Biaya Politik Tinggi Suburkan Korupsi

Ahmad Mustaqim    •    07 Oktober 2015 15:01 WIB
pilkada
Biaya Politik Tinggi Suburkan Korupsi
Oce Madril saat berbicara di forum parlemen sedunia atau GOPAC 2015, di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (7/10/2015). (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Direktur Advokasi Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Oce Madril mengatakan sistem politik demokrasi dengan pemilihan langsung menjadi salah satu penyebab terjadinya korupsi kelas kakap (grand corruption). Biaya politik sistem ini sangat tinggi.

"Implikasi sistem tersebut membuat tumbuh suburnya korupsi. Pilkada, misalnya, para calon membutuhkan biaya besar," ujar Oce dalam forum The 6th Global Conference of Parliamentarians Against Corruption (GOPAC) 2015, di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (7/10/2015).

Oce menerangkan, akibat biaya besar itu, setelah calon menduduki jabatan, akhirnya banyak yang terjerat kasus korupsi. Dari masa reformasi hingga kini, lanjutnya, tak kurang dari 300 gubernur, wali kota, dan bupati, telah tersandung korupsi.

"Banyak kepala daerah yang merasa berutang kepada pemberi donor. Meskipun, memang, tidak bisa langsung menyimpulkan demikian," ujarnya.

Menurutnya, mungkin pengalaman seperti yang ada di Indonesia juga terjadi di negara lain. Bahkan, apa yang ada terjadi di Indonesia, merambah pada sulitnya melakukan penegakan hukum. Hal itu disebabkan karena aturan yang tidak terlalu jelas terkait penanganan kasus tersebut.

"Kelemahannya, pengaturan yang tidak terlalu jelas menyebabkan penegakan hukum juga tidak jelas. Belum kasus kriminal dan pemidanaan. Institusi partai politik memiliki peran penting apabila telah punya jaringan kuat," ungkapnya.


(SAN)

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%
Jelang Chelsea vs Barcelona

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%

1 hour Ago

Pelatih Chelsea Antonio Conte tidak memungkiri bahwa laga melawan Barcelona akan jadi laga yang…

BERITA LAINNYA
Video /