Analisis soal Kebakaran Hutan, Politis hingga Intelijen yang Tumpul

Krisiandi    •    04 November 2015 12:33 WIB
asap
Analisis soal Kebakaran Hutan, Politis hingga Intelijen yang Tumpul
Transtoto Handadhari di acara FGD Media Research Center, Selasa (3/11/2015). Foto: Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Hutan dan lahan di Indonesia yang terbakar tahun ini mencapai 2,1 juta hektare. Data itu dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Luas hutan yang dilalap api melahirkan asap pekat yang menyelimuti sebagian Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ada warga, terutama anak-anak, yang akhirnya menyerah, ambruk, dan meninggal. Total 13 orang tewas karena asap. 

Ketua Umum Yayasan Green Network Indonesia Transtoto Handadhari menilai, banyak unsur yang bisa dimasukkan dalam analisis penyebab kebakaran hutan di Indonesia. Contohnya, faktor politik. Isu kebakaran hutan digelontorkan saat pemerintah sibuk dengan persoalan ekonomi. Ada pihak yang berusaha mengganggu pemerintahan.

"Kita bisa lihat kan, banyak unjuk rasa, turunkan pemerintah atau turunkan Jokowi," kata Transtoto yang jadi salah seorang dari 33 narasumber dalam acara Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Media Research Center (MRC) di Kantor MRC, Jalan Pilar Mas, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (4/11/2015).

"Tapi ini analisis yang sangat biasa," lanjutnya. 

Di daerah, kata dia, bisa saja para calon kepala daerah incumben yang akan ikut pilkada nanti mengizinkan warga membuka lahan dengan cara membakar. "Biar banyak dukungan dan terpilih," kata Transtoto.

Analisis lain adalah persaingan dagang global. Indonesia disasar agar produksi hasil hutannya minim. Misalnya, produksi pulp yang dihambat negara-negara pesaing. 

"Pulp kita nomor enam dunia. Pesaing kita itu negara-negara Barat, mereka punya matahari tidak banyak. Sementara kita 12 jam bisa menikmati matahari. Mereka butuh 100 sampai 200 tahun untuk memanen bahan baku. Kita hanya butuh enam sampai 25 tahun. Jauh sekali," papar Transtoto. Yang jelas, kata dia, konspirasi dari luar wajib diwaspadai. 

Analisis lain adalah intelijen kehutanan dan ekosistem yang lemah dan tumpul. Kondisi ini yang diduga menyebabkan penegakan hukum sulit menyentuh aktor sesungguhnya pembakar hutan. Selain juga tak pernah tahu kapan mereka, para pembakar hutan itu, bergerak.

"Kita tidak pernah menganalisis kasus secara intelijen. Kalau intelijen itu bekerja kan akar masalahnya dilihat terus hingga akhirnya kita bisa ambli langkah-langkah yang tepat," kata dia. 

"Sekarang tidak. Ada masalah kebakaran orang tahunya ya ada api ada pembakar, tapi bukan itu masalahnya, ada sistem yang salah," lanjutnya. 

Di tempat yang sama, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tukirin Partomihardjo menilai, koordinasi antarpemerintah memperparah kondisi kebakaran hutan. Seringkali aturan daerah tak sinkron dengan aturan pusat. Banyak ditemukan pula bupati yang tak tunduk terhadap aturan provinsi atau pusat. 

"Bupati lebih loyal pada ketua partai. Paradigma ini mesti diubah," ujarnya. 


Tukirin Partomihardjo. Foto: Metrotvnews.com

Selain itu, Tukirin berpendapat penegakan hukum yang tak fokus dan utuh membuat kebakaran hutan berulang setiap tahun. Banyak pelaku yang mengabaikan aturan tapi lolos dari hukum. "Penegakan hukum kita separuh-separuh," kata Tukirin.  

Diskusi Kelompok Terfokus, kemarin, menghadirkan 33 narasumber. Transtoto dan Tukirin adalah mereka yang hadir. Narasumber mewakili unsur birokrasi pemerintahan pusat, pemerintah daerah, pengusaha, asosiasi, akademisi, LSM, masyarakat adat, dan mahasiswa.

Para narasumber selain menyampaikan narasi umum seputar pembakaran hutan dan lahan juga mengisi instrumen yang kemudian diolah dengan metode analytical hierarchy process (AHP). Dari proses AHP tersebut, narasumber menghasilkan tiga preferensi paling tinggi, yakni pemicu kebakaran hutan yang diakibatkan lemahnya penegakan hukum. 


(ICH, KRI)


Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate
Timnas Inggris

Adam Lallana tak Dendam kepada Southgate

2 weeks Ago

Adam Lallana merasa Gareth Southgate sudah melakukan keputusan tepat dengan tidak memanggilnya …

BERITA LAINNYA
Video /