Kisah Peraih Nobel Perdamaian dalam Film He Named Me Malala

Putu Radar Bahurekso    •    07 November 2015 13:12 WIB
resensi film
Kisah Peraih Nobel Perdamaian dalam Film He Named Me Malala
Film He Named Me Malala. (foto:usatoday.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sutradara yang memenangkan  Piala Oscar melalui film "An Incovinient Truth" yakni Davis Guggenheim, menggarap sebuah film yang menggambarkan kisah hidup dari pemenang Nobel Perdamaian termuda, Malala Yousafzai. Yang menjadi daya tarik dalam film ini adalah cerita perjalanan hidup Malala yang menjadi perhatian.

Guggenheim sendiri tidak membuat ulang kisah hidup Malala dengan tujuan untuk menyentuh emosi penonton. Malala adalah sosok yang inspiratif. Saat berusia 18 tahun, dia selalu berusaha untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih layak untuk dihuni. 

Dalam film ini juga diperlihatkan masa kecil Malala yang tinggal di Swat Valley, bagian utara Pakistan dimana ia diberi nama Malala Yousafzai oleh ayahnya, Ziauddin.

Sebagai seorang guru, Ziauddin selalu menanamkan tentang kecintaan terhadap dunia pendidikan kepada Malala. Ketika kelompok Taliban menutup sekolah untuk perempuan, Malala berani bersuara meskipun pada awalnya dia bersuara secara anonim melalui media blog. Namun kemudian, ia berani mengekspresikan pendapatnya di depan umum.

Taliban merespon tindakan Malala dengan berupaya untuk membunuhnya. Malala sempat tertembak oleh pasukan Taliban, ia beruntung masih bertahan hidup dan kabur ke Inggris bersama keluarganya. Ia kemudian berhasil sembuh dan melanjutkan perjalanannya keliling dunia sambil berbicara tentang isu pendidikan dan pengungsi.

Film ini juga memperlihatkan sisi natural Malala sebagai seorang perempuan remaja, dimana ia sering saling ejek dan bertengkar dengan saudara laki-lakinya karena ia sering diejek atas kekagumannya kepada Roger Federer. Malala juga adalah sosok yang dekat dengan kedua orang tuanya.

Selain itu, film ini juga memperlihatkan pertemuan Malala dengan beberapa tokoh dunia seperti Barrack Obama dan Ratu Elizabeth II dan juga seorang jurnalis bernama Jon Stewart. Bisa dibilang bahwa Malala memiliki talenta dalam berbicara di depan umum, bahkan dari sebelum ia memasuki panggung internasional.

“Islam mengajarkan saya kemanusiaan, kesetaraan, dan saling memafkan. Taliban bukanlah Muslim, itu bukan mengenai kepercayaan, itu adalah sebuah kekuatan,” ujar Malala dalam film tersebut.

Guggenheim juga membuat film ini dengan menyelipkan beberapa video asli, wawancara, dan animasi. Namun, ia mengacak urutan kronologis kejadiannya sehingga dalam film ini Anda tidak akan menemui cerita yang beraturan. Cerita film ini begitu kuat meskipun tanpa mengutak-ngatik cerita maupun efek. 


(LOV)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

2 days Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /