Konflik Aceh Singkil, Mendagri: Deteksi Dini Tak Di-follow up

Deo Dwi Fajar Hari    •    15 Oktober 2015 14:45 WIB
bentrok
Konflik Aceh Singkil, Mendagri: Deteksi Dini Tak Di-<i>follow up</i>
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. (Metrotvnews.com/Deo Dwi Fajar Hari)

Metrotvnews.com, Semarang: Konflik di Aceh Singkil yang berimbas pada pembakaran rumah ibadah sudah terdeteksi intelijen. Namun, tidak dilakukan tindakan secara cepat. 

Hal itu diungkapkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo usai menghadiri Dies Natalis Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Kamis 15 Oktober 2015.

Tjahjo mengatakan sebelum konflik terjadi, dia sempat bermalam di Aceh. Saat itu, ia menerima laporan toleransi beragama di sana baik-baik saja, meski sudah terdeteksi adanya indikasi konflik.

"Saya sudah ke Aceh, menginap di sana, tanya kapolda, gubernur, katanya terkendali, toleransi beragama tidak ada masalah. (Tapi) tim dirjen kami ke sana, ada signal (potensi konflik) itu, berarti deteksi dini sudah ada," kata Tjahjo.

Dengan adanya deteksi dini tersebut, Tjahjo menegaskan, tidak ada alasan intelijen kecolongan. Hanya saja, ia mengakui sinyal yang diperoleh itu tidak ditindaklanjuti dengan baik sehingga konflik pecah. 

"Kami tidak mau ada intelijen mengatakan 'kami kecolongan'. Itu namanya bukan intelijen. Berarti deteksi dini tidak di-follow up dengan baik. Mari kita cari akar masalahnya," tegas Tjahjo.

Oleh sebab itu, Tjahjo berharap konflik tersebut diharapkan bisa diusut tuntas untuk mencari tahu dalangnya. Hukum juga harus ditegakkan, termasuk oknum-oknum yang kemungkinan terlibat.

"Siapa yang jadi provokator, yang menggerakkan harus diproses hukum. Kalau camat yang salah ya beri sanksi, kalau kapolseknya ya diganti atau kapolresnya, apapun itu. Negara yang besar ini, ada berbagai suku, agama, golongan. Yang kita tengarai tidak ada konflik agama kok muncul, ada apa ini? Harus segera terurai," tandasnya.


(SAN)