Ahok: Cerita Kampung Pulo Bisa Jadi Sinetron

LB Ciputri Hutabarat    •    20 Agustus 2015 19:42 WIB
penggusuran kampung pulo
Ahok: Cerita Kampung Pulo Bisa Jadi Sinetron
Spanduk terpasang di Kampung Pulo sebagai bentuk ptotes terhadap penggusuran. (Foto: MI/Galih)

Metrotvnews.com, Jakarta: Proses negosiasi hingga terjadi penggusuran di Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, bisa menjadi materi sinetron. Penggusuran itu memiliki alur cerita yang menarik untuk dikupas.
 
Gubernur DKI Jakarta Basuki 'Ahok' Tjahja Purnama mengatakan, sudah banyak tarik ulur sampai akhirnya pemaksaan relokasi terjadi. Ahok bercerita, warga paham tempat tinggal mereka kerap kali banjir. Negosiasi pun terjadi. Saat itu, warga meminta pindah asalkan lokasinya dekat Kampung Pulo.
 
"Kita sudah tahu ini banjir, ini sudah kayak sinetron. Mereka bilang enggak mau pindah kalau jauh. Ya udah, kita korbanin gedung teknis Sudin PU Jakarta Timur. Jadilah rusun sekarang. Eh sekarang malah ramai (nolak)," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2015).
 
Ahok menjelaskan, rusun Jatinegara bukan rusun murahan. Fasilitasnya tak kalah lengkap dibandingkan apartemen mewah di Jakarta. "Bukan rusun tapi sudah seperti apartemen. Kalau dijual saya kira Rp 400 juta merem orang beli. Ada lift juga," ujar dia.
 
Pada awal pengundian, Ahok bercerita, peminat rusun Jatinegara sangat banyak. Sebanyak 429 warga mengambil kunci untuk orang pertama. Lantas apa yang membuat warga mencak-mencak saat direlokasi?
 
Ahok menduga, ada sejumlah oknum yang kebakaran jenggot karena dirinya mengganti sistem pendaftaran rusun. Sistem yang sekarang lebih ketat sehingga warga tak bisa 'main mata' soal unit rusun.
 
"Mereka pikir rusun dapat dimiliki lalu bisa jual. Makanya semua mau. Terus sistemnya saya ubah. Masuk rusun langsung didata Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil), tukar KTP dengan alamat unit rusun," katanya.
 
Warga juga diwajibkan memiliki ATM DKI dengan alamat rusun. ATM digunakan untuk bayar iuran pemeliharaan lingkungan. “Setelah itu langsung yang ambil kunci tinggal 227 orang. Yang lain enggak mau," ujar Ahok.
 
Menurut Ahok, karena alasan itulah warga tak ingin dipindahkan. Ahok mengaku tak ingin menolerir dan menunda waktu relokasi. Dia sudah mendapat pelajaran dari pendaftaran rusun Marunda lalu.
 
"Kalau saya mau nakal, saya enggak usah pindahkan KTP dulu. Masuk dulu saja kayak Marunda. Eh, langsung mereka jual. Pas kita data, yang masuk sudah bukan asli warga Kampung Pulo (nantinya). Makanya saya enggak mau toleransi lagi," katanya.


(FZN)


Video /