Di Indonesia, 38 Persen Perempuan Pedesaan Menikah Usia Dini

   •    11 November 2015 20:53 WIB
anak indonesia
Di Indonesia, 38 Persen Perempuan Pedesaan Menikah Usia Dini
Ilustrasi (Doto: Antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penelitian terbaru Plan International, organisasi internasional pengembangan masyarakat dan kemanusiaan yang berpusat pada anak dan perempuan, baru-baru ini, membuktikan kuatnya tradisi dan cara pandang masyarakat, terutama di pedesaan, masih menjadi pendorong anak perempuan menikah dini. 

Penelitian menunjukkan bahwa pernikahan anak, termasuk yang berusia 12 - 14 tahun masih terjadi karena adanya dorongan dari sebagian masyarakat, orang tua, atau bahkan anak yang bersangkutan. 

Hasil penelitian yang menjadi dokumen laporan Plan International bertajuk ‘Getting the Evidence: Asia Child Marriage Initiative’  ini dilakukan Plan dan lembaga penelitian berbasis di Inggris, Coram International di Indonesia, Banglades dan Pakistan. 

Berdasarkan siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, penyebab utama pernikahan dini adalah akibat rendahnya akses pendidikan, kesempatan di bidang ekonomi, serta kualitas layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi, terutama anak perempuan. Tingkat kemiskinan juga turut menentukan situasi pernikahan anak. 

Dari ketiga negara yang disurvei, perkawinan usia anak paling parah terjadi di Banglades, di mana 73% anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Sebanyak 27% anak perempuan berusia 12 sampai 14 tahun sudah menikah. Sedangkan laki-laki di usia yang sama, yang menikah hanya 2,8%.

Di Banglades, ada pembenaran tindak kekerasan seksual dilakukan laki-laki. Di sana ada anggapan laki-laki harus menikahi perempuan yang jauh lebih muda. Tujuannya agar mereka bisa mengatur isteri, selain hasrat seksual mereka juga terpenuhi.  Sebaliknya, jika anak perempuan tidak segera menikah, dia akan digunjingkan dan dianggap tidak laku.

Sementara di Indonesia, survei menyebutkan 38% anak perempuan di bawah usia 18 tahun sudah menikah. Persentase laki-laki di usia yang sama yang menikah hanya 3,7 persen.

Pakistan adalah yang terendah, di mana hanya 34,8% saja anak perempuan usia di bawah 18 tahun yang menikah, dengan 15,2% menikah di bawah usia 15 tahun.  

Direktur Regional Plan International Asia Mark Pierce mengatakan, pernikahan usia anak terus terjadi karena kuatnya diskriminasi gender, ketergantungan ekonomi anak perempuan, serta kuatnya tradisi.

"Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan sikap atas penerimaan pernikahan anak bukanlah tantangan yang tidak dapat diatasi. Kombinasi dari pendidikan, pemberdayaan ekonomi, akses layanan kesehatan reproduksi, dan penegakkan hukum dan kebijakan perlindungan anak akan menghasilkan perbedaan substantif,” jelas Mark. 

Penelitian menyimpulkan bahwa intervensi dari LSM, kelompok-kelompok masyarakat, pemerintah, serta dukungan di tingkat perorangan, keluarga dan masyarakat akan memberikan dampak positif. 

Menurut Mark Pierce, laporan ini juga menjadi pedoman bagi Plan dalam mendesain program dan advokasi yang berkaitan dengan isu pernikahan usia anak di Banglades, Pakistan dan Indonesia. 

“Plan percaya bahwa usia minimal untuk menikah adalah 18 tahun, sebagai mana dinyatakan dalam konvensi Hak-hak Anak PBB,” kata Mark Pierce.


(RIZ)


Berburu Buah Tangan nan Murah Khas Rusia

Berburu Buah Tangan nan Murah Khas Rusia

1 day Ago

Rusia memilki buah tangan yang unik serta menarik untuk menjadi oleh-oleh. Cokelat dan parfum m…

BERITA LAINNYA
Video /