Calon Haji Ini Bingung, Salat, Lalu Ketemu Sahabat

   •    04 September 2015 15:01 WIB
haji 2015
Calon Haji Ini Bingung, Salat, Lalu Ketemu Sahabat
Makku Lawu tengah berdoa di Masjidil Haram. Foto: MCH.

Metrotvnews.com, Mekkah: Namanya Makku Lawu (55). Jemaah calon haji asal Poso, Sulawesi Tengah, ini berprofesi sebagai petani kakao. Uang hasil bertaninya itu sedikit demi sedikit ditabung untuk menggapai mimpinya: berhaji di Tanah Suci.

Rabu (3/9/2015), jam menunjukan pukul 19.00 waktu Arab Saudi (WAS), saat Makku tiba-tiba mendekati tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Mekkah untuk bertanya ke arah mana dia harus pulang. Saat itu, MCH sedang berkumpul di Bab Marwah bersama para petugas Sektor Khusus Masjidil Haram untuk bersedekah raga dan tenaga jika ada jemaah haji Indonesia yang memerlukan bantuan. 

“Maaf pak, saya mau nanya arah pulang ke pemondokan saya lewat mana ya?” katanya. Ditanya apakah membawa kartu nomor pemondokannya, Makku menunjukan kertas terlaminating rapih yang didalamnya tertulis angka 911. Dari situ diketahui kalau Makku tinggal di Sektor IX rumah nomor 911, daerah Misfalah.

“Oooh, Bapak tinggal di daerah Misfalah. Bapak akan kami antar ke Terminal Jiyad, di belakang Tower Zamzam. Nanti di sana ada petugas yang akan membantu Bapak untuk pulang ke pemondokan 911 dengan bus shalawat,” terang tim MCH.

Semburat kelegaan nampak dari wajahnya seketika dia tahu kalau sudah ada kejelasan arah dan alamat pulang ke pemondokannya. Bersama tim MCH, Makku menyusuri arah pulang, dari Bab Marwah menuju Terminal Jiyad.

Melalui pintu 17 Bab Ali, Makku mengikuti tim MCH menyeberang jalur Shafa dan Marwah menuju lantai dua Masjidil Haram. Dari situ, mereka belok kanan menuju Bab Malik Abdul Aziz. Malam itu, lantai dua Haram terlihat dipadati jemaah haji yang mulai berdatangan untuk Isya berjemaah. Mathaf juga nampak sangat padat oleh jemaah yang sedang thawaf, mengelilingi Kabah. 

Karena kawasan Bab Malik Abdul Aziz sedang dilakukan renovasi, maka lantai dua Masjidil Haram tidak bisa dilalui semua. Jemaah yang akan menuju kawasan Zamzam Tower diarahkan untuk melalui Bab Malik Fahd atau ke Bab Hijrah yang menghubungkan dengan masjid baru yang juga sudah mulai dibuka. 

Karena Mathaf sedang padat, Tim MCH dan Makku memilih jalur Bab Hijrah memasuki bangunan baru Masjidil Haram lalu ke luar melalui pintu yang berhadapan langsung dengan Hotel Dar el-Tawhid.

Sepanjang jalan, Makku berkisah tentang pengalamannya hari itu. “Saya berangkat dari pemondokan ke Masjidil Haram bersama kawan saya dan beberapa jemaah lainnya untuk Ashar berjamaah. Saat itu, kami terus bersama," jelas Makku.

Hingga sekitar pukul 16.30 WAS, setelah Ashar berjemaah, Makku terpisah dengan teman-temannya dalam sebuah kerumunan. Sejak itu, Makku terus mencari dan mencari, berharap bertemu kawan atau jemaah lain yang mempunyai penanda sama, kain berwarna biru yang diikat pada bagian lehernya.

Pencarian dilakukan hingga Makku sampai di pintu 17 Bab Ali,  salah satu pintu pada sisi kanan jalur Shafa – Marwah (Mas’a). Langkahnya terhenti di situ untuk salat berjemaah karena iqamah Maghrib sudah berkumandang. Setelah Maghrib berjemaah, Makku salat sunnah dua rakaat lalu berdoa, berharap bertemu kawan yang bisa memberitahu arah jalan pulang ke pemondokan. “Setelah Maghrib, saya salat dan berdoa berharap ada jalan untuk bisa segera pulang ke pemondokan,” tuturnya.

“Keluar dari pintu itu (jarinya menunjuk arah Bab Ali), saya melihat Bapak-Bapak yang berpakaian petugas. Jadi saya lega karena bertemu kawan untuk bertanya,” kata Makku dengan muka bahagia.  

Sejak kedatangan jemaah haji Indonesia di Makkah, petugas haji Daker Makkah ditempatkan di sejumlah titik di Masjidil Haram. Sedikitnya ada lima titik: depan Tower Zamzam, depan Dar El-Tauhid, Mathaf, Bab Marwa, dan Sektor Khusus Masjidil Haram.

