Festival Arkipel

'Harimau Minahasa,' Bukan tentang Harimau

Putu Radar Bahurekso    •    30 Agustus 2015 16:20 WIB
kultur
'Harimau Minahasa,' Bukan tentang Harimau
Harimau Minahasa (Foto:Arkipel)

Metrotvnews.com, Jakarta: Harimau Minahasa adalah sebuah film dokumenter yang diputar pada Festival Arkipel. Film yang dibuat oleh Andang Kelana dan Syaiful Anwar ini diputar perdana pada Jumat, 28 Agustus 2015.

Harimau Minahasa bercerita tentang seorang pemuda keturunan Jawa bernama Budiono, atau biasa dipanggil Ateng.

Ateng adalah seorang buruh tani yang bekerja di perkebunan pala di desa Treman, Minahasa Utara. Sehari-hari dia bekerja membantu orang tua, mengurus kebun, angsa, dan babi.

Film ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari Ateng yang berhadapan dengan realitas yang dia temui setiap hari. Mulai dari bekerja, mengobrol, mengopi, dan kegiatan sosial lain.

Ateng juga menceritakan tentang kisah hidupnya. Bagaimana dia mulai merantau pada awalnya, bagaimana keadaan keluarganya, dan bagaimana hingga dia menetap di Minahasa pada akhirnya.

Ateng adalah sebuah subjek penggambaran yang dibuat oleh film ini yang menggambarkan bagaimana perasaan seorang perantau berpindah tempat untuk kehidupan lebih baik.

Mungkin mendengar judul filmnya, Anda membayangkan akan melihat sosok harimau. Anda salah. Tidak ada satu pun adegan mengenai harimau atau binatang sejenis harimau yang dimunculkan dalam film ini.

"Film ini ya memang enggak ada harimau-harimaunya sama sekali. Ini film tentang kehidupan sehari-hari si Ateng itu," jelas Andang Kalana, salah satu pembuat film.

Film ini adalah sebuah film yang secara tidak sengaja dan kebetulan dibuat oleh tim pembuatnya saat berkunjung ke Minahasa.

"Awalnya, kita mau bikin tentang film dokementer riset, khususnya tentang pala. Karena pala kan salah satu tanaman ciri khas yang ada di Indonesia. Tapi kita sempat diusir dan enggak dipercaya waktu mau buat film, karena waktu itu situasinya lagi pilkada di sana. Lagi pula kalau cuma wawancara-wawancara saja kan bosan juga," beber Andang.

"Setelah beberapa hari, kita enggak sengaja ketemu si Ateng ini. Dia petani pala yang bekerja di kebun milik orang lain. Karena menurut kita, dia orangnya cukup unik, aneh, dan asyik, ya sudah kita ubah segala konsep awal kita. Kemudian, kita bikin film tentang si Ateng ini," lanjutnya.

Harimau adalah hewan yang bukan khas Minahasa. "Harimau" dalam judul film ini merupakan penggambaran tentang Ateng yang merupakan seorang keturunan Jawa. Ide judul berasal dari salah satu adegan dalam film.

"Kita dapat ide namain film ini 'Harimau Minahasa,' ya dari si Ateng. Kita lihat ada adegan si Ateng kesurupan dan bertingkah kayak harimau. Nah, pas ditanya, dia bilang kalau dulu kakeknya sempat pelihara Harimau," jelas Andang.

Bisa dikatakan bahwa kata "Harimau" dalam film ini merupakan sebuah kesalahan peletakan atau pemaknaan yang disengaja oleh para pembuat film.


(ROS)


Video /