Menambang Uang di Gunung Sampah

Surya Perkasa    •    13 November 2015 20:37 WIB
polemik sampah jakarta
Menambang Uang di Gunung Sampah
Petugas memeriksa pipa gas metana dari sampah. (foto: Antara/Irwansyah Putra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sampah selalu dianggap sebagai barang sisa tak berguna yang harus dibuang dan dibiarkan membusuk. Namun belum banyak yang sadar banyak potensi uang dari sampah. Termasuk Pemerintah DKI Jakarta yang belum memaksimalkan manfaat sampah.
 
“Padahal di sampah itu banyak berkah,” kata Tenaga Ahli PT Godang Tua Jaya Benny Tunggul saat berbincang dengan metrotvnews.com di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (11/11/2015).
 
Sampah DKI Jakarta yang tiap harinya bisa mencapai 6.500 ton seharusnya bisa membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar jika dirancang dengan matang, lalu dilaksanakan dengan baik. Sebenarnya pemanfaatan sampah ini sudah didesain sedimikian rupa dari rencana jangka panjang (master plan) pengelolaan sampah ibu kota.
 
Beberapa rancangan seperti pemisahan sampah organik dan anorganik; mengurangi jumlah sampah (reduce), memanfaatkan sampah yang masih bernilai guna (reuse), dan mendaur ulang sampah (recycle); mengolah sampah organik menjadi kompos; gasifikasi metana dari sampah untuk pembangkit listrik tenaga gas sudah masuk ke dalam masterplan. Beberapa fasilitas “ujicoba” pun sudah dibangun swasta di TPST Bantar Gebang.
 
Pertanyaannya, apakah Pemerintah DKI mau serius?
 
Gas metana dan listrik
 
Salah satu produk hasil olahan sampah yang paling diincar adalah gas metana. PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) yang joint operation dengan PT Godang Tua Jaya (GTJ) mengakui sampah DKI Jakarta bisa menjadi sebuah komoditas. Perusahaan pengelola TPST Bantar Gebang ini bahkan bisa menikmati bau uang dari sampah pasar dan rumah tangga.
 
Sampah-sampah rumah tangga diolah dengan teknologi sanitary landfill dengan metode Gassifikasi Landfill – Anaerobic Digestion (GALFAD). Sampah pasar dan rumah tangga dipilih karena lebih cepat membusuk dan memproduksi gas metana yang lebih bagus, daripada sampah lainnya.
 
Gas metana di ekstrak melalui dua tahap. Pertama, cara vertikal yang menggunakan sumur bor sedalam 15 meter. Sampah dimasukkan ke dalam sumur untuk melewati proses gassifikasi setelah dibiarkan membusuk terlebih dahulu.
 
"Zona dibor dengan kedalaman 15 meter. Setelah itu dimasukin pipa. Pipanya juga dibagi lagi, kalau yang 12 meter pipa vaporate (penguapan), bolong-bolong, sisanya 3 meter polos," jelas salah satu supervisor PT NOEI di lapangan, Riki Gunawan di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Selasa (10/11/2015).
.
Setelah diendapkan, air sampah yang berada di sumur dipompa dengan pompa berdaya hisap tinggi. Setelah itu air sampah dikuras dan gasnya ditarik.
 
Sampah yang dapat diproduksi menjadi gas juga tidak perlu dibatasi. Berapa pun sampah yang masuk dapat diolah selama lahan untuk zona pengeboran masih memungkinkan. “Enggak pakai hitung-hitungan ton. Asal ada sampah saja, itu bisa kami kembangkan," kata Riki.
 
Gas metana ini dapat kemudian dapat digunakan sebagai bahan bakar. Untuk metana hasil pengolahan TPST Bantar Gebang sendiri digunakan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang perusahaan GTJ dan NOEI kelola.
 
TPST Bantar Gebang kini memiliki dan terus mengembangkan PLTSa yang mereka miliki. PLTSa ini ditargetkan dapat menghasilkan listrik sebesar 23 MW per hari pada 2023.
 
