El Nino Berkepanjangan, Awasi Hutan tak Tergarap

Ade Hapsari Lestarini    •    20 Oktober 2015 18:18 WIB
elnino
El Nino Berkepanjangan, Awasi Hutan tak Tergarap
Ilustrasi hutan. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hutan atau lahan yang belum tergarap dinilai sangat rentan mengalami kebakaran di tengah terjadinya el nino yang berkepanjangan.

Menurut peneliti dari Universitas Riau, Haris Gunawan, lahan gambut di wilayah Sumatera dan Kalimantan kini mudah terbakar karena maraknya konversi lahan. Bentang alam gambut berubah.

Spesialis gambut ini menuturkan, area gambut dengan biodiversitas beragam dan basah disulap menjadi area perkebunan dengan satu jenis tanaman dan dikanalisasi untuk mendukung budidaya. Akibatnya, gambut kering dan mudah terbakar.

Solusi jangka pendeknya yakni areal konsesi yang bermasalah ditangguhkan pemanfaatannya selama jangka waktu tertentu. Jika hendak memanfaatkan, perusahaan harus melaporkan terlebih dahulu sebelum diolah.

"Jadi, kalau mereka membakar, sangat mudah untuk diketahui atau dibuktikan. Sebaliknya, jika terkena pembakaran, juga tidak bisa dimanfaatkan karena terkena aturan tadi, harus dipulihkan," kata Haris, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (20/10/2015).

Peneliti World Resources Institute (WRI) Indonesia Andika Putraditama menambahkan, perbaikan tata guna hutan sangat diperlukan, terutama hutan alam primer atau lahan gambut yang terbakar saat ini. Pemerintah pun diminta memperbaiki tata guna lahan untuk mencegah kebakaran terjadi lagi.

Andika mengatakan, pemerintah harus menetapkan lahan gambut yang terbakar menjadi areal terlarang untuk dimanfaatkan alias dijadikan areal peruntukan lain (APL).

"Aturannya sudah jelas bahwa lahan gambut yang lebih dari tiga meter tidak boleh dibudidayakan karena akan menjadi sangat kering dengan adanya el nino sehingga mudah terbakar. Hutan yang sudah kritis logisnya ya dipulihkan, bukan dipaksa agar jadi produktif," jelas dia.

Dia membeberkan, selama ini merupakan cara yang salah mengubah hutan menjadi areal peruntukan dengan cara dirusak dan atau dianeksasi menjadi permukiman. Cara itu membuat izin APL lebih mudah didapat. Atau, perusahaan mendapatkan izin dahulu. baru kemudian membuka lahan dengan tetap dibakar.

"Pemerintah harus serius untuk menerapkan aturan yang sudah ada sehingga akal-akal perusahaan bisa dideteksi," tambah dia.

Efektivitas pelarangan hutan yang terbakar menjadi APL ini, tuturnya, hanya efektif jika ada data hutan yang akurat dan terus diperbaharui. Ini diakui tidak mudah karena data dan kondisi hutan antar  instansi cenderung berbeda-beda.

"Dengan adanya penggabungan kehutanan dan lingkungan dalam satu kementerian, penyesuaian data harusnya lebih mudah dilakukan," ujar dia.

Dia pun mengimbau kepada pemerintah, hutan yang sudah diubah menjadi APL, perlu dilakukan penyesuaian peta lahan. Sebab, kerap kali peta lahan konsesi yang diakui perusahaan lebih kecil dari peta aktual sesuai izin yang diberikan.

"Penyebabnya antara lain perusahaan belum bisa membebaskan lahan atau juga lahan tersebut masih menjadi obyek sengketa agraria dengan masyarakat atau pihak lain," pungkas dia.


(AHL)

CEO Milan: Kedatangan Kalinic Melengkapi Skuat
AC Milan 2017--2018

CEO Milan: Kedatangan Kalinic Melengkapi Skuat

1 hour Ago

CEO AC Milan, Marco Fassone mengatakan perekrutan Nikola Kalinic melengkapi skuat musim ini. It…

BERITA LAINNYA
Video /