipenuhi Pekerja Asing
Ilustrasi pembangkit listrik. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Proyek pembangunan pembangkit listrik 35 ribu Mega Watt (MW) membawa dampak positif terhadap pembangunan ekonomi. Namun sayangnya, pengerjaan proyek yang dibantu swasta tersebut banyak disesaki oleh pekerja asing.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Bidang Infrastruktur, Zulnahar Usman mengatakan, pekerja asing yang masuk ke Indonesia sebenarnya diperbolehkan asal pekerja asing tersebut bekerja pada level atas dengan keahlian tertentu. Sedangkan kenyataannya, para pekerja asing itu malah justru menjadi tenaga kerja pada level bawah proyek.

"Mereka masuk harusnya ke level strategis, misalnya mereka bawa investasi, mereka masuk ke direktur finance. Tapi kenyataannya banyak pekerja lapangan," ujar Zulnahar ditemui di kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jalan Pattimura No 20, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2015).

Menurut dia, para pekerja asing ini biasanya merupakan peralihan dari pekerja yang sebelumnya bekerja di sektor pertambangan, kemudian beralih ke proyek pembangunan pembangkit listrik. "Mereka masuk dari sektor tambang ke pembangkit karena tahu pemerintah butuh pembangkit. Mereka masukkan tenaga kerja asing," paparnya.

Meski tidak mempunyai angka pasti, namun Zulnahar memperkirakan jumlah pekerja asing ini mencapai lebih dari ribuan orang dan tersebar di titik proyek pengerjaan pembangkit listrik seperti Bali, Kalimantan, dan Sumatera.

Maka itu, agar pekerja asing tak semakin dominan dalam proyek pengerjaan pembangunan pembangkit listrik, Zulnahar meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan lebih ketat. Selain itu, dia juga meminta agar ada koordinasi yang lebih baik antara Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dengan Dinas Tenaga Kerja yang ada di daerah.

"Jadi mereka masuk diurus biro jasa mereka. Kalau memang masuk secara legal harusnya mereka masuk sistem di Kemenaker. Memang sudah agak berkurang karena kita sudah lapor ke Kemenaker. Tapi tetap harus ada pengawasan," tutup Zulnahar.

 


(SAW)

Rekam Jejak Indonesia di Piala Asia U-16
Timnas U-16

Rekam Jejak Indonesia di Piala Asia U-16

18 hours Ago

Terhitung dari 17 kali penyelenggaraan yang sudah berlangsung. Indonesia hanya mampu lolos ke p…

BERITA LAINNYA
Video /