Kisah Seniman Pemuda Rakyat

Tetap Senyum Menjelang Fajar di Balik Penjara

Agustinus Shindu Alpito    •    20 Oktober 2015 17:52 WIB
feature showbiz
Tetap Senyum Menjelang Fajar di Balik Penjara
Utati. (Foto:MTVN/ Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pekan ke-dua Oktober 2015, Metrotvnews.com mendengar kabar bahwa Komnas Perempuan akan menggelar acara ulang tahun ke-17 di Gedung Bidakara, Jakarta Selatan, pada 15 Oktober. Salah satu yang menarik perhatian kami adalah tampilnya Dialita. Paduan suara yang beranggotakan mantan tahanan politik (tapol) peristiwa 1965, dan mereka yang simpati terhadap para korban dari peristiwa yang hingga saat ini masih menuai kontroversi itu.

Sapaan hangat dari beberapa anggota Dialita menyambut kami, jelang acara dimulai. Salah satu dari mereka adalah Ibu Utati, mantan tahanan politik (tapol) yang sempat mendekam selama 11 tahun di Penjara Bukit Duri, Jakarta.

Saat muda, Utati, seperti remaja umumnya, senang mengekspresikan minat dan bakatnya. Dia menyukai dunia seni, terlebih musik. Tapi, hobi itu pula yang lantas mengubah jalan hidupnya.

“Saya hobi menyanyi, menari dan musik, namun hanya seadanya. Kalau musik, karena orang kampung, jadi tidak belajar musik melalui pendidikan. Hanya hobi saja. Jadi kalau ada suling ya saya tiup suling,  kalau ada saron ya main saron. Malah pernah saya main gendang, karena ya itu hobi saya,” kata Utati.

Hobi berkesenian membuat Utati terdorong untuk ikut aktivitas-aktivitas yang diselenggarakan organisasi pemuda yang tumbuh subur pada masa Orde Lama. Dia lalu terlibat dalam aktivitas seni dari Pemuda Rakyat, sebuah kelompok yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Singkatnya, Pemuda Rakyat terkena imbas langsung peristiwa Gerakan 30 September 1965. Para anggotanya ditangkap, dan dijebloskan ke penjara tanpa proses hukum yang jelas. Sial bagi Utati, cita-citanya meniti karier di dunia seni pupus seketika. Dia ditangkap. Seni yang awalnya diyakini sebagai jalan hidupnya, justru membawanya pada jurang kelam yang sama sekali tidak dia duga.

Tapi, bukan seni yang mengubur mimpi Utati, adalah kondisi politik Indonesia yang melakukannya pada masa itu.

“Waktu sebelum G30S saya memang aktif dalam kesenian, saya masuk tari, ada olahraga (dalam Pemuda Rakyat), seperti badminton, voli. Setelah peristiwa itu saya masuk (penjara) tetapi saya tidak tahu apa-apa soal (peristiwa) Lubang Buaya dan lain-lain. Saya malah tidak percaya teman-teman saya melakukan hal-hal seperti yang mereka tuduhkan di Lubang Buaya itu. Sampai sekarang pun saya masih tidak percaya,” kata Utati yakin.

Perlahan, Utati menata lagi kehidupannya di dalam penjara. Menyanyi jadi satu-satunya hiburan di sana. Tidak ada alat musik yang bisa digunakan sebagai pengiring lagu. Jangankan alat musik, alat tulis pun dilarang.


Kegiatan menari tahanan perempuan di Bukit Duri. (foto:Dok Pribadi)

Awalnya, Utati bersama teman-temannya menggagas kegiatan senam irama. Hal itu dilakukan lantaran banyak anak-anak yang ikut ibunya hidup di penjara. Senam irama adalah rutinitas yang dilakukan untuk memberi hiburan bagi para anak-anak, sekaligus para tapol.

Utati mengaku jenuh dengan senam irama yang selalu menggunakan lagu-lagu yang sudah ada. Hal itu memancing kreativitasnya lebih jauh.

“Saya enggak mau dengan lagu-lagu yang sudah ada, saya maunya lagunya bikin sendiri. Nah, disitulah lantas saya membuat lagu. Saya tanya ibu-ibu lainnya siapa yang punya lagu. Karena kami suka diam-diam mencipta lagu, tapi enggak diumumkan. Hanya untuk kepuasan batin. Salah satu ibu mengatakan punya lagu tapi belum ada liriknya. Ya sudah, liriknya saya yang bikin. Terus dari situ saya buat kata-katanya, tapi sebelum itu saya juga sudah diam-diam membuat lagu.”

Jangan dibayangkan membuat lagu di dalam penjara adalah proses yang sederhana. Keterbatasan alat tulis membuat para tapol harus merekam dengan baik lagu dan lirik yang diciptakannya di dalam kepala.

“Jadi (lagu ciptaan sendiri) itu dipikir saja setiap hari dan dihafalkan dalam hati. Kalau kami menemukan sobekan kertas, atau pensil yang kecil banget itu, rasanya senang sekali. Bisa coret-coret di tembok. Kami takut ketahuan tapi kalau menulis di tembok. Kadang kami tulis di tangan, kadang-kadang di bekas kertas, kami juga menulis di tanah. Apapun medianya yang penting dapat kami gunakan,” ucap Utati.

