Cerita dari Tenggara Sulawesi

Pelangi Karismakristi    •    18 November 2015 15:37 WIB
galeriindonesiakaya
Cerita dari Tenggara Sulawesi
Pemandangan bawah laut di Pulau Hoga, salah satu titik penyelaman di Pulau Wanci, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara -- MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia memiliki surga bawah laut paling indah di dunia. Surga bawah laut tersebut dikenal dengan Taman Nasional Wakatobi yang terletak di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ternyata, Wakatobi merupakan singkatan dari Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Keempatnya merupakan gugusan pulau besar yang terletak saling berderet, dengan luas areal lebih dari satu juta hektare.

Selain dikenal dengan objek wisata taman laut nasional yang indah, Wakatobi juga memiliki wisata budaya Suku Bajo. Uniknya, Suku Bajo tinggal di atas laut dengan membangun rumah panggung.

Laut telah menjadi denyut nadi warga Bajo, mereka terbiasa dengan ombak, angin dan arus. Tak heran, jika Suku Bajo hingga kini masih mempertahankan tradisi hidup di atas laut.

Setiap rumah terhubung dengan jembatan kayu untuk akses pejalan kaki. Masing-masing rumah biasanya memiliki dua sampai tiga perahu sebagai sarana transportasi sehari-hari.

Suku Bajo memiliki tradisi unik dalam merayakan kelahiran anak di atas perahu saat sedang berlayar di lautan. Anak yang baru lahir langsung dicelupkan ke dalam laut, dimasukkan ke bagian bawah perahu tempat dia dilahirkan.

Sedangkan bayi Suku Bajo yang lahir di daratan, baru akan dimandikan di laut setelah tiga hari. Bayi tersebut akan kembali dimandikan di laut setelah berusia 40 hari.

Tradisi tersebut bertujuan untuk mengakrabkan si jabang bayi dengan laut. Sehingga saat dewasa, mereka memiliki kemampuan berburu hewan laut di sela karang dengan menyelam tanpa alat bantu dalam waktu cukup lama.
  
Suku Bajo juga memiliki tari tradisional menyambut tamu-tamu kehormatan daerah bernama Tari Duata. Tarian ini dibawakan anak-anak gadis di atas perahu yang dibuat semacam rakit.

Tari Duata, dulunya digunakan untuk menyembuhkan orang sakit. "Kalau sudah dibawa ke dokter tapi tidak sembuh-sembuh, kita adakan tarian ini. Ini seperti pemanggilan dewa," papar Ketua Kerukunan Suku Bajo (Kekarbajo) Gafur kepada Yovie Widianto.

Puas mengunjungi Suku Bajo, saatnya berburu kain tradisional. Kepulauan dengan Ibu Kota Wangi-wangi ini memiliki beragam kain tenun, seperti tenun ikat modern dan alami.

Ada bermacam pola berkembang di Wakatobi, namun yang utama berbentuk garis memanjang untuk dipakai wanita dan garis kotak-kotak untuk dipakai pria. Pola khas lainnya adalah penggunaan benang warna metalik (emas, perak, hijau, merah, biru) yang digabungkan dengan benang katun. Sehingga ketika diterpa cahaya, kain berpendar cantik.

Satu tempat lagi yang sayang untuk dilewatkan saat berada di Sulawesi Tenggara, yaitu sentra perak di Pulau Bokori. Perak di sini memiliki kadar lebih dari 97 persen, dengan motif khas sarang laba-laba.

Sulawesi Tenggara memang menyimpan banyak pesona bagi para wisatawan. Simak perjalanan Yovie Widianto dan Renitasari Adrian dalam IDEnesia di Metro TV pada Kamis (19/11/2015) pukul 22.30 WIB. Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(NIN)


<i>Youngster</i> Roma Belum <i>Move On </i>dari Liga Champions

Youngster Roma Belum Move On dari Liga Champions

14 hours Ago

Cengiz Under merasa AS Roma dicurangi oleh wasit pada partai semifinal Liga Champions melawan L…

BERITA LAINNYA
Video /