Helikopter Jatuh, Kemenhub Bekukan Rute Penerbangan Angkasa Semesta

Mufti Sholih    •    15 Oktober 2015 15:15 WIB
helikopter hilang kontak
Helikopter Jatuh, Kemenhub Bekukan Rute Penerbangan Angkasa Semesta
Pencarian korban helikopter di danau toba----Ant/Dhev Bakkara

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perhubungan membekukan rute PT Penerbangan Angkasa Semesta: Siparmahan-Kualanamu. Pembekuan ini merupakan sanksi kelalaian maskapai yang tidak memenuhi prosedur yang berujung kecelakaan, Minggu 11 Oktober.

"Rute yang telah mengalami kecelakaan, kita tidak izinkan lagi," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Suprasetyo seperti dilansir Antara, Kamis (15/10/2015).

Selain dibekukan, dia menambahkan, maskapai PAS juga tidak diperbolehkan menambah rute baru sampai keluarnya hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Trasnportasi (KNKT). Dia mengatakan, maskapai tersebut bisa mengoperasikan kembali rute tersebut
apabila telah memenuhi persyaratan, corrective action plan.

Sebelumnya, Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Mohammad Alwi mengatakan izin usaha dan operasi PT PAS terancam dibekukan. Hal itu apabila terbukti kejadian pada Minggu lalu merupakan accident, bukan incident.

"Kita menunggu status resmi helikopter tersebut sampai ada laporan awal dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kalau betul itu accident, akan kita bekukan," katanya.

Selain itu, Alwi mengatakan jumlah pesawat yang dimiliki Penerbangan Angkasa Semesta saat ini berjumlah tiga pesawat dengan kejadian hilang kontak tersebut jika dinyatakan accident dan total loss, maka jumlah pesawat yang beroperasi tidak memenuhi persyaratan pada Pasal 118 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan Peraturan Menteri Nomor 97 Tahun 2015.

"Dengan demikian, PT PAS tidak akan dapat beroperasi dikarenakan izin usaha angkutan udara niaganya akan dibekukan sesuai regulasi tersebut," katanya.

Peraturan Menteri Nomor 97 Tahun 2015 menyebukan jumlah kepemilikan pesawat udara untuk izin usaha angkutan udara niaga tidak berjadwal (AOC 135) sedikitnya mengoperasikan tiga unit pesawat udara, satu dimiliki dan dua dikuasai.

Selain itu, Direktur Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan helikopter tersebut terbang tanpa mengantongi izin dan perencanaan terbang atau flight plan. Saat keberangkatan, penerbangan helikopter berizin. Namun, saat penerbangan kembali tidak mengantongi izin.

"Jadi, helikopter ini saat membawa penumpang satu keluarga itu berizin, namun ketika pulang lagi ke Kualanamu rupaya dia mengangkut tiga penumpang lagi yang diduga kru dan itu tidak berizin," katanya.

Novie menjelaskan pihak air traffic controller atau ATC Medan mengetahui helikopter tersebut hilang kontak karena pihak perusahaan melapor pesawat yang dimiliki hilang kontak.

"Jadi, helikopter ini tidak berkomunikasi dengan ATC sejak awal penerbangan, dia terbang ya terbang saja, kalau hilang kontak itu awalnya memang lapor baru hilang, ini tidak," katanya.

Helikopter tipe EC 130 B4 dengan nomor registrasi PK-BKA tersebut memiliki jam terbang 1249.89 jam dengan jumlah pendaratan 2.230 TE, tipe mesin Arriel 2B1, sertifikat kelaikan udara (C of A) berlaku sampai 12 Januari 2016, certificate of registration (C of R) berlaku sampai 11 Januari 2016, radio permit berlaku 14 Desember 2015, swing compass 6 Januari 2018, weight and balance 3 November 2017, aircraft insurance 5 Januari 2016 dan tahun pembuatan 2009.


(TII)


Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid
Lionel Messi

Messi Bicara Final Liga Champions dan Kepergian Zidane dari Madrid

1 week Ago

Kapten timnas Argentina itu tak memedulikan berapa pun hasil yang diraih Madrid dalam menghadap…

BERITA LAINNYA
Video /