Perjalanan Karya Seni Lukis Srihadi Soedarsono

Putu Radar Bahurekso    •    16 September 2015 15:52 WIB
srihadi soedarsono
Perjalanan Karya Seni Lukis Srihadi Soedarsono
Srihadi Soedarsono (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

Metrotvnews.com, Jakarta: Srihadi Soedarsono adalah seorang seniman seni lukis Indonesia yang lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 4 Desember 1931.

Sebagai seorang seniman, Srihadi sangat masyhur. Terbukti, namanya dicatat dalam International Dictionary of Professionals yang dibuat oleh The American Biographical Institute.

Bak bulir padi yang makin matang makin merunduk, walau sudah sangat senior, Srihadi tetap rendah hati. Diakuinya, saat ini karyanya masih mengalami proses metamorfosa sejak pertama kali belajar menggambar.

Pemilihan tema ketika membuat karya begitu penting bagi Srihadi karena melalui tema, dia dapat menyampaikan pesan dari karya yang dihasilkan.

"Dari pengalaman saya pribadi, penggunaan tema dalam karya merupakan suatu hal yang penting dan akan berkembang secara ilmiah. Dengan tema, kita bisa berdialog melalui karya, baik sebagai kritik sosial, kearifan lokal, maupun spiritual," tutur Srihadi pada acara Ceramah Saya dan Seni Lukis Indonesia, di Komunitas Salihata, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2015).
 
Masa Kemerdekaan

Srihadi sudah gemar menggambar sejak usia dini. Dia kerap melihat majalah yang pada masanya terdapat banyak karya seni.

"Pada waktu zaman kolonial, saya suka melihat majalah d'Orient. Di situ ada lukisan pelukis-pelukis Belanda. Kemudian, waktu zaman penjajahan Jepang, saya suka melihat majalah Jawa Baru. Di sana ada karya pelukis-pelukis Indonesia seperti Basoeki Abdullah, S.Sudjojono, Agus Djaja, dan lain-lain," ujar Srihadi.

Srihadi kemudian bergabung dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian pertahanan. Di IPI terdapat kegiatan pembuatan poster, grafiti, penulisan slogan di dinding, dan gerbong kereta api untuk membangkitkan semangat juang.


Srihadi Soedarsono (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

"Dalam kegiatan itu, saya berjumpa dengan orang yang memberitahu bahwa bagian penerangan Tentara Divisi IV Diponegoro memerlukan tenaga untuk publikasi, maka masuklah saya. Saya di sana bekerja untuk membuat dokumentasi dan sketsa karena tidak ada kamera. Saya pernah mendokumentasikan perjalanan tentara Jepang, dokumentasi para tamu Komisi Tiga Negara (KTN), dan juga pesawat VT-CLA yang ditembak jatuh oleh Belanda di Yogyakarta," kenang Srihadi.
 
Menempuh Pendidikan

Setelah tamat SMA pada 1952, Srihadi dihadapkan pada dua pilihan untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi, yakni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang berada di Yogyakarta atau Balai Pendidikan Guru Seni Rupa di Bandung.

Srihadi menjatuhkan pilihan ke Bandung, sebab dia ingin belajar banyak hal dan pengalaman baru.

"Kalau di ASRI Yogya, saya sudah banyak mengenal para pengajarnya sejak berkarya di sanggar-sanggar di Solo dan Yogya. Saya sangat berminat dengan hal baru saat belajar pendidikan formal," tutur Srihadi.

Pada saat itu, aliran seni ASRI Yogya adalah impresionisme dan ekspresionisme. Dua aliran seni tersebut sudah dipelajari Srihadi kala masih di Solo dan Yogyakarta.

Salah satu pengajarnya yakni Sudjojono yang memiliki jiwa ketok dalam melukis. Bagi Srihadi, karakter pelukis dapat dilihat dari sapuan kuas dan pilihan gaya pribadi, selain itu dia juga mengemban spirit nasionalisme dalam karyanya.

Beda dengan Balai Pendidikan Guru Seni Rupa di Bandung yang pada saat itu banyak pengajar datang dari Belanda. Pelajaran seni yang dikuliahkan dalam bentuk karya seni abstrak dan kubisme dengan spirit keterbukaan dan bersifat universal.

Pada 1954, Srihadi tinggal di Pantai Sindhu, Sanur, Bali, di Art Gallery Jimmy Pandy. Geleri Seni tersebut pernah dikunjungi tamu-tamu besar seperti Presiden Soekarno, John D. Rockefeller 3rd, dan Madame Roosseveld.

"Di Bali saya sering menggunakan esensi garis dan warna horison sebagai tema utama. Garis pantai dengan perahu, figur wanita yang bekerja mencari batu koral, selalu muncul sebagai tema dalam lukisan saya yang bergaya abstrak figuratif geometris. Kemudian, berkembang dan disusul dengan gaya ekspresionis, juga non-representational," papar Srihadi.

Pada 1960, Srihadi berkesempatan melanjutkan studi ke Ohio State University untuk mengambil gelar Master. Di sana dia berjumpa dan sempat berkarya bersama Roy Lichtenstein, pelukis Amerika yang baru mengembangkan Pop Art.
 
Mazhab Yogya dan Mazhab Bandung

Pada masa itu, dunia seni rupa terbagi dalam dua mazhab yakni Mazhab Yogya dan Mazhab Bandung yang berseteru. Perseteruan kedua mazhab ini terjadi akibat perbedaan latar belakang falsafah, perbedaan kurikulum seni rupa, dan pengaruh politik.


Srihadi Soedarsono dan istri (Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)

"Awal kehebohan perseteruan kedua mazhab ini adalah akibat munculnya beberapa komentar atau artikel yang muncul di koran dan majalah dari para kritikus seni dan budayawan," jelas suami Dra Siti Farida Nawawi.

Mazhab Bandung dengan banyak pengajarnya dan pengaruh dari Barat, condong menganut aliran abstrak dan kubisme yang diajari dengan spirit keterbukaan dan universal. Sedangkan, mazhab Yogya yang beraliran impresionisme dan ekspresionisme menganut nasionalisme dalam berkarya.

"Suatu yang ramai dipersoalkan orang selama itu adalah soal Ke-Indonesia-an yang terdapat dalam karya seni rupa atau karya seni pada umumnya," kata bapak dua anak ini.
 
Srihadi Masa Kini

Sebagai seniman, Srihadi sering melanglang buana ke berbagai negara untuk melakukan pameran atau membagikan ilmu.

"Saya berharap seniman kini tidak terpengaruh perseteruan mazhab. Biarkan hal tersebut menjadi sejarah saja," ujar Srihadi, mengomentari seniman Indonesia masa sekarang.

"Dalam perjalanan saya bermertamofosa seterusnya, saya senantiasa mensyukuri perjalanan hidup dan mengikuti perkembangan gaya pribadi. Berkarya dengan kebebasan dalam mencari kepribadian, kreatif mengembangkan dimensi seni rupa dalam menjawab tantangan pada zamannya," pungkas pelukis yang karyanya banyak diburu kolektor dalam dan luar negeri.


(ROS)

Jika Bobol Gawang Juventus, Llorente Enggan Merayakannya
Jelang Tottenham vs Juventus

Jika Bobol Gawang Juventus, Llorente Enggan Merayakannya

4 hours Ago

Striker Tottenham Hotspur, Fernando Llorente, menegaskan tidak akan merayakan jika dia mencetak…

BERITA LAINNYA
Video /