Tim Transisi Menuai Masalah

Suryopratomo    •    26 Agustus 2015 19:42 WIB
liga indonesia
Tim Transisi Menuai Masalah
Kericuhan saat gelaran Piala Kemerdekaan (Dok: Madiuspos.com)

Siapa pemain dan pelatih sepak bola terbaik di dunia? Penonton. Iya penontonlah yang paling hebat, karena mereka bisa mengomentari penampilan dan taktik yang diperlihatkan pemain maupun pelatih. Penonton bisa mencela penampilan pemain sekelas Lionel Messi atau pelatih seperti Joachim Loew.

Berbagai komentar itu lebih mudah diucapkan daripada dikerjakan. Kenyataan bermain sepak bola itu tidaklah mudah. Untuk menjalankan taktik dan strategi agar memenangi pertandingan membutuhkan inteligensia dan kemampuan fisik yang prima.

Sama tidak mudahnya mengelola sepak bola. Sebagai kegiatan sosial masyarakat, begitu beragam pemahaman yang ada pada para pemangku kepentingan. Tidak mudah untuk menyelaraskan kepentingan itu dan membawa menjadi sebuah tujuan bersama membawa prestasi sepak bola di ajang dunia.

Itulah yang kini dihadapi Tim Transisi sepak bola. Orang-orang yang tidak pernah mengelola sepak bola tiba-tiba ditunjuk sebagai pihak yang bertugas membenahi sepak bola nasional. Idealisme langsung bermunculan. 
Mereka bermimpi untuk membangun persepakbolaan Indonesia yang lebih baik. Mereka merancang sebuah kompetisi yang menjadi model kompetisi yang lebih baik di Indonesia.

Turnamen Piala Kemerdekaan mereka gelar. Uang pembinaan diberikan kepada tim Divisi I yang akan ikut serta. Hadiah Rp1,5 miliar disiapkan kepada tim juara.

Idealisme memang diperlukan. Namun mencapai idealisme itu perjuangannya luar biasa. The devil is in detail. Dibutuhkan langkah kebijakan yang jelas, perangkat pelaksana yang bersih, dan konsisten dalam melaksanakannya.

Kedodoran

Kita lihat bagaimana Tim Transisi kedodoran dalam menggapai mimpinya. Sejak awal mereka dihadapkan kepada kepesertaan. Turnamen yang seharusnya dimulai 1 Agustus akhirnya mundur menjadi 15 Agustus, karena tim peserta menghadapi berbagai kendala.

Tim Transisi yang sebelumnya merasa begitu mudah untuk mendapatkan sponsor dan kontrak dari televisi ternyata tidak mendapat respons yang memadai. Hingga saat terakhir, Tim Transisi harus meminta TVRI membantu mempublikasi kompetisi yang digelar.

Sampai 10 hari turnamen berjalan, liputan media pun sangatlah minimal. Masyarakat tidak merespons secara positif pertandingan yang dikatakan sebagai angin segar persepakbolaan Indonesia tersebut.

Semua itu terpulang dari kualitas pertandingan yang disajikan. Kalau petandingan masih ditandai dengan adu jotos dan penganiayaan terhadap wasit, apa yang lalu akan dibanggakan dari pertandingan yang disajikan.

Kondisi semakin tidak menentu ketika perangkat pertandingan tidak dipersiapkan secara baik. Komisi Disiplin ternyata tidak dimiliki oleh Tim Transisi. Akibatnya berbagai kericuhan di tengah lapangan tidak terselesaikan dan tidak ada sanksi yang bisa dijatuhkan. Tim Transisi berdalih tidak ada laporan pengawas pertandingan. Kalau rekaman pertandingan pun tidak dimiliki Tim Transisi bagaimana lalu akan memberi tindakan.

Padahal putusan tersebut diperlukan karena akan menentukan pertandingan berikutnya. Pemain yang melakukan pelanggaran berat di lapangan harus dikenai sanksi dan tidak diperkenankan untuk ikut dalam beberapa pertandingan berikutnya. Kalau keputusan sanksi terlambat diberikan, maka tim yang memainkan pemain yang tidak sah, terancam dianulir hasil pertandingan yang mereka mainkan.

Dengan sikap yang amatiran dari Tim Transisi lalu apa yang bisa diharapkan bagi perbaikan pembinaan sepak bola di Tanah Air. Bukankah pengorganisasian turnamen yang amburadul ini justru menjadi contoh buruk pengelolaan sepak bola Indonesia?

Belum lagi ini muncul tuduhan adanya penngaturan skor dalam pertandingan di Piala Kemerdekaan. Adalah pelatih Persipur Purwadadi Gunawan yang melemparkan tuduhan adanya suap dalam pertandingan yang digelar Tim Transisi.

Gunawan adalah orang yang sebelumnya mengaku pernah ditawari untuk mengatur skor pada masa lalu. Tuduhan Gunawan itulah yang membuat Menpora Imam Nahrawi berani mengatakan ada mafia di PSSI dan itulah yang semakin membulatkan sikapnya untuk membekukan PSSI.

