Polemik Indonesia Gabung TPP

Ini Alasan SBY Tampik Ajakan Obama

Taufik Rahman    •    30 Oktober 2015 21:22 WIB
tpp
Ini Alasan SBY Tampik Ajakan Obama

Metrotvnews.com, Jakarta: Wacana agar Indonesia bergabung dalam Trans Pacifik Partnership (TPP) cukup mengagetkan. Peluang yang Presiden Jokowi buka kepada Presiden Obama itu bertolak belakang dengan kebijakan pendahulunya.

Presiden Susilo B. Yudhoyono (SBY) memang menampik ajakan agar Indonesia menjadi anggota TPP yang diajukan Presiden Obama dan Menlu Hillary Clinton kepadanya pada 2011 silam. Walau tak dipungkirinya kerja sama ekonomi yang dimotori Amerika Serikat itu ada juga baiknya. 

"Trans-Pacific Partnership adalah kerjasama ekonomi lintas Pasifik, yang dimotori AS, hakikatnya adalah liberalisasi perdagangan dan investasi. Sebenarnya TPP baik, jika negara anggotanya 'siap', kepentingannya diwadahi dan benar-benar memberikan keuntungan bersama," ujar SBY.

Namun ketika itu SBY menilai kepentingan Indonesia belum cukup diwadahi dalam skema TPP sehingga manfaatnya dia ragukan. Melalui kultwitnya, Jumat (30/10/2015) SBY memaparkan pertimbangannya.

Alasan saya dulu mengapa Indonesia belum tepat bergabung ke TPP: 

  1. Kita sedang tingkatkan kesiapan untuk Masyarakat Ekonomi ASEAN.
  2. Kita juga harus 'untung' dalam China-ASEAN Free Trade Agreement. Rakyat khawatir kalau kita tak siap dan merugi dalam dua kerjasama ini.
  3. Kita sedang ikut negosiasi RCEP ~ kerjasama ekonomi ASEAN + Tiongkok, Jepang & Korea. Jangan sampai kita juga tidak siap.
  4. Ekomomi Singapura, Malaysia, Brunei & Vietnam (yang masuk TPP), 'berorientasi ekspor'. Indonesia tidak. Pasar domestik kita besar.
  5. Sudah ada APEC ~ yang juga merupakan wadah kerjasama ekonomi Asia Pasifik. Karenanya, dulu TPP belum jadi prioritas utama.

Jika tak siap, justru pasar kita akan kebanjiran barang dan jasa negara lain, sementara ekspor kita tak bisa bersaing di luar negeri.

Menutup kultwitnya, SBY mengajak seluruh masyarakat ikut membantu Presiden Jokowi dengan menyampaikan pandangan dan saran-sarannya.
 
Mari kita bantu Presiden Jokowi untuk bisa mengambil keputusan dengan tepat & jernih, demi kepentingan bangsa dan negara tercinta.

 


(LHE)