Jumlah Penyuluh Pertanian Berkurang

Meilikhah    •    09 November 2015 20:51 WIB
pertanian
Jumlah Penyuluh Pertanian Berkurang
Salah satu produk pertanian yang dipamerkan di acara Rembug Paripurna KTNA di Boyolali, akhir pekan kemarin.(Metrotvnews.com/Istimewa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Upaya pemerintah mencapai swasembada pangan di Indonesia tidak hanya membutuhkan bantuan sarana produksi pertanian, namun dibutuhkan pula keterlibatan penuh penyuluh pertanian sebagai pendamping petani di lapangan.

Persoalan yang dihadapi saat ini, jumlah penyuluh pertanian sangat minim. Satu orang tenaga penyuluh pertanian harus menangani empat desa atau bahkan lebih.​ Keterbatasan jumlah penyuluh membuat petani tak bisa memanfaatkan peran mereka secara optimal.

“Petani ingin penyuluh memberikan pendampingan dalam menghadapi segala permasalahan di lapangan, namun bagaimana bisa optimal jika jumlah mereka semakin sedikit?” kata Ketua KTNA Sumatera Utara, Tati Habib Nasution, melalui keterangan tertulis, Senin (9/11/2015).

Secara keseluruhan, kini jumlah tenaga penyuluh pertanian di Indonesia sebanyak 47.412 orang. 27.153 penyuluh berstatus PNS dan 20.259 penyuluh berstatus tenaga kerja kontrak. 

"Jika tidak diantisipasi jumlah tersebut akan terus berkurang karena hampir separuh tenaga penyuluh berstatus PNS akan memasuki usia pensiun," tambah Tati.

Sementara itu, Kaslan Ketua KTNA provinsi Lampung mengakui peran penyuluh sangat strategis terutama dalam hal transfer pengetahuan kepada petani.

Menurutnya, petani saat ini sudah sangat melek teknologi dan paham bahwa swasembada pangan ternyata sulit dicapai jika hanya mengandalkan ekstensifikasi lahan namun tidak didukung kualitas benih baik seperti keberadaan benih dengan bioteknologi.

“Petani membutuhkan pendampingan dan pencerahan bahwa upaya meningkatkan hasil panen dan menekan biaya produksi akan mudah tercapai jika kita menggunakan benih atau bibit bioteknologi seperti yang dilakukan petani China, India dan Vietnam” ungkapnya.

Saat ini 20.259 tenaga penyuluh masih berstatus sebagai karyawan kontrak, atau disebut dengan tenaga lepas harian-tenaga bantu (THL-TB). Para penyuluh pertanian yang masih berstatus kontrak tersebut direkrut secara bertahap pada 2007-2009. Rekrutmen dilakukan untuk melengkapi jumlah penyuluh pertanian berstatus pegawai negeri sipil (PNS).


(MEL)

Video /