Laba Semen Indonesia Diprediksi Jeblok di 2015

Husen Miftahudin    •    09 November 2015 15:27 WIB
semen indonesia
Laba Semen Indonesia Diprediksi Jeblok di 2015
Direktur Utama Semen Indonesia Suparni (kanan) (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terpuruknya kinerja perekonomian nasional maupun global yang terjadi belakangan ini membuat laba perusahaan nasional mengalami pelambatan. Salah satunya PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang hingga akhir tahun kinerja labanya diprediksi jeblok.

Hal itu diakui Direktur Utama Semen Indonesia Suparni. Ia menjelaskan, selama semester I-2015, Semen Indonesia mengalami tekanan kenaikan listrik, kenaikan Upah Minimum Kota (UMK), depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sejak 2012-2013.

"Kan kita ada dua pabrik baru yang beroperasi, makanya depresiasinya naik. Di sisi lain harga jualnya tidak naik, sehingga labanya (secara tahunan) akan sedikit turun dibanding tahun lalu," ujar Suparni, ditemui di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (9/11/2015).

Sebagai informasi, kinerja Semen Indonesia hingga September 2015 mengalami tekanan. Perseroan membukukan laba bersih turun 21,6 persen menjadi Rp3,2 triliun dari Rp4,08 triliun pada 2014 lalu.

Sejalan dengan itu, volume penjualan semen secara konsolidasian juga mengalami penurunan. Volume penjualan perseroan mencetak angka pencapaian 20,19 juta ton, turun 1,9 persen dari 20,69 juta ton. Kondisi tersebut berimbas pada pendapatan perseroan menjadi Rp19,11 triliun, dibandingkan perolehan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp19,35 triliun.

Kendati demikian, Suparni meyakini jika konsumsi semen secara nasional pada tahun ini akan meningkat sebesar 2-3 persen dibandingkan tahun lalu. Menurut dia, hal ini karena gelontoran anggaran belanja infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah.

"Mulai Agustus sampai sekarang (pertumbuhan konsumsinya) baik sekali. Harapannya hingga akhir tahun juga baik sekali. Mungkin setahunnya (yoy) secara nasional tumbuh pada kisaran 2-3 persen dari tahun lalu. Jadi positif pertumbuhannya," pungkas Suparni.


(ABD)