Menpora sesumbar bahwa turnamen kali ini akan steril dari suap menyuap. Bahkan meminta semua telepon peserta turnamen didaftarkan agar bisa dipantau apabila ada kecurangan yang dilakukan. Ternyata isu suap berembus juga di turnamen Piala Kemerdekaan.

Akar Persoalan

Pertanyaannya, mengapa hal seperti ini tetap terjadi, meski turnamen katanya dilaksanakan oleh orang-orang yang memiliki integritas? Jawabannya, karena baik Menpora maupun Tim Transisi tidak mengetahui akar persoalan dan terlalu menggampangkan masalah.

Seperti dikatakan di awal tulisan ini, sepak bola adalah permainan bagi orang yang memiliki inteligensia tinggi dan fisik yang prima. Tahun 1956 kita memiliki tim nasional yang bisa dibanggakan karena pemain seperti Kiat Sek adalah mahasiswa kedokteran gigi, Maladi adalah sarjana yang kemudian menjadi menteri, Maulwi Saelan adalah seorang perwira militer.

Pada era 1970-an para pemain sepak bola kita mengecap pendidikan tinggi. Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany adalah pemain yang tidak melupakan pendidikan sekolah dan sampai ke perguruan tinggi.

Dengan pemain yang memiliki inteligensia tinggi maka kepercayaan dirinya juga tinggi. Ia bisa menerjemahkan taktis dan strategi pelatih serta mengembangkannya sesuatu dengan situasi pertandingan di lapangan.

Sekarang para pemain sepak bola kita pendidikannya secara rata-rata tidak tinggi. Arahan yang diberikan pelatih juga hanya sekadar menang, tanpa jelas bagaimana cara meraih kemenangan itu. Ditambah dengan ketidakdisiplinan, membuat fisik tidak terjaga.

Dengan kondisi fisik yang pas-pasan, tidak usah heran apabila mereka hanya sanggup bermain baik pada satu pertandingan saja. Setelah itu kondisi fisik tidak lagi menunjang, akibatnya emosi tidak bisa lagi terkontrol.

Ke depan kita akan semakin melihat kericuhan di tengah lapangan karena semua tim hanya berorientasi juara tanpa mendapat dukungan fisik yang memadai. Apalagi aturan turnamen tidak jelas, sehingga membuat pemain merasa tidak lagi diawasi oleh peraturan permainan.

Pembenahan Menyeluruh

Dengan fakta-fakta seperti sekarang, saya kembali kepada usul yang sudah berulangkali disampaikan pada kolom ini. Pembenahan sepak bola nasional harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak bisa hanya pada kepengurusan PSSI.

Sepak bola Indonesia membutuhkan sentuhan manajemen yang benar. Kita harus menarik orang-orang yang memiliki kepemimpinan yang kuat, kemampuan manajerial yang baik, pengetahuan sepak bola yang mencukupi, 
dan kecintaan kepada sepak bola yang tinggi.

Kita harus mempunyai model yang bisa dijadikan contoh. Untuk itulah kita beruntung memiliki seorang profesional seperti Joko Driyono yang tahu bagaimana mengelola organisasi dengan baik dan benar, enterpreneur seperti Glen Sugita dan Peter Tanuri yang mau mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang untuk membenahi sepak bola.

Glen Sugita yang memimpin Persib Bandung tidak tiba-tiba bisa membenahi klub tersebut. Dua tahun pertama ketika ia hanya memberikan dana investasi, Persib tidak menjadi klub profesional seperti yang ia mimpikan. 

Baru ketika ia memimpin langsung klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu, Persib bisa menjadi juara dan pengelolaan klub lebih tertata.

Kita membutuhkan Glen Sugita yang lebih berhasil menangani klub. Keberhasilan itulah yang diharapkan bisa menular ke klub-klub yang lain. Baru dengan itulah kita akan bisa menata pembinaan sepak bola yang benar.

Kita harus menciptakan suasana di mana klub juara itu adalah klub yang penanganan lebih profesional dan prestasinya paling stabil. Bukan siapa yang memiliki anggaran besar dan memiliki agenda sekadar menjadi juara tanpa peduli bagaimana gelar itu diraih.

Secara bersamaan kita mendorong tumbuhnya PSSI yang lebih profesional. PSSI harus menjadi korporasi bukan kumpulan dari orang-orang yang hanya mengejar panggung dan mencari nama.

Pemerintah harus hadir untuk mendorong munculnya suasana yang menyejukkan bagi pembinaan yang lebih sehat. Bukan orang-orang yang membangun olahraga dengan kebencian dan sekadar menjadikan sepak bola sebagai permainannya.

Turnamen Piala Kemerdekaan seharusnya membuka kesadaran Menpora bahwa pendekatan yang dilakukan sekarang ini keliru. Kita bukan sedang membenahi sepak bola nasional, tetapi semakin memurukkannya.


(RIZ)

Jadwal Pertandingan Babak 16 Besar Liga Champions 2017--2018
Undian Babak 16 Besar Liga Champions 2017--2018

Jadwal Pertandingan Babak 16 Besar Liga Champions 2017--2018

1 hour Ago

Laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions akan digelar pada 13-14 dan 20-21 Februari 2018.…

BERITA LAINNYA
Video /