Tekanan yang dihadapi para tapol memang tidak mudah. Utati menceritakan bagaimana stresnya para tapol kala hari raya Idul Fitri tidak bisa bertemu keluarga. Mereka hanya bisa meluapkan kekesalan dan kekecewaan dengan berteriak sekencang-kencangnya. Salah satu cara terbaik bagi para tapol untuk meluapkan isi hati adalah dengan bermain kasti.

“Permainan kasti sengaja dilakukan, karena buat saya dan teman-teman itu bisa melampiaskan emosi dengan memukul bola. Saling memukul bola sekencang-kencangnya ke badan teman, bahkan kami bermain kasti saat hujan deras, kita bisa bermain sambil tertawa lepas.”

Persoalan para tapol di dalam penjara pun cukup pelik, dengan penuh haru, Utati juga menceritakan bagaimana sulitnya kehidupan tapol perempuan di penjara. Terlebih, para tapol yang membawa anak.

“Pengalaman yang paling mengharukan, anak-anak kecil yang ikut ibunya di penjara. Ada ibu dari Irian dua orang, waktu dibawa dari Irian ke Jakarta, usia anaknya masih 40 hari. Belajar ngomong ya di situ (dalam penjara),  belajar semua. Anak-anak kecil itu lucu-lucu. Hiburan kami juga.”

Sayangnya, tapol yang membawa anak tak lantas mendapat tambahan porsi makan. Para ibu itu merelakan jatah nasi untuk dimakan anaknya, dan mereka mencoba memasak dari bahan-bahan seadanya, mulai dari nasi kering, sampai dedaunan yang tumbuh di pekarangan penjara.

Para ibu itu juga tidak memiliki alat masak. Mereka menggunakan piring berbahan seng yang ditumbuk bagian tengahnya agar cekung. Lantaran tidak ada tungku api, mereka memasak dengan lilin. Memasak pun dilakukan secara diam-diam.

Menghidupkan Kembali Karya yang Lahir di Penjara

Utati bebas pada tahun 1978. Sebelas tahun di penjara bukan hal yang singkat. Selepas dari penjara, Utati kembali berkumpul dengan para korban peristiwa 1965. Dari pertemuan-pertemuan itu lahir gagasan untuk merawat kembali karya-karya yang sempat lahir di penjara.

“Teman-teman bilang, ‘Tapi kan engak bisa tulis not-nya,’ (lagu yang dibuat di penjara). Saya usul untuk membuatkan notnya. Waktu itu ada tiga lagu yang saya tuliskan ulang dengan mengingat kembali, dengan meminta maaf pada pembuatnya misalnya ada not yang kurang-kurang. Maksudnya supaya ada yang dinyanyikan, supaya tercatat. Judul lagu yang pertama kami tampilkan itu dibuat di Bukit Duri, judulnya Tetap Senyum Menjelang Fajar."

“Lagu Tetap Senyum Menjelang Fajar kami nyanyikan di penjara untuk setiap teman kami yang ulang tahun. Pagi-pagi kami datang ke sel yang ulang tahun dan kami nyanyikan itu,” kata Utati penuh haru.

Utati lantas menceritakan salah satu lagu ciptaannya. Dengan penuh ketegaran, beliau merinci lahirnya karya berjudul Ibu itu.

“Lagu yang pertama saya bikin justru yang judulnya Ibu. Karena saya bepikir, ibu saya tahu atau tidak saya masuk penjara. Karena saya tidak bisa telepon, tidak bisa menulis surat, waktu itu ada saudara saya yang tinggal di Jakarta, tetapi saya minta untuk tidak ditengok karena takut akan membebani. Saya ragu apakah ibu saya tahu atau tidak,” katanya lirih.

Utati berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, lahir pada 29 September 1944. Pada akhir 1963 dia merantau ke Jakarta, hingga berujung pada sebuah penangkapan di tahun 1967.  

Ada emosi tersendiri berada dalam penjara yang jauh dari kampung halaman. Kegelisahan semacam ini jamak dirasakan oleh para tapol. Kerinduan akan pertemuan dengan keluarga yang sudah bertahun-tahun tak dijumpainya.


Para tahanan di Bukit Duri. (Foto: Dok Pribadi)

Setelah bebas, Utati menikah dengan Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung dari Pramoedya Ananta Toer.Koesalah juga seorang mantan tahanan politik, tidak lama setelah studi di Moscow, Rusia, dia dipenjara. Utati dan Koesalah menikah di tahun 1979, satu tahun setelah Utati bebas. Mereka dikaruniai dua orang anak.

Dialita, yang memiliki kepanjangan Di Atas Lima Puluh Tahun, jadi wadah bagi Utati untuk menyuarakan jeritan hati para tapol, yang perlahan dikubur zaman. Di balik untaian lagu yang mereka nyanyikan, tersirat pesan bahwa mereka para tapol dan korban 1965 bukan lagi berteriak soal perihal politik, tetapi mendambakan keadilan dan kemanusiaan.

“Harapan saya (peristiwa 1965) jangan terjadi lagi. Bangsanya sendiri ditindak seperti itu sampai tidak bisa berkutik apa-apa. Dicurigai terus. Memangnya kalau anak PKI, anaknya ikut jadi PKI? Enggak juga kan?” tegas Utati mengakhiri perbincangan.

 


(FIT)

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%
Jelang Chelsea vs Barcelona

Hadapi Barcelona, Chelsea Harus Tampil 120%

8 hours Ago

Pelatih Chelsea Antonio Conte tidak memungkiri bahwa laga melawan Barcelona akan jadi laga yang…

BERITA LAINNYA
Video /