Sayembara Penataan Kompleks Parlemen Harus Sukses

Kesturi Haryunani    •    01 September 2015 12:17 WIB
dpr ads
Sayembara Penataan Kompleks Parlemen Harus Sukses
dok. DPR

Metrotvnews.com, Jakarta: Sayembara penataan komplek parlemen harus sukses, karena ini adalah upaya meletakkan blue print (cetak biru) menuju masa depan.

"Ini adalah keberlanjutan dari proses kita membangun pilar-pilar bernegara dan pilar demokrasi. Di level pimpinan tidak ada keraguan, bahwa proses ini harus berjalan terus karena tidak mungkin kita membiarkan anomali kondisi kita menjadi tertawaan orang," kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat memimpin rapat Tim Implementasi Reformasi DPR dengan Ikatan Arsitek Indonesia beserta tokoh senior IAI di Jakarta, Senin (31/8/2015).

Menurut Fahri, transformasi luar biasa terjadi sejak 17 tahun lalu. Ada demokrasi di Indonesia dan lahirlah empat kali amandemen UUD 45, yang secara jelas menyebutkan bahwa kekuasaan Presiden dirampas rakyat melalui penguatan Dewan.

"Maka mustahil Dewan tidak berubah," tegasnya.

Kalau dulu 450 anggota DPR tidak punya staf, ibarat orang baru kawin berdua, kamarnya hanya 2x4 meter. Sekarang dengan Keppres tentang Badan Kajian, maka seorang anggota punya tujuh staf.

"Jadi sekarang sudah punya tujuh anak, masak masih mau tidur di tempat yang sama. Itu pemikiran sederhananya. Buat pimpinan, tim maupun BURT tidak ada masalah. Mungkin ada hal-hal yang perlu didiskusikan, sebab presentasi kali ini akan kita buka ke publik," katanya.

Sesusai penjelasan Pengurus IAI, pada 7 September ini peserta memasukkan karya sayembara arsitektur DPR dan nanti akan dinilai dewan juri. Lalu pada 14 September akan dilihat wujud arsitekturnya seperti apa.

Muhidin M Said dari FPG menilai, komunikasi dengan masayarakat tentang penataan kawasan parlemen merupakan hal penting. Upaya yang dilakukan tim, seperti sayembara, belum ditangkap oleh masyarakat.

Sebaiknya rencana ini disolidkan di tingkat fraksi. "Bagaimana mampu meyakinkan teman-teman sehingga bisa diterima masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Darul Siska selaku tim Ketua DPR menyatakan abhwa yang dilihat masyarakat sekarang adalah saat ekonomi susah kok DPR bangun gedung. Hal ini telah terjadi sejak 2008.

Pada 2009, Ketua DPR Marzuki Alie tidak mau bikin sayembara. Sehingga sampai 2014 tidak ada gerakan apa-apa.

"Kalau sayembara sekarang tidak jadi, maka empat tahun ke depan DPR tidak bisa bikin apa-apa. Menurut saya, yakinkan masyarakat dan media dengan mengkrongkitkan latar belakang penataan kompleks Senayan dengan dikemas bahasa yang bagus. Termasuk road show ke media," katanya.

DPR sekarang, kata Darul Siska, akan menghadapi musibah besar kalau penumpang (penghuni) di gedung Nusantara I tidak dikurangi. Sebab kapasitasnya 800 orang, kini dihuni 3.400 orang.

Sedangkan Wakil Ketua BURT Agung Budi Santoso menyatakan, rakyat harus mengerti mengapa DPR perlu melakukan penataan komplek parlemen Senayan. Karena seringkali informasi yang diterima masyarakat salah, seperti masalah kasur dan pewangi yang memakan anggaran terlalu besar.

"Mungkin pihak kehumasan perlu lebih giat lagi memberitakan hal ini dengan lebih kuat dan berani. Dewan membangun bukan untuk DPR sendiri, tetapi untuk kepentingan bangsa Indonesia semuanya," ujarnya.


(NIN)