NOEI dan GTJ mengeluarkan investasi yang tidak sedikit untuk membangun PLTSa ini. Untuk membangun PLTSa berkapasitas 16,5 MW saja, pengelola TPST Bantar Gebang tersebut menghabiskan anggaran ratusan miliar.
 
"Kami investasi Rp490 miliar untuk investasi listrik 16 megawatt," kata Kata Direktur Utama PT NOEI Agus Nugroho saat dihubungi metrotvnews.com, Rabu (11/11/2015).
 
TPST Bantar Gebang menjual “listrik sampah” ke PLN. Listrik dijual Rp800 per kilowatt ke PLN pusat di Bandung. PLN kemudian menyalurkan listrik itu ke Pulau Jawa, Bali, dan Madura.
 
Saat PT NOEI mampu menghasilkan16 MW listrik, mereka dapat meraup pendapatan Rp11 miliar. Namun, pendapatan kotor mereka saat ini jeblok menjadi Rp1,5 miliar karena hanya mampu memproduksi listrik dengan kapasitas 2 MW. Penyebabnya, lahan untuk sumur gas terpakai timbunan sampah DKI Jakarta yang jauh melebihi kontrak.
 
PT NOEI sebelumnya menggarap zona 2 dan 3 untuk menghasilkan gas metana. Namun, kebakaran yang sempat terjadi di zona 3 membuat mereka kini hanya menggunakan zona 2. Selain itu, meningkatnya volume sampah yang dikirim dari DKI ke Bantar Gebang membuat mereka kesulitan membuat sumur bor dan mencari pusat gas.
 
"Semakin banyak sampah kita malah bingung. Kita kewalahan di zona. Kalau enggak kebagian lahan bisa berkurang kapasitas megawattnya," ungkap Riki.
 
PT NOEI memang mendapat uang dari tipping fee dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, uang tersebut juga tidak menutupi biaya operasional mereka. Uang tipping fee, kata Agus, digunakan untuk biaya operasional, seperti membeli alat berat, membeli kipas, dan gaji karyawan. "Dari tipping fee saja sudah minus pendapatan kami," pungkas Agus.
 
Kompos
 

Sampah organik juga bisa dengan mudah disulap menjadi kompos. Kompos dari sampah organik ini sebenarnya sangat mudah untuk dibuat. Bahkan masyarakat secara umum dapat menyisihkan sampah organik yang mereka gunakan untuk dijadikan kompos.
 
Namun pemerintah tidak mendorong masyarakat untuk memilah sampah organik yang mereka miliki untuk dijadikan kompos. Padahal pemerintah dapat memberdayakan masyarakat untuk mengurangi jumlah sampah organik.
 
Pemerintah Provinsi DKI harusnya mendorong semua perangkat yang mereka miliki untuk pengolahan sampah berbasis komunitas. “Dorong RT/RW kelurahan dan kecamatan,” saran Pakar Perkotaan Nirwono Joga saat berbincang dengan metrotvnews.com, Jakarta, Selasa (10/11/2015).
 
Pengolahan sampah dan pembuatan kompos berbasis komunitas ini pernah dicoba di beberapa daerah. Namun karena tidak memiliki pasar, kompos pun tidak tahun mau dijual kemana.
 
“Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI harusnya dipaksa untuk membeli kompos dari warga. Dengan begitu masalah sampah bisa diselesaikan di hulu. Lambat-lambat masalah sampah DKI Jakarta bisa diselesaikan,” kata Nirwono.
 
Tenaga Ahli PT GTJ Benny Tunggul juga merasa heran pemerintah DKI Jakarta tidak melirik kompos hasil sampah yang justru berasal dari daerah ibu kota. Ada kesan produk dari sampah justru dipandang sebelah mata.
 
“Sampai sekarang pemerintah DKI atau Pemkot Bekasi tidak pernah membeli kompos yang dibuat di TPST Bantar Gebang. Kita justru menjualnya ke pusat perkebunan. Apa salahnya kalau Dinas Taman DKI beli kompos dari hasil sampahnya,” ucap Benny.
 
TPST Bantar Gebang sedikitnya mengolah 200 ton sampah organik menjadi 50 ton kompos tiap harinya. Bahkan proses composting ini ikut memberdayakan masyarakat sekitar. Tiap kilogram kompos sekitar Rp500. Jadi tiap harinya ada pendapatan Rp25 juta dari kompos.
 
Daur ulang plastik
 
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sempat mengungkapkan 15 persen dari sampah Ibu Kota adalah sampah plastik. Jika tiap harinya sampah Ibu Kota mencapai 6.700 ton, sekitar 1.000 tonnya merupakan sampah plastik.
 
Plastik merupakan jenis sampah yang berdaya guna tinggi karena dapat didaur ulang menjadi biji plastik. Industri daur ulang sampah plastik di TPST Bantar Gebang menghasilkan 5-7 ton biji plastik per hari.
 
Saat ini biji plastik daur ulang berkisar di angka Rp12.000 per kilogramnya. Jika dihitung-hitung, pendapatan dari daur ulang plastik yang dilakukan TPST Bantar Gebang melebihi Rp60 juta per hari. Setidaknya nilai produksi biji plastik TPST Bantar Gebang dapat menyentuh angka Rp1,8 miliar.
 
Potensi pemasukan yang didapat dari sampah Ibu Kota masih sangat besar karena kapasitas ideal fasilitas TPST Bantar Gebang sebenarnya jauh di bawah total sampah Jakarta saat ini.
 
Sampah Jakarta ini sebenarnya dapat membantu peluang industri baru. Jika dikelola dengan baik, pengepul plastik yang dibantu oleh pemulung plastik dapat memberikan potensi besar dari sampah Jakarta.
 
“Tapi lagi-lagi, sampah itu masih dipandang sebelah mata,” kata Benny.
 
Belajar dari Swedia
 
Jika ingin belajar tata kelola sampah, ada baiknya belajar ke Swedia. Negara yang sebelumnya membakar 2,2 juta ton sampah rumah tangga pada tahun 2012, kini telah berhasil mengubah sampah mereka menjadi lebih bermanfaat menjadi energi.
 
Saat ini Swedia yang berpenduduk 9,8 juta, tidak jauh berbeda dengan Jakarta, telah memiliki 32 pembangkit tenaga yang menghasilkan listrik untuk 250.000 rumah tangga. Swedia juga menjadi negara yang melakukan perubahan tata kelola sampah besar-besaran.
 
Pada tahun 1975 di Swedia, sampah yang dikirim untuk menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mencapai 1,6 juta ton per tahun. Sampah yang Swedia bakar untuk mendapatkan energi panas hanya sekitar 7,5 juta tonnya saja.
 
Swedia juga belum berpikir untuk mendaur ulang sampah mereka atau memanfaatkan sampah organik mereka menjadi kompos. Berdasarkan data yang pemerintah Swedia miliki, kurang dari 38 persen sampah yang mereka manfaatkan. Sisanya mereka biarkan menumpuk di TPA terbuka (open dumping landfill)
 
Namun dengan beragam kampanye untuk memanfaatkan sampah, kebijakan untuk mengurangi sampah, dan revolusi daur ulang, kini sampah di Swedia kurang dari satu persennya saja yang terbuang.
 
Kebiasaaan untuk memilah sampah dan 3R (reduce, reuse, recycle), menyebabkan Swedia dinobatkan sebagai negara revolusi daur ulang. Faktanya 99,9 persen sampah Swedia dimanfaatkan kembali.
 
Saking efesiennya tata kelola sampah Swedia “memaksa” mereka untuk mengimpor sampah hingga 800 ribu ton per tahun agar pembangkit tenaga listrik mereka tetap bisa berjalan. Bahkan dengan mengimpor sampah, Swedia justru mendapat untung karena mendaur ulang sampah mereka miliki.
 
Jakarta dan Swedia kini sama-sama krisis sampah. Namun, Swedia krisis karena kekurangan sampah, sedangkan Jakarta krisis karena kebingungan untuk membuang sampah.
 


(ADM)

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG
Liga Champions 2017--2018

Ronaldo: Real Madrid Tidak Takut PSG

3 days Ago

Cristiano Ronaldo menegaskan dia dan rekan setimnya tidak takut jika harus berhadapan dengan Pa…

BERITA LAINNYA
Video /