Cerita Novanto soal Awal Pertemuan dengan Freeport

Githa Farahdina    •    19 November 2015 09:06 WIB
pencatut nama presiden
Cerita Novanto soal Awal Pertemuan dengan Freeport
Setya Novanto. Foto: Antara/Hafidz A Mubarak

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua DPR Setya Novanto mengakui adanya pertemuan antara dirinya dan petinggi PT Freeport Indonesia. Politikus Partai Golkar itu bercerita awal pertemuan dengan jajaran direksi Freeport. 

Awalnya, kata Novanto, pihak Freeport lah yang mendatanginya ke kantornya di Gedung DPR. Novanto menyebut 27 April sebagai tanggal pertemuan itu.

"Dia datang ke kantor itu ada dua jam, dua jam itu menjelaskan program-program mengenai masalah Freeport, menyangkut divestasi, smelter, menyangkut masalah perpanjangan (kontrak karya)," kata Novanto kepada wartawan di kediamannya, Rabu (18/11/2015).

Terkait smelter, lanjut Novanto, Freeport meminta tidak dibangun di Papua, tapi di Gresik. Itu karena Freeport, seperti yang dituturkan Novanto, menganggap di Gresik infrastrukturnya sudah siap.

Kepada Novanto, Freeport juga berharap mendapat jaminan kelanjutan operasi hingga 2041. "Jika tidak diperpanjang maka ada arbitrase internasional terhadap Indonesia di Juli 2016," ujar Novanto. 

Bekas Bendahara Umum Partai Golkar itu mengatakan persoalan Freeport sudah dibicarakan dengan Presiden Joko Widodo. Pembicaraan itu disampaikan saat Novanto dan empat pimpinan DPR bertemu Jokowi beberapa waktu lalu. Saat itu, Jokowi meminta apapun yang diputuskan terkait PT Freeport harus sesuai dengan undang-undang. 

"Dan sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Papua," tutur Novanto.

Karena ada yang tak jelas, Novanto dan Freeport sepakat untuk bertemu lagi. Kali ini di Pacific Place, kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan yang berlangsung 6 Juni itu, Novanto juga mengajak pengusaha Reza Chalid. Alasan Novanto mengajak Reza, lantaran dirinya merasa curiga dengan petinggi Freeport. 

Kecurigaan itu, aku Novanto, muncul pada saat pertemuan awal di DPR. "Saya dan Pak Reza sepakat hati-hati," kata Novanto.

Freeport, kata Novanto, berpikiran apabila kontrak diperpanjang hingga 2041, mereka baru akan membangun smelter

"Jadi setelah pertemuan itu (di DPR) ada sesuatu hal yang penuh tanda tanya. Setelah saya pikir-pikir apakah tidak sebaiknya direksi Freeport membangun smelter dulu," kata Novanto. 

Menurut Novanto, dalam pertemuan tersebut pembicaraan tak jauh dari persoalan divestasi dan arbitrase. Tak ada permintaan saham seperti yang dituduhkan. 

"Cerita-cerita yang berkaitan dengan masalah divestasi. Kalau akhirnya teman saya bisa berusaha, secara joke itu ingin tahu, saham Freeport itu divestasinya berapa? Jadi, dalam hal itu masih terpotong adalah itu nanti akan kita lihat, bahwa ada hal-hal yang memang dari pilihan itu kenapa ini tidak diambil?" paparnya.

Dalam kesempatan itu, Novanto membantah telah mencatut nama Presiden. Menurutnya, Presiden dan Wakil Presiden adalah simbol negara yang mesti dijaga.

Setya Novanto dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said. Novanto diduga mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden untuk mendapatkan saham dari PT Freeport Indonesia.


(KRI)

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi
Rasisme dalam Sepakbola

Suporter Bertindak Rasis, AS Roma Terancam Sanksi

1 day Ago

Suporter AS Roma tirukan suara monyet ke arah Antonio Rudiger, bek Chelsea saat kedua tim bentr…

BERITA LAINNYA
Video /