Musikimia, Lebih dari Sekadar Grup Musik

Agustinus Shindu Alpito    •    09 November 2015 14:19 WIB
musikimia
Musikimia, Lebih dari Sekadar Grup Musik
Musikimia (Foto:MI/Atet Pramadia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah beberapa waktu lalu Musikimia mengabarkan keterlibatan beberapa musisi sebagai co-producer di album terbarunya, kini Musikimia menanti detik-detik kelahiran album penuh mereka yang pertama.

Anggapan selama ini bahwa Musikimia hanya proyek sampingan personel Padi selain Ari dan Piyu, tidak tepat.

Musikimia adalah grup yang lahir dengan konsep matang dengan standar mutu tinggi, dijalankan oleh musisi-musisi premium yang berdedikasi penuh terhadap profesinya.

Tiga personel Padi, yaitu Yoyok, Rindra, dan Fadly, memulai proyek Musikimia ketika Padi vakum. Ketiganya bergabung dengan Stephan Santoso, orang yang pernah membantu proses mixing dan mastering beberapa album Padi.

"Kalau saya bilang, album ini take vocal paling berat, paling menantang sepanjang karier saya, tapi saya paling puas. Salah satu album terbaik yang pernah saya kerjakan," ujar sang vokalis Fadly, saat ditemui Metrotvnews.com, di kantor Sony Music Entertainment Indonesia, beberapa waktu lalu.

Dedikasi empat musisi kawakan itu sangat jelas terlihat dalam konten yang diangkat Musikimia. Musik dan lirik yang mereka bawakan tidak dangkal bicara relasi kaum adam dan hawa, atau soundtrack patah hati.

Lebih dalam, Musikimia bicara soal keragaman budaya, persatuan, dan lagu yang memotivasi untuk meneruskan hidup dengan penuh semangat.

Dengan menggaet lima co-producer, Gugun (Gugun Blues Shelter), Eben (Burgerkill), Bondan Prakoso, Nikita Dompas (Andien & Potret), dan Stevi Item (Deadsquad & Andra and the Backbone), musikalitas album yang bertajuk Intersisi itu menjadi jaminan utama.

Dalam sesi dengar album Intersisi yang digelar pihak Sony, seperti ada gairah yang meletup dari empat kepala dalam Musikimia, terutama dari segi gagasan dalam konten lirik.

Hal itu dibalut musik yang mudah dicerna. Tiap-tiap co-producer yang diberi tanggung jawab memoles dua lagu menjadi warna tersendiri, sehingga album Intersisi kaya warna musik.

"Di sini (Musikimia), saya belajar banyak. Selama ini, masih banyak hal yang perlu saya dalami dari song writing sampai soal rekaman," kata Fadly.

"Saya juga banyak belajar. Tidak ada orang yang tahu semuanya. Tinggal kita mau belajar atau enggak," timpal Stephan.

Bagi Yoyo dan Rindra, ada pengalaman menarik bermusik dengan Stephan Santoso. Sosok yang sebelumnya membantu proses rekaman album-album Padi.

"Dengan Musikimia lebih rapi. Banyak ilmu yang didapat juga. Stephan orangnya perfeksionis, detail banget. Kadang-kadang, saya main enggak tahu kordnya salah, tapi dia malah tahu," kata Yoyok, sembari tertawa.

"Kesenangan kita beda. Kalau Stephan metal, tempo dan notnya tahu persis. Kalau saya suka grunge, Pearl Jam. Jadi mainnya kendor, longgar," sambung Rindra.

Lepas dari embel-embel Padi yang selalu mengekor jika membicarakan Musikimia, grup musik muda dengan para personel berpengalaman itu seolah ingin membuktikan bahwa karya mereka tidak berhenti ketika lagu-lagu selesai diputar.

Ada nilai yang tengah diperjuangkan Musikimia, yaitu semangat berkarya dan melahirkan karya penuh makna.

"Kalau mau tetap disebut sebagai anak band, ya harus terus berkarya. Bukan karena industri lagi shifting, jadi malas-malasan. Itu justru menjadi pertanyaan, 'Sebesar apa yang kita cintai dan dedikasi kita?' Musik itu bukan barang yang gampang basi, akan didengar zaman dan generasi," ucap Fadly.


(ROS)