Makku mengaku kalau dia membawa handphone dan sudah menghubungi temannya di pemondokan. Oleh kawannya, dia diminta menuju Zamzam Tower yang menjadi tempat berkumpul sebelum bersama-sama berjalan ke Terminal Jiyad. Sayangnya, Makku yang Rabu pagi itu baru sampai di Makkah mengaku belum sempat mengenali wilayah barunya hingga belum tahu ke mana arah yang semestinya jika akan ke Zamzam Tower.

Makku juga bercerita kalau keluarganya di Poso terus meneleponnya, memastikan kalau dia sudah tahu arah jalan pulang. Keluarga khawatir dan karenanya menambah gelisah Makku dalam usahanya mencari tahu ke mana dia harus menuju. Apalagi, hajat ke kamar kecil juga sudah mulai mengganggu. Semua itu Makku tahan untuk terus mencari tahu ke mana arah pemondokan yang harus dituju.

“Maklum Pak, saya hanya sampai kelas 3 SD sekolahnya,” katanya tiba-tiba seakan ingin meminta permakluman soal ketidaktahuannya akan arah menuju pulang ke pemondokan.  

“Ga apa-apa Pak. Hal yang sama juga dialami banyak jemaah lainnya, dan itu wajar karena kita kan di tempat yang baru. Apalagi Bapak baru sampai dari Madinah,” kata tim MCH membesarkan hatinya.

Bingung dengan kondisi dan situasi yang baru sejatinya hal yang wajar dan bisa dialami oleh siapa saja. Terlebih Masjidil Haram mempunyai banyak pintu dengan model dan ukuran relatif  sama. Ditambah lagi suasana hiruk pikuk ribuan orang yang sedang asyik masyuk beribadah di berbagai tempat dan sudut. 

Potensi kebingungan membesar karena kebiasaan sebagian jemaah Indonesia yang sering terburu-buru ingin ke Masjidil Haram, meski baru datang dari Madinah atau Jeddah, dan belum sempat melakukan orientasi untuk tempatnya yang baru. 
Karenanya, kebanyakan dari mereka yang mengalami hal sama dengan Makku adalah jemaah yang juga baru sampai di Makkah Al-Mukarramah. Setelah melakukan orientasi selama beberapa hari, biasanya mereka akan lebih mengenal wilayah Haram dan karenanya sudah bisa pulang pergi dari pemondokan ke Haram sendiri.

Makku ingin anak-anaknya bisa sekolah sampai jenjang lebih tinggi. “Kalau anak saya tidak mau sekolah, saya pukul Pak,” kisahnya menunjukan betapa besar keinginanya agar ketiga anaknya bisa mendapat pendidikan lebih tinggi. “Alhamdulillah, anak pertama saya polisi, yang kedua suster, dan yang ketiga baru lulus SMA,” kisahnya lagi.

“Menjadi petani mungkin uangnya banyak, tapi sepatunya berkarat. Kalau pegawai sepatunya mengkilat,” tambahnya menggambarkan besarnya keinginan Makku agar anak-anaknya bisa menjadi pegawai, meski dia adalah seorang petani.

Malam itu Haram sangat padat, terlebih perjalanan tim MCH dan Makku ke terminal Jiyad menjelang waktu Isya. Halaman Masjidil Haram dipenuhi jemaah hingga akses untuk jalan juga cukup susah. Cuaca malam itu juga cukup hangat, berkisar antara 33 – 38 derajat. Sampai di pertigaan jalan yang mengarah ke Sektor Khusus dan Misfalah, azan Isya berkumandang. Makku dan tim MCH bergegas menuju khammaamat (toilet) untuk membuang hajat yang lama tertahan, berwudlu, lalu kembali ke halaman Haram. Tidak lama kemudian, iqamah terdengar. Makku, Tim MCH, dan ratusan ribu jemaah lainnya membentuk barisan pada tempat terakhir mereka berdiri untuk menghamba dalam salat kepada Ilahi Rabbi.

Selesai Isya berjamaah, Makku dan Tim MCH melanjutkan jalannya menuju Zamzam Tower, tentu dalam suasana yang sangat padat. Perlahan, melewati ribuan jemaah yang sedang melanjutkan zikirnya, Makku dan Tim MCH akhirnya sampai di depan Zamzam Tower. Maksud hati ingin melanjutkan perjalanan ke Terminal Jiyad, tapi ternyata teman-teman Makku sudah menunggu di sana untuk kembali bersama ke pemondokan dengan Bus Shalawat! 

“Terima kasih Pak. Saya sudah bisa salat di Masjidil Haram, juga sudah bertemu dengan kawan-kawan pemondokan. Sekarang saya mau pulang. Alhamdulillah!” bisiknya sembari memeluk lalu memberi salam perpisahan. Selamat beribadah haji Makku, semoga mabrur! Amin… (mch)


(DOR)

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%
Jelang Chelsea vs Barcelona

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%

16 hours Ago

Pelatih Chelsea Antonio Conte tidak memungkiri bahwa laga melawan Barcelona akan jadi laga yang…

BERITA LAINNYA
Video /