Rupiah Lemah, Kebijakan Devaluasi Tiongkok Lebih Berpengaruh Ketimbang The Fed

Eko Nordiansyah    •    07 September 2015 16:11 WIB
ekonomi indonesia
Rupiah Lemah, Kebijakan Devaluasi Tiongkok Lebih Berpengaruh Ketimbang The Fed
ilustrasi. dok: reuters

Metrotvnews.com, Jakarta: Ekonom dan Executive Director Mandiri Institute, Destry Damayanti mengatakan, pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp14.200 per USD merupakan imbas dari kebijakan ekonomi di Tiongkok. Apalagi, peluang Tiongkok melakukan devaluasi lanjutan masih terbuka.

"Kalau The Fed sebenarnya kita tidak perlu khawatir lagi. Tren ekonomi di Tiongkok kan masih terus memburuk, dia sudah beberapa kali menurunkan suku bunga dan ternyata enggak bisa mendorong ekonomi mereka," ujarnya di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Senin (7/9/2015).

Dirinya menambahkan, kondisi tersebut juga kemudian memaksa pemerintah Tiongkok untuk melakukan devaluasi yuan secara terus menerus untuk tetap mendorong ekspor Tiongkok. Padahal, sebelumnya ekonomi Tiongkok tumbuh pesat sehingga tidak ada alasan untuk devaluasi.

"Ini (devaluasi yuan) lebih berdampak bagi Indonesia dan ASEAN. Tiongkok itu jangkar ekonomi di Asia, kita face to face dengan mereka. Kalau ada pergerakan di sana, mau enggak mau kita kena. Kalau Tiongkok devaluasi terus, competitiveness Malaysia, Thailand, dan Vietnam akan berkurang. Mau enggak mau mereka ikut mendevaluasi. Saya melihat masih ada peluang devaluasi lanjutan," jelas dia.

Selain itu, orientasi ekonomi Indonesia juga mengarah ke domestik dengan impor bahan baku yang cukup tinggi untuk produksi dan konsumsi domestik. Hal inilah yang kemudian memberikan pelemahan terhadap rupiah.

"Kalau Indonesia kan ekonominya lebih berorientasi ke domestik, dan kita impor bahan baku tinggi sekali. Pelemahan rupiah akan lebih memukul ekonomi domestik kita, 76 persen impor kita adalah bahan baku untuk produksi dan konsumsi domestik," pungkasnya. 


(SAW)

Video /