KPK: Penyelenggara Pilkada Berpotensi Terjerat Politik Uang

Yogi Bayu Aji    •    12 November 2015 07:20 WIB
pilkada serentak
KPK: Penyelenggara Pilkada Berpotensi Terjerat Politik Uang
Ilustrasi KPK. MI/Susanto

Metrotvnews.com, Palu: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan penyelenggara pilkada berpotensi terjerat dalam politik uang yang dilakukan peserta pilkada. Mereka harus jaga sikap jika tak mau dicokok penegak hukum.

"Ada empat poin yang bisa menjadi celah masuknya politik uang pada penyelenggara pilkada yakni KPUD dan Bawaslu," kata Anggota Direktorat Gratifikasi KPK Andi Purwana di Palu, Rabu (11/11/2015).

Ia menjelaskan potensi tersebut yakni pemberian gratifikasi atau suap dari peserta pemilu kepada petugas lapangan atau penyelenggara pilkada (KPUD) untuk memasukan atau tidak memasukan data pemilih atau memanipulasi data. Kemudian suap dalam proses verifikasi administrasi dan syarat kelengkapan untuk meloloskan calon tertentu atau menggagalkan calon lain.

Ada pula kemungkinan suap kepada petugas Panwaslu dalam proses pengawasan kampanye di lapangan serta suap dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. "Sampai dengan 30 September 2015, terdapat 64 kepala daerah terjerat kasus korupsi oleh KPK," terang dia

Menurut dia, banyaknya kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi disebabkan besarnya biaya yang dikeluarkan saat pilkada sehingga politik uang menjadi sesuatu yang jamak. Tidak hanya itu, kandidat kepala daerah terindikasi 'membagi-bagikan' uang kepada calon pemilih namun juga muncul ketika kandidat kepala daerah (calon peserta pemilu) menyuap petugas atau penyelenggara pemilu (KPUD dan Panwaslu).

"Dalam Pilkada ada kecenderungan makin besar dana yang dikeluarkan, makin besar pula peluang kandidat untuk terpilih," ujarnya.

Sementara itu, Bawaslu Sulteng telah memetakan daerah yang dianggap paling berpotensi politik uang. Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) menempati peringkat teratas sebesar 4,51 persen, disusul Kabupaten Banggai 4 persen, Sigi, Tolitoli dan daerah lainnya. (Antara)


(OGI)


Video /