Keluarga Sayangkan Rekam Jejak Tan Malaka Diteliti Sejarawan Asing

Antara    •    18 November 2015 12:22 WIB
tan malaka
Keluarga Sayangkan Rekam Jejak Tan Malaka Diteliti Sejarawan Asing
Foto:Peneliti dan penulis penulis Buku Tan Malaka, meneliti Tan Malaka sejak 1971 dan sekarang berhasil menemukan kubur Tan Malaka di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur/MI_Furqon Ulya Himawan

Metrotvnews.com, Lima Puluh Kota: Pihak keluarga Pahlawan Nasional Indonesia Ibrahim Datuak Sutan Malaka (Tan Malaka) menyayangkan pembuktian perjuangan Tan Malaka dilakukan peneliti sejarah asing. Penelitian dilakukan oleh sejarawan asal Belanda Harry A Poeze.

"Meskipun keluarga berterima kasih terhadap penelitian yang dilakukan sejarawan asal Belanda Harry A Poeze. Namun akan lebih bermakna jika kisah pejuang Indonesia dilakukan oleh anak bangsa sendiri," kata cucu Tan Malaka, Indra Ibnu Pratama, 46, di Desa Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Rabu (18/11/2015).

Indra mengatakan, sejauh ini pemerintah tidak pernah mencoba untuk mengungkap cerita Tan Malaka sedetail mungkin. Bahkan setelah orde baru, di mana namanya sempat dihilangkan dari sejarah.

"Pada orde baru namanya dihilangkan tanpa alasan dan bukti yang jelas, namun setelah itu Harry A Poeze yang tetap konsisten meneliti untuk mengungkap sosok Tan Malaka," kata dia.

Jika memang dikatakan aset negara seharusnya diungkap secara jelas agar generasi muda tidak buta sejarah. Ia menuturkan Harry A Poeze datang ke tempat kelahiran Tan Malaka di Kenagarian Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, sebanyak empat kali.

"Sudah empat kali dia datang. Kedatangan pertama ketika saya masih berumur tujuh tahun. Saat penemuan makam di Selopanggung, Jawa Timur, saya juga pergi dengannya," ujar dia.

Saat disinggung mengenai perhatian Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota sendiri, terhadap rumah bekas kediaman Tan Malaka yang saat ini dijadikan
museum, ia enggan berkomentar banyak. Ia mengatakan satu-satunya bekas perhatian pemerintah pada rumah itu adalah pengesahan ranji berbentuk Baliho, yang ditanda tangani pada 2005.

"Pemkab Limapuluh Kota melakukan pengesahan dengan menandatangani ranji pada 2005, selain itu belum ada lagi," kata dia.

Rumah Tan Malaka jenis Rumah Gadang, itu dijadikan museum pada 2002 telah mengalami beberapa kali perbaikan dengan dana swadaya dari
keluarga. Bahkan keterangan tempat yang terdapat di simpang menuju rumah, masih berupa spanduk yang juga dicetak oleh keluarga sendiri.

Pada bagian lain, Harry A Poeze adalah peneliti peneliti dari KITLV Leiden Belanda, yang telah menghabiskan lebih 36 tahun waktunya untuk meneliti rekam jejak Tan Malaka. Hingga saat ini ia telah mengeluarkan empat buku tentang perjalanan hidup, perjuangan, pemikiran, pahlawan nasional asal ranah Minang itu.


(TTD)