Lahan Gambut di Indonesia Perlu Penanganan Khusus

Tri Kurniawan, Sobih AW Adnan    •    05 November 2015 17:48 WIB
asap
Lahan Gambut di Indonesia Perlu Penanganan Khusus
Presiden melihat sekat kanal untuk mencegah kebakaran lahan gambut di Pulang Pisau, Kalteng, Sabtu 31 Oktober 2015. Antara Foto/Saptono

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah harus serius menyiapkan strategi penanganan kebakaran di lahan gambut. Strateginya tidak bisa meniru negara lain, karena karakter lahan gambut di Indonesia berbeda.

“Gambut di Indonesia berkarakter tropis, berbeda dengan di negara lain. Proses penanganan kebakarannya pun berbeda, tidak bisa hanya dengan meniru negara lain,” kata Direktur Komunikasi dan Advokasi World Wide Fund for Nature Indonesia, Nyoman Iswarayoga, kepada Metrotvnews.com,  Selasa (3/10/2015).

Nyoman salah satu nara sumber focus group discussion Solusi Titik Api yang digelar Media Research Center di Gedung Media Group di Kedoya, Jakarta Barat. FGD ini dihadiri 33 orang dari pemerintah, akademisi, ahli, aktivis, dan mahasiswa.

Menurut Nyoman, pemerintah hanya bisa mengambil semangat dan keseriusan negara lain mencegah kebakaran hutan dan lahan. Hal itu bisa dilakukan dengan memperkuat kapasitas dan sumber daya masyarakat di kawasan hutan.

“Siapkan instrumen lapangan. Juga menguatkan kapasitas masyarakat lokal dan pebisnis yang mengambil konsesi tentang hak dan kewajiban dalam pencegahan kebakaran,” kata Nyoman.


Prajurit TNI AD membawa pompa usai menyiram lahan gambut agar tidak terbakar di sekat kanal Pulang Pisau, Kalteng, Sabtu 31 Oktober 2015. Antara Foto/Saptono.

Selain itu, ia juga mendorong ketegasan pemerintah  menerapkan sistem hukum. Dia menuntut pemerintah memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terbukti membakar hutan dan lahan.

“Perangkat hukum sebenarnya sudah baik. Tinggal ketegasannya saja,” ujar dia.

Gambut tropika di Indonesia memiliki kandungan bahan organik sebanyak 65 persen, yang lebih tinggi dari kandungan bahan organik di negara non tropis, dengan kedalaman rata-rata di atas 50 sentimeter. Saat musim panas, kebakaran di lahan gambut lebih sulit dipadamkan.

(Klik: Jokowi dan Presiden Finlandia Bahas Tata Kelola Gambut)

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin saat FGD Solusi Titik Api mengatakan lahan gambut memiliki lorong-lorong. Pada musim penghujan, lorong-lorong berisi air yang berfungsi sebagai pengatur hidrologi sekitarnya.

"Saat musim kemarau atau akibat kanalisasi berlebihan, lorong berisi udara. Ketika terbakar, api dapat terus hidup dan merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan," kata dia.

Ketika kebakaran di lahan gambut sulit dikendalikan, akan menimbulkan fenomena api loncat. Api loncat berasal dari biomassa yang terbakar dan terbang ke daerah lain bisa sejauh satu kilometer karena tertiup angin.

Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya membuat blocking kanal di lahan gambut untuk mencegah kebakaran meluas. Blocking kanal mengalirkan air hingga menembus sungai. Jika ada air, akan terjadi pembasahan lahan di kanan dan kiri kanal.

Blocking kanal di antaranya dibangun di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah.  Pembuatan blocking kanal di lahan gambut akan diperluas hingga di semua provinsi.

"Tidak akan berhenti, hujan pun terus, tidak akan berhenti. Akan dibangun di semua provinsi yang kebakaran, terutama lahan gambut," kata Presiden.

Presiden juga menginstruksikan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar untuk tidak memberikan izin baru pengelolaan lahan gambut.


(TRK)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

3 days Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /