Wapres: Meski Ekonomi Lambat, RI Masih Untung

Suci Sedya Utami    •    17 November 2015 12:04 WIB
ekonomi indonesia
Wapres: Meski Ekonomi Lambat, RI Masih Untung
Wapres Jusuf Kalla saat memberikan pengarahan di Seminar Mengembalikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016. (FOTO: MTVN/Suci Sedya Utami)

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia memang mengalami perlemahan ekonomi sebagai konsekuensi dari kondisi ekonomi global yang tidak dapat dihindari.

Pria yang kerap disapa JK ini mengatakan, meskipun Tanah Air mengalami perlambatan ekonomi, namun Indonesia masih untung karena bukan merupakan negara yang terpuruk akibat terkena dampak perlambatan ekonomi global.

"Kita bersyukur mengalami perlambatan, tapi kita ada diposisi menengah. Memang ada yang di atas, ada juga yang di bawah kita. Tapi dengan berada di level menengah mengartikan negara ini mudah maju dan mudah bertahan," ujar dia, dalam acara Seminar Mengembalikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016, di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Pusat, Selasa (17/11/2015).

Diakuinya memang tidak mudah menghadapi tantangan ekonomi dalam waktu satu tahun pertama Pemerintahan Jokowi-JK. Perlambatan ekonomi nasional juga karena adanya pelemahan terhadap daya beli masyarakat yang sesungguhnya menjadi kekuatan bagi ekonomi Indonesia dengan 250 juta penduduk menjadi penggerak konsumsi. Selain harus menjaga daya beli, harus yang harus dijaga yakni produktivitas.

"Pertumbuhan tumbuh karena produktivitas selain konsumsi, dua-duanya harus terjaga untuk dapat menumbuhkan ekonomi Indonesia," ujarnya.

Apalagi, Pemerintah mencanangkan pertumbuhan tujuh persen dalam periode lima tahun hingga 2019. Artinya, Indonesia butuh lebih dari dua persen lagi untuk mencapai target tersebut. Artinya, butuh sekian ribu triliun untuk investasi demi mendorong pertumbuhan itu.

"Meningkatkannya enggak langsung tujuh (persen), kecuali ada mukjizat ada perubahan mendadak di dunia ini. Maka kita cari masalah dan solusinya. Kebijakan apa yang salah dan diperbaiki untuk capai itu?" tanyanya.

Selama ini, ekspor Indonesia tidak banyak bergerak dari produksi mentah seperti komoditas sekian puluh tahun. Sehingga begitu ada masalah terkait lemahnya harga komoditas langsung berdampak. Oleh karena itu fundamentalnya harus diperbaiki.

"Kita harus bergerak, mineral enggak boleh diekspor mentah, itu sudah memperbaiki pelemahan masa lalu. Untungnya kita perbaiki pada harga turun, jadi enggak ada tantangan banyak, coba lima tahun lalu, pasti pada teriak semua. Kalau sekarang mau ekspor ke mana dengan harga berapa? Jadi saat yang tepat memperbaikinya," pungkasnya.


(AHL)


Video /