Jangan karena Diam Penganut Paham Kekerasan Dianggap Tak Ada

Antara    •    14 Oktober 2015 10:24 WIB
terorisme
<i>Jangan karena Diam Penganut Paham Kekerasan Dianggap Tak Ada</i>
ilustrasi--MI/Widjajadi

Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat dan bangsa Indonesia diminta tak terkecoh dengan strategi diam, atau sepi yang dilakukan para penganut paham kekerasan dan terorisme. Strategi diam, atau sepi dinilai perlu diwaspadai.

"Diam itu justru malah berbahaya. Memang harus kita akui akhir-akhir ini pergerakan mereka di luar sepi, tapi bisa jadi mereka tengah merancang strategi baru yang dikembangkan untuk menjalankan visi mereka," ujar Mantan Wakil Sekjen PBNU Adnan Anwar di Jakarta, Rabu (14/10/2015).

Masyarakat perkotaan adalah pangsa yang sangat memungkinkan untuk direkrut melalui propaganda di media sosial atau dunia maya, terutama oleh kelompok ISIS.

"Ingat, kelompok ini sangat kaya terutama dalam metode rekrutmen anggota melalui teknologi IT," kata mantan peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini.

Menurut dia, harus ada upaya untuk membendung strategi-strategi yang mungkin akan dilakukan oleh pelaku terorisme. Harus ada sistem peringatan dini dalam menyikapi sikap diam itu.

"Bisa saja mereka menunggu momentum karena dukungan melalui taraf pemikiran itu sangat berbahaya dan memiliki potensi yang besar sekali. Intinya, dalam menangani gerakan kekerasan dan terorisme itu tidak boleh berhenti," ujar Adnan.

Adnan menilai apa yang digambarkan sepi akhir-akhir ini bukan karena mereka tidak ada, tetapi mereka sengaja membuat agak kendur. Hal itu tidak lepas dari upaya pencegahan dan penindakan terorisme yang akhir-akhir dilakukan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan lembaga terkait lainnya seperti Polri dan TNI.

Namun, sekali lagi, Adnan mengingatkan bahwa ketiadaan aktivitas di permukaan tidak lantas menunjukkan bahwa kelompok penganut kekerasan sudah tidak ada.

"Jangan karena diam, mereka dianggap tidak ada. Faktanya, dakwah dan propaganda mereka, terutama melalui dunia maya, sangat efektif dalam pengembangan tujuan mereka yaitu khilafah," kata tokoh muda NU ini.

Salah satu bukti, lanjut Adnan, adalah tergelarnya Parade Tauhid di Solo, Jakarta, dan Yogyakarta. Menurutnya, Parade Tauhid itu adalah salah satu bentuk pendekatan paling lunak terhadap dukungan khilafah islamiyah.

"Seharusnya kegiatan-kegiatan seperti Parade Tauhid tidak boleh ada di Indonesia karena mereka jelas menentang NKRI. Tapi ini belum bisa diatasi karena belum ada payung hukum sebagai landasan melarang mereka melakukan kegiatan tersebut," ucap Adnan.

Kendala yang terjadi dalam melakukan amandemen UU Terorisme itu, menurut Adnan, karena berbenturan dengan semangat demokrasi. Gerakan-gerakan seperti Parade Tauhid ini dinilai masih sebatas pemikiran, dan dalam negara demokrasi, hal-hal seperti bukan pelanggaran hukum.

"Padahal justru pemikiran ini yang dianggap berbahaya, apalagi itu dijadikan wahana mereka untuk melakukan propaganda baik itu secara konvensional maupun melalui dunia maya," terangnya.

Ia menilai belum dilakukannya amandemen UU Terorisme, karena ketidakberanian kaum liberal di Indonesia. Padahal sudah banyak negara demokrasi lainnya sudah memberlakukan UU tersebut.

Adnan menilai pemerintah agak lambat menyikapi masalah penyebaran paham kekerasan dan terorisme ini. Padahal Jerman saja sudah mengeluarkan peraturan  dalam menyikapi penyebaran paham kebencian ini.

"Terus terang kita masih lemah dalam penindakan gerakan-gerakan seperti Parade Tauhid itu. Ini yang dikeluhkan para kiai pesantren. Ingat, bila mereka diberi keleluasaan dan mendapat simpati, akibatnya akan sangat fatal dan pasti mengancam NKRI," terangnya.


(YDH)

Antonio Conte Balas Sindiran Keras Mourinho
Liga Champions 2017 -- 2018

Antonio Conte Balas Sindiran Keras Mourinho

20 hours Ago

Conte merasa Mourinho masih sering memperhatikan apa yang terjadi di Chelsea. Untuk itu, ia mem…

BERITA LAINNYA
Video /