Wawancara dengan Maximilian Bittner, Bos Lazada Group

Ellavie Ichlasa Amalia    •    09 Oktober 2015 20:10 WIB
lazada
Wawancara dengan Maximilian Bittner, Bos Lazada Group
Maximilian Bittner saat ditemui di kantor Lazada di Plaza Agro.

Metrotvnews.com: Kemarin, Lazada mengundang media untuk mengumumkan rencana mereka menerapkan program komisi nol persen untuk mendorong pertumbuhan UKM (Usaha Kecil Menengah) di Lazada. Sebelum acara ini berlangsung, Maximilian Bittner, CEO Lazada Group, menyempat diri untuk bertemu dengan Metrotvnews.com untuk melakukan wawancara. Berikut ini adalah hasil wawancara kami dengan Bittner.

Ada begitu banyak vendor smartphone yang memilih Lazada sebagai rekan eksklusif, jika kami boleh tahu, apa rahasia Lazada?
Jangkauan dari Lazada. Saat kami bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Xiaomi atau Lenovo, kami bilang pada mereka bahwa kami dapat menjangkau 6 pasar sekaligus. Di satu sisi, kami dapat menjanjikan pada mereka jangkauan yang jauh lebih lebar, di sisi lain, kami dapat membuat pekerjaan mereka menjadi lebih mudah.

Jika mereka bekerja sama dengan pelaku e-commerce lain, mereka harus bekerja sama dengan 6 pelaku e-commerce yang berbeda untuk tiap negara. Dan hal ini jauh lebih rumit. Kami melihat Lazada sebagai sebuah fasilitator bagi merek ternama untuk masuk ke pasar Asia Tenggara.

Lebih sulit untuk menghadapi perusahaan besar atau UKM?
Baik merek ternama ataupun UKM memiliki tantangan tersendiri. Merek ternama biasanya memerlukan perhatian lebih, karena mereka menjual barang dalam jumlah banyak. Selain itu, kami juga harus sangat memperhatikan dukungan yang kami berikan untuk memberikan visibility pada mereka.

Sementara itu, UKM juga memberikan tantangan lain, yaitu dalam hal skalabilitas. Kami harus melatih para penjual untuk memastikan para pelanggan tidak menemui masalah.

Pelatihan apa saja yang diberikan oleh Lazada?
Lazada University adalah “universitas” untuk para penjual kami yang menyediakan video online mengenai berbagai topik, seperti bagaimana cara mengatur harga, cara memasang foto, ilustrasi layout, dan bahkan bagaimana cara meningkatkan penjualan.

Interaksi Lazada dengan penjual kini sudah sepenuhnya terotomatisasi karena adanya aplikasi Seller Center. Di sini, penjual dapat mengatur stok mereka dan kami dapat memberikan feedback tentang bagaimana performa mereka dan menunjukkan pelatihan apa yang harus mereka ambil untuk meningkatkan penjualan.

Ini merupakan bagian dari inisiatif kami yang dimulai pada kuartal 2 yang memungkinkan kami untuk memberikan pengalaman yang lebih baik untuk UKM. 

Apa tanggapan Lazada tentang kasus penipuann online seperti kasus Blackpanda yang sempat terjadi beberapa waktu lalu?
Berbeda dengan pesaing kami, Lazada adalah platform B2C (Business to Consumer). Masyarakat perlu tahu perbedaan di antara platform B2C dan C2C (Consumer to Consumer). Di pelaku e-commerce lain, Anda sebagai konsumen, harus berinteraksi dengan penjual secara langsung. Anda harus dapat memastikan bahwa sang penjual memang dapat dipercaya. Anda tidak memiliki jaminan bahwa barang yang Anda beli bukan barang palsu.

Sementara Lazada, kami adalah platform B2C. Jika konsumen menemukan masalah, kami yang akan mengatasi masalah tersebut. Kami tidak meninggalkan konsumen kami untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Jika mereka menerima barang palsu, maka kami akan menggantinya. 

Seperti kasus yang terjadi dengan Denis, yang memesan iPhone tetapi mendapatkan sabun. Kami dengan cepat mengatasi masalah tersebut.

Apa yang Lazada lakukan untuk mengedukasi masyarakat? 
Kami terus berusaha untuk memberikan edukasi untuk masyarakat, memberitahu mereka manfaat belanja online. Tapi pada akhirnya, kami percaya tindakan kami dapat menjadi bukti untuk para pelanggan.


(ABE)


Piala AFF 2018: Malaysia Terhindar dari Kekalahan atas Vietnam
Leg I Final Piala AFF 2018

Piala AFF 2018: Malaysia Terhindar dari Kekalahan atas Vietnam

1 day Ago

Malaysia terhindar dari kekalahan atas Vietnam pada leg pertama babak final Piala AFF 2018, Sel…

BERITA LAINNYA
Video /