Penempatan TKI ke Macau Dimulai 2016

Kesturi Haryunani    •    18 November 2015 18:57 WIB
bnp2tki
Penempatan TKI ke Macau Dimulai 2016
Ketua BNP2TKI Nusron Wahid -- ANT/Fanny Kusumawardhani

Metrotvnews.com, Jakarta: Kalangan industri di Macau lebih suka menerima tenaga kerja Indonesia (TKI), karena memiliki berbagai kelebihan dibanding tenaga kerja dari negara lain. Peluang ini dimanfaatkan  Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dengan melatih 100 calon TKI di pusat pendidikan.

"Sebagai kelanjutan dari pertemuan ini, akan dilatih 100 orang di pusat pendidikan. Sehingga jelang Macau JobFair di Jakarta, Semarang, dan Surabaya pada Maret 2016, kita sudah mempersiapkan tenaga kerja untuk mengisi sektor hospitality di Macau,” ujar Kepala BNP2TKI Nusron Wahid saat menerima kunjungan kerja Konsul Jenderal RI di Hongkong dan 10 anggota Delegasi Asosiasi Indonesia–Macau (AIMs) di Gedung BNP2TKI, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (18/11/2015).

Dalam kunjungan kerja tersebut, delegasi AIMs menginformasikan kesempatan kerja sektor hospitality di Macau. Kesempatan itu berpeluang diisi oleh TKI.
 
Wakil AIMs, Mr Yosef, memaparkan mengenai kondisi kerja, proporsi tenaga kerja asing di Macau, jumlah perusahaan, industri, serta gaji rata-rata per bulan pekerja di Macau. "Seorang pekerja di sektor hospitality bisa memperoleh gaji sekitar US$800-US$1.000 US$ per bulan," ungkapnya.

Jumlah tenaga kerja asing di Macau untuk sektor domestic helpers berjumlah 23.086, sebagian besar berasal dari Filipina, Vietnam dan Indonesia. Namun, sektor industri di Macau lebih memilih orang Indonesia dibandingkan Filipina karena bisa belajar cepat berbahasa setempat.

"Tidak seperti Tenaga dari Filipina yang bersikeras menggunakan bahasa Inggris. Indonesian (TKI) merupakan pekerja keras, mudah bergaul, dan akrab dengan anggota keluarga” ujar perwakilan sektor industri, Mr Hao.

Menurut data, saat ini terdapat 4.036 WNI bekerja di Macau. Sebanyak 1.100 diantaranya bekerja di sektor formal.

“Macau sangat mendukung jika diselenggarakan program Government to Private antara Pemerintah Indonesia dan Asosiasi Macau," tutur Kepala Perwakilan RI di Hongkong Chalief Akbar.

Berdasarkan hal itu, Macau dan Indonesia harus mempersiapkan hal teknis untuk bisa dimatangkan. Sehingga penempatan tenaga dari Indonesia ke Macau bisa terlaksana mulai dari penetapan ketentuan, jumlah kuota, struktur biaya, peraturan, masa kerja, dan hal teknis lainnya.


(NIN)