Hari Pahlawan

Alun-Alun Cirebon, Saksi Bisu Perlawanan Rakyat terhadap Belanda

Sobih AW Adnan    •    08 November 2015 20:23 WIB
sejarahhari pahlawan
Alun-Alun Cirebon, Saksi Bisu Perlawanan Rakyat terhadap Belanda
Alun-alun Kejaksan Cirebon masa kini, MTVN - Ahmad Rofahan

Metrotnews.com, Cirebon: Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat, ramai didatangi warga setempat, utamanya di akhir pekan. Banyak keluarga yang berkunjung ke Alun-Alun Kejaksan untuk menghabiskan waktu di lokasi tersebut. Sayang, tak banyak yang tahu peristiwa besar dalam sejarah yang pernah terjadi di Alun-Alun Kejaksan.


(Alun-alun Kejaksan tempo kolonial Belanda, dok)

Budayawan sekaligus sejarawan Cirebon, Nurdin M Noer, menyebutkan tiga peristiwa terjadi di taman kota itu. Pertama, Alun-Alun Kejaksan menjadi pusat perlawanan rakyat Cirebon terhadap kolonial. Kedua, pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia versi Sutan Syahrir. Ketiga, perlawanan rakyat terhadap rencana rapat umum Partai Rakjat Pasoendan (PRP) yang mendeklarasikan Negara Pasoendan bentukan Belanda pada Juli 1947. 

(Baca: Sebelum Soekarno, Proklamasi Kemerdekaan Sudah Dikumandangkan di Cirebon)

"Negara Pasoendan sebelumnya diproklamasikan oleh Soeria Kartalegawa pada 4 Mei 1947 di Alun-Alun Bandung. Dengan Walinegara (Presiden) terpilih R.A.A. Wiranatakusumah yang kemudian dilantik pada 26 April 1948," kata Nurdin kepada Metrotvnews.com, Minggu (8/11/2015).

Sultan Keraton Kanoman Cirebon saat itu, kata Nurdin, menolak kehadiran PRP yang juga hendak membentuk Partai Rakjat Tjirebon (PRT). Rencana deklarasi PRP di Alun-Alun Kejaksan yang tidak diizinkan ini kemudian dialihkan ke lapangan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

"Rapat umum dipimpin Muksin, pembantu Kartalegawa yang setia. Demikian pula gerakan Kartalegawa di daerah Cirebon untuk sementara dilarang," kata dia.

Adanya pembentukan Negara Pasoendan mendorong kaum Republik yang dipelopori Mustopa, Patih Bakri dan Dr. Toha mengeluarkan satu resolusi menentang pembentukan negara tersebut. Resolusi itu, kata Nurdin, juga ditandatangani puluhan orang terkemuka di Cirebon. 

"Akibat dari resolusi dan gerakan ini, menurut buku berjudul Perdjoangan Masa Pendudukan dalam Buku Peringatan 50 Tahun Kota Besar Tjirebon, Dr. Toha dan Mustopa diusir dari Cirebon, sedangkan Patih Bakri dan Sulwan mendekam beberapa bulan di Penjara Kesambi (Cirebon) dan pada akhirnya dipaksa meninggalkan Cirebon dan dikirim ke Yogyakarta," ujar Nurdin.

Alun-Alun Kejaksan juga menjadi tempat pertempuran sengit rakyat Cirebon melawan penjajah Belanda sejak tahun 1818. Pada salah satu sudut yang mempertemukan Jalan RA Kartini dan Jalan Siliwangi berdiri tugu proklamasi. Nama Kejaksan, konon diambil dari nama Pangeran Kejaksan, seorang tokoh tempat bertanya tentang berbagai permasalahan terkait hukum dan perundang-undangan Islam.


(RRN)


Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl
Uji Coba Timnas Indonesia vs Hong Kong

Andik Ungkap Perbedaan Timnas Sekarang dan Era Riedl

6 days Ago

Terakhir, Andik tampil saat Timnas Indonesia melakoni uji coba melawan Islandia pada 14 Januari…

BERITA LAINNYA
Video /