Mono Neurotic dan Abenk Alter, soal Mantan Band dan Fase Bermusik

Agustinus Shindu Alpito    •    23 September 2015 00:44 WIB
wawancara musik
Mono Neurotic dan Abenk Alter, soal Mantan Band dan Fase Bermusik
Abenk dan Mono (Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito)

ADA persamaan antara Andika Prabu Aprianto alias Mono dan Rizqi Ranadireksa alias Abenk. Keduanya lepas dari band yang membesarkan namanya, dan memupuk harapan baru atas nama masing-masing.

Setelah dikeluarkan dari Alexa, Mono mendirikan Neurotic. Sedangkan Abenk, setelah pergi dari Soulvibe, memilih bersolo karier dengan nama Abenk Alter.

Keduanya ternyata berteman dekat, meski hubungan mereka tak seperti persahabatan dalam buku cerita, Mono dan Abenk saling memberi dukungan dalam fase-fase genting perjalanan musik mereka.

Pada suatu siang di pekan kedua September, Metrotvnews.com berkesempatan berbagi cerita dengan Mono dan Abenk. Pembicaraan yang renyah dan luwes itu terjadi di bilangan Senayan, Jakarta Pusat. Keduanya tampak blak-blakan, tanpa beban dalam menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, terkadang terselip juga harapan tentang masa depan.

Apakah ada kemungkinan Abenk kembali jadi anak band dan Mono membentuk grup dengan format seperti band terdahulu?
Abenk: Enggak, gue merasa cukup arogan dan ambisius dengan diri gue sendiri. Udah bukan waktunya lagi gue berkompromi dalam konteks meng-inisiasi bareng. Beda kalau misal gue menginisiasi, terus gue berkolaborasi bareng. Kalau di awal inisiasi harus berkompromi, enggak mau.

Mono: Gue dan Abenk bukan temenan dari SMP atau SMA, tapi sejak Alexa dan Soulvibe jalan. Obrolan-obrolan seperti ini, apa yang ingin Abenk lakukan dengan Abenk Alter dan yang gue lakukan dengan Neurotic, kisah itu sama.

Apakah ada benang merah yang sama dari berpisahnya Abenk dengan Soulvibe dan Mono dengan Alexa?
Mono: Benang merahnya, enggak mau menunggu orang lain lagi. Ibaratnya, kayak lo kerja di kantoran jadi pegawai dibanding lo kerja di perusahaan lo sendiri, meski enggak langsung besar.

Abenk: Gue pengin banget punya karier di creative industry dan gue sebagai seniman pengin punya statement. Statement itu harus didukung dengan totalitas, dengan hati dan pikiran yang penuh. Bukan sekedar side project. Itu yang gue enggak bisa, jadiin Soulvibe yang ke-dua atau Abenk Alter yang ke-dua, mending gue bersandar di diri sendiri. Memulai sesuatu dari nol. Gue happy banget dan menurut gue signifikan banget apa yang gue kerjakan. Gue enggak bisa selamanya jadi vokalis band.

Mengapa Mono tidak mencoba menjalankan keduanya bersamaan, Alexa dan Neurotic?
Mono: Dulu sempat berpikir seperti itu, tapi ternyata gue dikeluarin. Hahaha. Kalau Abenk akhirnya cabut, Tapi benang merahnya sama gue rasa, tempat lama kita enggak mengakomodir.

Apa kegiatan kalian di luar musik?
Mono: Gue lagi develop bisnis restoran, tapi masih tahap ngobrol-ngobrol.

Abenk: Kalau gue di dunia visual, gue emang basic-nya graphic design. Gue bukan solo singer, impian gue bukan hanya sebagai solo singer tapi lebih sebagai solo artist. Orang tahu artwork gue bukan hanya musik, seperti gue bikin cover album sendiri, cover album pertama Raisa, logo Neurotic.

Jika Abenk menginginkan proyek solo sebagai pembuktian diri, lantas mengapa memakai nama “Alter” yang identik dengan makna “sisi lain”?
Abenk: Itu sangat sulit dijelaskan, maksudnya sebagai Alter dari Soulvibe. Karena orang awalnya mengenal gue sebagai vokalis Soulvibe. Sebenarnya, Alter menurut gue itu apapun yang gue lakukan di luar Soulvibe, which is itu diri gue sebenarnya. Dulu gue sempat pengin bikin proyek band namanya The Alter. Tetapi enggak berjalan, cuma jadi satu lagu untuk film indie di Australia. Sempat kepikiran nama lain, cuma waktu tanya ke Mono, kata dia Abenk Alter udah keren.


Abenk Alter (Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito)

Ceritakan tentang persahabatan kalian?
Mono: Basically kita berdua plus Iga (Massardi) itu ada kesamaan, waktu usia 25 tahun ke atas mengalami hal yang sama. Konteksnya sama seperti gue dengan Neurotic, Abenk dengan Abenk Alter dan Iga dengan Barasuara. Karena kami dikondisi musikal yang sama, fase berkeluarga sama, fase punya anak yang sama dan di kondisi sebagai laki-laki yang sedang menata kehidupan juga sama.

Pernahkah kalian bertiga (Mono, Abenk, Iga) jamming bareng?
Mono: Iga sama Abenk bikin sesuatu di belakang, gue terkadang bantu Iga kalau bikin video. Gue main drum atau bass. Intinya gitu, kalau gue telfon Abenk atau Iga, mereka selalu siap membantu.

Abenk: Lepas apakah akan ada band atau tidak, gue pribadi enggak masalah. Kayak kalau gue pas telfon Mono, ‘Mon, lo mau enggak main synth kalau gue manggung?’ Terus gue telfon Iga, ‘Ga, lo masih mau enggak main (musik) sama gue?’ Terus mereka jawab, ‘Ya mau lah.’ Enggak menutup kemungkinan, meski bukan dalam konteks ngeband.

Apakah kalian masih memantau perkembangan mantan band kalian?
Abenk: Enggak kalau gue. Tapi gue sebatas mendengar kabar misal si band ini ngeluarin apa.

Mono: Kalau case gue, pada saat hubungan pekerjaan diputus, hubungan pertemanan malah membaik. Karena di terakhir-terakhir kondisi pertemanan gue di Alexa enggak terlalu sehat. Kecuali Aqi, karena dia bestfriend gue. Kemarin mereka manggung, gue datang. Gue enggak mau judge secara musikal. Cuma, kalau lo dengar album Alexa terus dengar album Neurotic sudah terjawab.

Neurotic awalnya hadir dengan Eno (drummer NTRL) sebagai anggota. Dalam perjalanannya, Neurotic tampil dengan formasi yang beda. Seperti apa konsep band yang Mono bangun di Neurotic?
Mono: Neurotic itu band yang anggota tetapnya gue. Case Eno adalah...analoginya begini, Abenk Alter enggak punya bassist, tiba-tiba Thomas Gigi menawarkan.  Itu yang terjadi sama gue. Gue temenan sama Eno. Waktu gue mengumumkan ada band baru Neurotic di medsos, dia telfon gue bilang, “Anytime lo butuh drummer gue siap.” Lalu kami main satu gig dua gig, terus ketemu lagi dan dia bilang, “Gue benar-benar niat bantuin lo, kalau mau seterusnya ayok.” Gue mau, tapi menurut gue akan berakhir, karena gue tetap melihat Eno keren itu ya di NTRL. Sekarang gue ada drummer baru lagi, Bounty, dulu main sama Kotak. Proses menuju drummer tetap, menyenangkan banget (main dengan dia).

Mono sempat mengenyam pendidikan musik, apakah menurut Mono pendidikan musik secara formal itu penting?
Mono: Penting, di sini habit-nya enggak gitu. Tapi suatu saat, mudah-mudahan berubah. Di sekolah ada pelajaran seni musik, tetapi pelajaran seni musik dan olahraga di sekolah itu seperti pelajaran yang enggak mungkin dapat nilai merah. Pelajarannya pun sekedarnya. Gue enggak paham harus menyalahkan siapa, ya ini habit saja. Kerjasama antar musisi profesional di sini pun masih oral banget.

Bisa membaca not balok itu seperti kayak berbahasa. Ibaratnya, seperti ngobrol dengan orang pintar bisa baca tulis dan ngobrol dengan orang pintar tapi enggak bisa baca tulis. Kalau yang bisa baca tulis, kita bisa SMS-an, surat-suratan, pakai email. Misal dengan Abenk, dia tidak bisa baca, jadi saya harus menjelaskan dengan lebih. Misal sama-sama bisa baca not balok, spend waktunya cuma dua detik. Kalau tidak bisa baca, butuh waktu lebih lama untuk menjelaskan. Itu masalah efektivitas.


Mono (Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito)

Bagaimana iklim industri musik dalam negeri saat ini menurut kalian?
Abenk: Kalau gue pribadi, bagus. Katanya industri musik lagi kacrut, tapi makin banyak musisi bagus yang bermunculan. Industri enggak bisa dikaitkan dengan musisinya. Musisi yang punya karya bagus sudah mulai bisa menciptakan pasarnya sendiri dan enggak terikat label tertentu. Tantangan makin besar, bagaimana seorang musisi atau band memasarkan musik mereka sendiri dengan caranya sendiri. Tiap musisi bisa punya sistem masing-masing dan cara masing-masing untuk dikenal sampai nanti ditemukan blue print baru industri musik. Tapi sampai sistem yang baru tercapai, musisi harus berjuang.

Mono: Gue kurang lebih sependapat dengan Abenk. Karena gue sempat mengalami zaman Nidji naik, Andra & The Backbone naik, gue ada sama Alexa. Pada saat itu, blueprint yang ada soal RBT (Ring Back Tone) dan alurnya jelas, promo di radio dan televisi (untuk cepat populer). Semenjak 2011 dan 2012 template yang sudah ada itu kacau. Makanya yang bilang industri musik kacau itu orang yang sudah terbiasa mendapat uang dari template yang sudah ada dulu itu, tiba-tiba enggak dapat uang lagi.  Kalau dianalogikan di pasar, template yang ada dulu biasa datang pagi menggelar dagangan, sore waktu pulang sudah untung. Ternyata enggak seperti itu lagi. Sampai sekarang template itu enggak ada. Anggap saja 5 tahun ini tidak ada template yang pasti di industri musik.

 

 


(AWP)


Video /