PT NOEI & PT GTJ Terima Duit Pemprov DKI Lewat Rekening Bersama

Damar Iradat    •    29 Oktober 2015 15:38 WIB
sampah jakarta
PT NOEI & PT GTJ Terima Duit Pemprov DKI Lewat Rekening Bersama
Pekerja memeriksa mesin Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. (Foto:MI/Rommy)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Godang Tua Jaya (GTJ) tidak sendiri menerima uang jasa pengelolaan sampah Jakarta di Bantar Gebang, Bekasi. Duit itu mengalir juga ke PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI). Uang itu dikirim langsung ke rekening bersama milik kedua PT.
 
Direktur Utama PT NOEI Agus Nugraha Santoso mengatakan, tipping fee yang mereka terima dari Pemprov DKI hanya Rp199 miliar. Bukan Rp400 miliar seperti yang dikatakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ataupun Rp330 miliar seperti dikatakan Dinas Kebersihan DKI.
 
Agus juga membatah ada pembagian. Menurut dia tidak ada pembagian antara PT GTJ dan PT NOEI. Semua tipping fee yang disetor oleh Pemprov DKI masuk ke rekening bersama milik kedua PT.
 
"Yang tanda tangan kontrak dengan DKI adalah PT NOEI dan PT GTJ. Jadi, tipping fee diterima di rekening bersama. Dari situ (tipping fee) digunakan untuk biaya operasional di TPST (Tempat Pengelolaan Sampat Terpadu) Bantar Gebang," kata Agus kepada Metrotvnews.com, Kamis (29/10/2015).
 
PT NOEI berperan sebagai mitra atau join operation (JO) PT GTJ. Keduanya bekerja sama mengolah sampah dari DKI Jakarta untuk diubah menjadi energi baru.
 
Sebagai mitra, keduanya melakukan berbagai investasi. Salah satu investasi yang dilakukan oleh PT NOEI adalah membangun pembangkit listrik dari olahan sampah. "PT NOEI melakukan investasi pembangkit listrik, lebih ke arah pengolahan sampah untuk menjadi listrik," kata Agus.
 
Dalam perjanjian kontrak antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT GTJ jo PT NOEI yang disepakati pada 4 Desember 2008 terdapat pembagian tugas. Untuk sarana dan prasarana dilakukan bersama-sama oleh PT GTJ dan PT NOEI.
 
"Pembagian tugasnya, PT GTJ dalam hal komposting dan daur ulang. Sedangkan untuk pembangkit listrik itu (tugas) kami. Kalau (pembangunan) sarana dan infratrukstur jadi tugas bersama-sama," ujar Agus.
 
PT GTJ dan PT NOEI membangun pabrik daur ulang plastik untuk membuat tenaga listrik dari sampah. Kedua pengelola menggunakan teknologi sanitary landfill dengan metode Gassifikasi Landfill – Anaerobic Digestion (GALFAD) untuk menghasilkan tenaga listrik. Gas methane dari sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
 
Sementara sampah anorganik diolah dengan teknologi gassifikasi. Saat ini pembangkit listrik tenaga sampah Bantar Gebang baru mampu memproduksi listrik sebesar 16,5 MW. Pada 2023, ditargerkan kapasitasnya penuh 26 MW. Untuk mencapai target itu, saat ini telah dibangun gas engine, fuel skid, flare stack, dan trafo.


(FZN)


Kepolisian Liverpool Dinilai Tidak Becus

Kepolisian Liverpool Dinilai Tidak Becus

9 hours Ago

Pengacara yang mewakili dua ultras Roma tersangka penganiayaan suporter Liverpool menyatakan ke…

BERITA LAINNYA
Video /