Menteri Susi Ingin Indonesia Belajar dari Negara Ini

M Rodhi Aulia    •    15 Oktober 2015 16:29 WIB
pencurian ikan
Menteri Susi Ingin Indonesia Belajar dari Negara Ini
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti--MI/Adam Dwi

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kecewa dengan sanksi ringan untuk kapal MV Hai Va asal Tiongkok, terkait pencurian ikan terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Menteri Susi menginginkan Indonesia belajar dari negara sangat kecil di Afrika.

Negara itu bernama Republik Demokratik Sao Tome dan Principe yang terletak di benua Afrika atau tepatnya di wilayah Atlantic Ocean dan Gulf of Guinea. Pada 12 Oktober lalu, pengadilan di negara itu memutuskan nahkoda kapal Thunder dan sejumlah awaknya bersalah.

Mereka semuanya berkebangsaan non Sao Tome itu dituduh memalsukan dokumen, pencemaran laut, dan kejahatan laut seperti pencurian ikan atau illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing.

Hukuman yang dijatuhkan berupa pidana penjara rata-rata tiga tahun serta denda yang jumlahnya mencapai 17 juta euro atau setara dengan Rp263,5 miliar. Menteri Susi sangat mengapresiasi keberanian negeri yang ia sebut, sulit ditemukan di peta sekalipun.

"Masyarakat dunia, termasuk Indonesia dan negara ASEAN lainnya dan Papua Nugini serta Timor Leste harus menarik sebuah pembelajaran dari proses penegakan hukum terhadap kapal Thunder ini," kata Susi dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2015).

"Bandingkan dengan putusan terhadap Kapal MV Haifa yanga hanya dihukum Rp200 juta dan kapal bisa berlayar kembali ke Fu Zhou, Tiongkok," imbuh Susi dengan penyesalan.

Menteri Susi menambahkan, Indonesia harus tegas memberikan efek jera terhadap pencuri ikan atau kejahatan laut lainnya. Setidaknya, kata Susi, pemberantasan kejahatan ini memerlukan tiga syarat.

Pertama, kerja keras aparatur penegak hukum dengan mindset penegakan kedaulatan, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat pesisir, dan nelayan kecil di Indonesia. Kedua, komitmen kuat dan keberanian aparat penegakan hukum.

"Ketiga, kerja sama internasional di dalam proses penangkapan maupun penyidikan," ujar dia.

Susi menyadari, bahwa rangkaian proses penegakan hukum mulai dari penangkapan, penyidikan hingga persidangan terhadap suatu kapal besar yang bermasalah memerlukan pengorbanan yang besar. Seperti waktu, tenaga dan uang.

"Namun hal tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap ekosistem dan kekayaan laut yang merupakan masa depan umat manusia," tukas dia.

Di samping itu, Susi berjanji merevisi undang-undang terkait perikanan untuk memperberat hukuman. Karena selama ini, pelaku pencurian ikan yang dihukum hanya sebatas level anak buah kapal, tidak pada nahkoda atau perusahaannya.

"Ini pekerjaan rumah (PR) Indonesia, PR kita, PR penegakan hukum untuk lebih bisa memastikan bahwa kita ini bukan karena berani, tapi karena memang kita harus menegakkan amanat Undang-undang," tandas dia.


(YDH)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

5 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /