Kejaksaan Tinggi Ajukan Kasasi Kasus JIS

Wandi Yusuf    •    09 September 2015 21:41 WIB
jis
Kejaksaan Tinggi Ajukan Kasasi Kasus JIS
Dua guru JIS, Neil Bantleman dan Ferdinant Tjong, yang dibebaskan. Foto: Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mengajukan kasasi perkara tuduhan pelecehan seksual oleh dua guru Jakarta International School (JIS). Kejati DKI telah mengajukan upaya hukum kasasi tertanggal 21 Agustus. Jaksa juga telah menyerahkan memori kasasi pada 2 September lalu.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, M. Adi Toegarisman menegaskan pengajuan kasasi dan memori kasasi didasari sejumlah pertimbangan.

"Kami sudah mempelajari putusan pengadilan tinggi itu. Jadi ada delapan catatan dan ada syarat kekeliruan. Untuk itu kami ajukan upaya hukum kasasi," tegasnya, dalam keterangan pers, Rabu (9/9/2015).‎ Menurut Adi, putusan PN Jakarta Selatan telah berkualitas dan mengarah rasa keadilan.

Seperti diketahui, pada Jumat, 14 Agustus, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta membebaskan dua guru JIS, Neil Bantleman dan Ferdinant Tjong, dari semua tuduhan. Kedua guru SD di JIS tersebut juga telah keluar dari rumah tahanan di Cipinang.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim tingkat banding yang diketuai Silverster Djuma menilai keterangan saksi korban dalam sidang tingkat pertama di Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan bukan merupakan alat bukti. Jadi majelis tingkat pertama dinilai tidak cermat dan tidak matang dalam pembuktian.

Keputusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tersebut menyusul keputusan bebas oleh Pengadilan di Singapura. Keduanya dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak kekerasan seksual oleh pengadilan Singapura.

Sementara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan juga menolak gugatan perdata ibu siswa pelapor kasus ini kepada JIS senilai Rp1,6 triliun.

Menurut Adi Togarisman, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah menggunakan teori yang sangat memadai dan itu terbukti. Dia membantah pemberitaan yang menyatakan putusan PN Jaksel lemah.

Pada putusan PN Jakarta Selatan, dari delapan putusan yang ada, di antaranya hasil visum et repertum dari ketiga anak korban, menunjukkan adanya ciri-ciri sodomi.

Togarisman juga yakin bahwa hasil pemeriksaan seksual terdakwa menunjukkan ada kelainan seksual sebagai pedofilia inklusif. Dari keterangan ahli kedokteran forensik, kata dia, terdakwa memiliki perilaku seks menyimpang.

Dia menambahkan, keterangan dari ahli psikologi serta pemeriksaan psikologi dan konseling terhadap tiga korban mengalami tekanan psikologis. Selain itu, dia yakin peristiwa itu bukan hasil karangan atau pengaruh orang lain.

Untuk itu, Toegarisman berharap pada kasasi ini dan putusan Mahkamah Agung adil. "Harapannya putusan di MA sesuai. Saya yakin Hakim Agung akan berpihak kepada kebenaran dan keadilan," tegas Kajati.

Terpisah, Kasie Penkum Kejati DKI, Waluyo menegaskan, terdakwa dalam berkas perkara terpisah yang telah dipidana lebih dahulu yaitu Syahrial, mengetahui saksi Neil Bantleman alias Mr B/The Boss/Skeleton Guy (terdakwa dalam berkas perkara terpisah, yaitu berkas perkara No. 1237/Pid/Sus/2014/PN.Jkt.Sel), sering naik ke
ruangan konseling yang ada di lantai 2 PIE Gedung administrasi.

Saat masuk ke sana, dia kerap membawa dua orang anak kecil dan setiap masuk ruangan tersebut saksi Neil selalu menutup jendela yang ada dengan vertical blinds (semacam gorden).

Waluyo mengatakan Syahrial dan Vurgiawan Amin mengetahui terdakwa Ferdinant Michel alias Ferdinant Tjiong alias Pony Tail alias Eagles Boss atau Big Eagles membawa anak-anak kecil ke toilet Anggrek dan
berada di dalamnya selama 30 menit.

Menurut Waluyo, sesuai UU Peradilan anak, keterangan anak korban itu menjadi keterangan alat bukti dengan penguatan keputusan MK tentang perluasan alat bukti tersebut.


(UWA)

Alves tak Terkejut dengan Performa Menawan Neymar
Paris Saint-Germain vs Celtic

Alves tak Terkejut dengan Performa Menawan Neymar

12 hours Ago

Neymar berhasil menyarangkan sepasang gol ke gawang Celtic  pada menit ke-9 dan menit ke-2…

BERITA LAINNYA
Video /