Banyak Negara Belajar Kelola Anggaran dari Indonesia

Suci Sedya Utami    •    07 November 2015 13:32 WIB
anggaran
Banyak Negara Belajar Kelola Anggaran dari Indonesia
Ilustrasi -- MI/PANCA SYURKANI

Metrotvnews.com, Bogor: Siapa sangka, ternyata banyak negara belajar mengenai pengelolaan anggaran negara melalui kebijakan fiskal yang dilakukan Pemerintah Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan RI Askolani dalam acara pelatihan wartawan keuangan yang digelar di Hotel Harris Sentul, Bogor, Sabtu (7/11/2015).

Askolani mencontohkan kondisi pada 2008, di mana kala itu Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal dipimpin oleh Sri Mulyani Indrawati. Saat itu, semua tahu terjadi krisis global yang bermula pada krisis ekonomi Amerika Serikat yang lalu menyebar ke negara-negara lain di seluruh dunia. Namun, ketika diterpa krisis, Indonesia adalah negara G20 yang mencatat angka pertumbuhan ekonomi tertinggi.

"Itu menunjukkan bahwa kita profesional, utamanya bahwa kita profesional, utamanya dakam mengelola fiskal yang kredibel. Sehingga 2008 kita bisa mengelola defisit yang positif, banyak negara yang belajar ke kita," kata Askolani.

Tidak hanya saat zaman kepemimpinan Sri Mulyani saja, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri yang kini menjadi pengajar di Universitas Harvard AS bercerita pada Askolani, bahwa profesor di kampus tersebut tertarik dengan kebijakan pemerintah kala itu ketika fiskal dikomandoi Chatib. Chatib pun meminta pada Askolani untuk mengirimkan bahan-bahan pengelolaan keuangan dua sampai tiga tahun lalu.

"Pak Chatib juga dengan kebijakan BBM bercerita ke profesornya. Profesornya bertanya bagaimana Indonesia bisa bertahan tiga tahun lalu dengan kebijakan fiskal. Kita jadi salah satu patokan, kita memang tidak masuk dalam negara Brisk, tapi negara itu malah yang belajar ke kita," ujarnya.

Askolani pun menjelaskan bagaimana pemerintah khususnya Kemenkeu sangat bekerja keras untuk menjaga anggaran agar tidak memiliki defisit yang besar atau melebihi tiga persen dari PDB. Meskipun memang diakui 2-3 bulan sebelum tutup tahun pasti ada perasaan was-was jikalau defisit sampai tembus melewati batas tiga persen.

"Tapi kita bisa jaga defisit di batas wajar sekitar dua sekian persen karena kita disiplin mengelolanya," tutup Askolani.

Seperti diketahui, krisis ekonomi Amerika diawali karena adanya dorongan untuk konsumsi (propincity to consume). Rakyat Amerika hidup dalam konsumerisme di luar batas kemampuan pendapatan yang diterimanya. Mereka hidup dalam hutang, belanja dengan kartu kredit, dan kredit perumahan.

Akibatnya, lembaga keuangan yang memberikan kredit tersebut bangkrut karena kehilangan likuiditasnya, karena piutang perusahaan kepada para kreditor perumahan telah digadaikan kepada lembaga pemberi pinjaman. Pada akhirnya perusahaan-perusahaan tersebut harus bangkrut karena tidak dapat membayar seluruh utang-utangnya yang mengalami jatuh tempo pada saat yang bersamaan.


(AHL)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

2 days Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /