Butuh Rp77 Triliun Garap Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Suci Sedya Utami    •    04 September 2015 07:55 WIB
kereta cepat
Butuh Rp77 Triliun Garap Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Kereta cepat. (Ilustrasi FOTO: Grafis MI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Skema business to business (B-to-B) telah dipilih untuk pembangunan proyek high speed train (HST) atau kereta cepat Jakarta-Bandung. Nantinya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan bertindak sebagai pemegang proyek.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menjelaskan dengan skema B-to-B, BUMN bebas untuk menggarap proyek tersebut baik dengan kekuatan sendiri atau menggandeng pihak swasta. Pemerintah hanya bertindak sebagai regulator.

"Biarkan saja dunia usaha yang bangun, mau dibikin kereta cepat, setengah cepat, seperempat cepat, atau tidak cepat, terserah. Mau BUMN sendiri atau BUMN mau patungan dengan siapa juga boleh," kata Jonan di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2015) malam.

Lantas jika BUMN yang menggarapnya, berapa investasi yang dibutuhkan untuk membangun kereta cepat Jakarta-Bandung? Asal tahu saja, sebelumnya Kementerian BUMN telah sepakat untuk menandatangani nota kesepahaman (MoU) proyek kereta cepat dengan delegasi Tiongkok.

Dalam dokumen MoU tersebut, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia menunjuk konsorsium BUMN yang dipimpin oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk untuk melakukan studi. Konsorsium ini juga beranggotakan PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT LEN (Persero), PT Industri Kereta Api (INKA), dan juga PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Pemerintah Tiongkok juga telah menunjuk konsorsium China Railway untuk bekerja bersama konsorsium Indonesia untuk menggarap proyek ini. Konsorsium Cina ini beranggotakan China Railway International Co. Ltd., China Railway Group Limited, Sinohydro Cororation Limited,  The Third Railway Surrey and Design Institute Group Corporation, China Academy of Railway Sciences, CSR Corporation Ltd., dan China Railway Signal and Communication Corp.

Tiongkok menawarkan nilai investasi sebesar USD5,5 miliar atau setara dengan Rp77 triliun (kurs Rp14.000) dengan skema investasi 40 persen kepemilikan Tiongkok dan 60 persen kepemilikan lokal, yang berasal dari konsorsium delapan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Adapun dari estimasi investasi tersebut, sekitar 25 persen akan didanai menggunakan modal bersama dan sisanya berasal dari pinjaman dengan tenor 40 tahun dan bunga dua persen per tahun. Selain itu, Tiongkok menjamin pembangunan ini tak menguras dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.


(AHL)

Infografik: Adu Tajam Ronaldo vs Kane

Infografik: Adu Tajam Ronaldo vs Kane

1 hour Ago

Ronaldo dan Kane sama-sama mencetak 43 gol sepanjang 2017. Siapakah yang lebih tajam di antara …

BERITA LAINNYA
Video /