Program Nawacita Buruk, Kesejahteraan Masyarakat Belum Terlihat

Dian Ihsan Siregar    •    24 Agustus 2015 12:59 WIB
program jokowi-jkkesejahteraan
Program Nawacita Buruk, Kesejahteraan Masyarakat Belum Terlihat
Ekonom Indef Enny Sri Hartati (kiri) (MI/ATET DWI PRAMADIA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ekonom Indef Enny Sri Hartati menilai program Nawacita dari pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) sangatlah buruk, bahkan semakin kontradiktif. Hal itu disebabkan kinerja ekonomi pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sepanjang semester I-2015 ini belum terlihat dengan jelas.

"Kembali melambat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 bagi target kesejahteraan sosial dan ekonomi. Upah riil buruh tani turun, jumlah pengangguran dan kemiskinan yang semakin besar, jurang ketimpangan yang cenderung melebar, ‎hingga tergerusnya berbagai indikator fundamental perekonomian yang membuat gejolak ekonomi global defisit," kata Enny, ketika ditemui dalam acara konferensi pers bertajuk "Indikator Kesejahteraan Memburuk", di Kantor Pusat INDEF, Jakarta, Senin (24/8/2015).

Selain itu, lanjutnya, faktor kesejahteraan sosial dan ekonomi juga memburuk, terlihat dari Utang Luar Negeri (ULN) yang mengalami peningkatan menjadi USD304,28 miliar, atau setara Rp4.200 triliun (Rp13.000 per USD) hingga Juni 2015. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD pun semakin menurun, dan daya saing logistik infrastruktur, penyediaan energi yang semakin lemah.

Dia mempertanyakan Badan Pusat Statistik (BPS) yang biasanya secara teratur menyampaikan berbagai perkembangan indikator sosial dan ekonomi masyarakat kepada publik tiba-tiba terlambat publikasinya. Setiap tahun pada Maret, BPS melakukan survei soal ekonomi nasional dan biasanya mengumumkan hasilnya pada bulan Juni tahun yang sama.

Selanjutnya data tersebut, menurut Enny, sebagai evaluasi kinerja pemerintah yang biasanya disampaikan dalam pidato kenegaraan dan penyampaian nota keuangan. Namun, anehnya Presiden Jokowi juga seolah‎ kelupaan untuk menyampaikan capaian indikator kesejahteraan seperti tingkat kemiskinan dan pengangguran.

"Informasi dan data indikator kesejahteraan tentu sangat penting, utamanya bagi pemerintah dalam merencanakan, mengevaluasi, dan menentukan program-program guna mencapai target dan sasaran pembangunan," jelas dia.

Di samping itu, indikator kesejahteraan justru menjadi tujuan utama dari keberhasilan pembangunan. Semua kebijakan dan program pembangunan ekonomi pada akhirnya diuji dari sampai sejauh mana dampaknya‎ terhadap menurunnya kemiskinan dan pengangguran.

"Karenanya informasi dan data kemiskinan serta pengangguran sangat penting diketahui masyarakat dan pengambil kebijakan untuk menilai keberhasilan dari pembangunan itu sendiri dan juga sebagai perencanaan pembangunan ke depan," ‎keluh Enny.


(ABD)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

5 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /