Ekonomi Lambat, Masyarakat Tetap Butuh Asuransi

Ade Hapsari Lestarini    •    22 September 2015 19:02 WIB
asuransi
Ekonomi Lambat, Masyarakat Tetap Butuh Asuransi
Ilustrasi -- FOTO: MI/Atet Dwi Permana

Metrotvnews.com, Jakarta: Asuransi menjadi salah satu "senjata ampuh" di kala masyarakat tertimpa musibah. Bukan hanya untuk kesehatan dan perlindungan kecelakaan kerja, asuransi juga mengkover pendidikan bagi buah hati.

Sehingga sosialisasi mengenai pentingnya berasuransi dan merencanakan keuangan menjadi kerja besar yang dilakukan secara bersama oleh regulator (Otoritas Jasa Keuangan) dan pelaku industri asuransi di bawah payung Dewan Asuransi Indonesia (DAI).

Oleh karena itu, makin banyak perusahaan yang berlomba-lomba menyediakan produk asuransi dengan harga terjangkau, yakni melalui produk asuransi mikro. Adapun salah satunya di Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) yang mengembangkan produk asuransi mikro bernama SiBijak, di mana kontribusi/preminya hanya sebesar Rp50.000 per tahun.

Di sisi lain, konsep asuransi syariah pun mulai dilirik. Menurut Ketua Umum AASI Adi Pramana, konsep utama dari asuransi syariah adalah saling tolong menolong antara peserta, yang sehat menolong yang sakit, yang beruntung membantu saudaranya yang kurang beruntung.

"Mekanisme risk sharing ini sejalan dengan perintah Rasulullah SAW untuk saling membantu sesama muslim yang sedang ditimpa kemalangan," ujar dia, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (22/9/2015).

Pjs. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengamini jika kondisi apapun, asuransi tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Termasuk dalam kondisi perekonomian yang melambat ini.

Sekadar informasi, berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah tertanggung individu asuransi jiwa sampai kuartal kedua tahun ini  mencapai 16,60 juta, meningkat dibandingkan dengan jumlah tertanggung  individu per kuartal kedua 2014 yang 11,30 juta orang. Kenaikan signifikan 46,9 persen ini menunjukkan bahwa asuransi jiwa sudah merupakan suatu kebutuhan bagi seseorang untuk perlindungan atau proteksi diri.

Data AAJI mengenai kinerja asuransi jiwa di semester pertama 2015 menunjukkan bahwa pertumbuhan total pendapatan premi asuransi jiwa mencapai 26,6 persen, meningkat dari Rp53,58 triliun di periode yang sama di 2014 menjadi sebesar Rp67,8 triliun.


(AHL)