'Pelabuhan Tikus' Jadi Jalur Masuknya Obat Kuat Ilegal ke Indonesia

Deny Irwanto    •    09 November 2015 15:14 WIB
obat ilegal
'Pelabuhan Tikus' Jadi Jalur Masuknya Obat Kuat Ilegal ke Indonesia
Obat ilegal disita Polda Metro Jaya--Metrotvnews.com/Deny Irwanto

Metrotvnews.com, Jakarta: Obat kuat ilegal yang didistribusikan oleh RY sebagian diimpor dari Tiongkok. Selain obat kuat pria, RY juga mengimpor obat tradisional untuk mengobati sakit pinggang, rematik dan obat pusing. Bagaimana barang-barang tersebut bisa masuk ke Indonesia?

"Dia itu impor lewat pelabuhan tikus. Pelabuhan-pelabuhan kecil di Indonesia dimanfaatkan oleh tersangka," kata Kasubdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Agung Marlianto di Mapolda Metro Jaya, Senin (9/11/2015).

Satu kali mengimpor, kata Agung, RY tidak mengirim dalam jumlah banyak. RY mengimpor rutin. "Jadi dia bisa menerima dalam bentuk banyak dan pasokannya jalan terus," kata Agung.

Sedangkan untuk distribusi di Indonesia, RY tak memakai pelabuhan tikus. Ia mendistribusikan menggunakan jasa ekspedisi resmi.

"Jadi dia sistemnya itu menawarkan dan menerima pesananan juga. Dikirim antarkota pakai ekspedisi resmi, tapi kecil-kecil," ungkap Agung.

Menurut Agung, jasa ekspedisi resmi dan kecil di Indonesia tak mempermasalahkan kiriman barang RY. Distribusi obat ilegal jalan terus.

"Ini sisi kelemahannya di Indonesia. Barang-barang yang dilarang cuma narkotika, peledak dan barang berbahaya lainnya," kata Agung.

Agung mengatakan, RY menjual obat ilegal di kawasan Tangerang, Balaraja, Rangkas Bitung, Serang, Cilegon, Lampung dan Surabaya.

Dua kontainer berisi 25 jenis obat tradisional disita petugas Polda Metro Jaya. Obat tidak memiliki izin edar Badan Pelayanan Obat dan Makanan (BPOM). Obat itu diproduksi oleh industri rumahan, ada pula yang diimpor dari Tiongkok.
 
Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Mujiono mengatakan, kasus ini terungkap pada September lalu. Dari hasil penyelidikian, pihaknya menangkap seorang pengedar obat berinisial RY.
 
Dia menuturkan ada 25 jenis obat dalam volume besar. RY memiliki dua pabrik di Kalideres, Jakarta Barat, untuk memproduksi obat ilegal. Jenis obat tersebut antara lain obat kesehatan, obat kuat pria, obat perangsang wanita, obat gosok, obat rematik, obat sakit pinggang dan beberapa obat jenis kesehatan lainnya.
 
Menurut Mujiono, RY sudah beroperasi sejak Mei 2015. Sasaran utamanya adalah distributor dan toko obat. RY hanya menjual dengan jumlah grosir. Selain berdasarkan pesanan, pelaku juga memasarkan obat dengan menawarkan pada distributor.
 
Dari aktivitas bisnisnya, RY meraup untung Rp50 juta per bulan. RY dijerat Pasal 197 Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar.


(YDH)