Walhi Jabar Tolak Pembangunan Kawasan Teknopolis

Roni Kurniawan    •    20 November 2015 17:46 WIB
pembangunan
Walhi Jabar Tolak Pembangunan Kawasan Teknopolis
Maket Bandung sebagai Kota Teknopolis di Gedebage yang merupakan gagasan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Foto: Istimewa

Metrotvnews.com, Bandung: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menolak pembangunan kawasan Bandung Teknopolis yang dipusatkan di Gedebage, Kota Bandung. Mereka menilai kawasan kota berbasis teknologi itu akan memunculkan bencana alam. Gedebage merupakan daerah langganan banjir setiap kali musim hujan.

"Kami menyarankan agar pembangunan kawasan Bandung Teknopolis dihentikan," kata Direktur Walhi Jabar, Dadan Ramdan, saat ditemui di Sekretariat Walhi Jabar, Jalan Piit, Kota Bandung, Jumat (20/11/2015).

Dadan mengatakan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan Bandung Teknopolis tak sesuai dengan fakta di lapangan. Di dalam judul amdal disebutkan kawasan teknopolis hanya akan dibangun perumahan dan apartemen. Namun, di isi dokumennya tercantum pembangunan rumah toko atau ruko.

"Keberadaan ruko tentu saja akan sangat berdampak pada pencemaran lingkungan, terutama pertambahan limbah dan sampah," kata dia.

Kebutuhan air untuk perumahan, apartemen dan ruko mencapai 941.580 liter per hari. "Saya pikir PDAM tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan itu. Apalagi warga sekitarnya juga masih cukup kesulitan mendapatkan pasokan air bersih," kata Dadan.

Ia berharap Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meninjau kembali dokumen pembangunan kawasan Bandung Teknopolis. Ia khawatir dokumen itu menjadi ajang praktik jual-beli pengurusan dokumen yang dilakukan oknum di dinas terkait. "Periksa kembali dokumen pendukung yang dibuat PT Summarecon selaku pemilik lahan di sana. Meskipun mereka pemilik kawasan itu, tetap harus ikuti aturan yang ada," kata dia.

Pemkot Bandung menggandeng PT Summarecon untuk membangun kawasan Bandung Teknopolis di kawasan Gedebage seluas 72 hektare. Awalnya diusulkan seluas 270 hektare. Hingga kini pembangunan kawasan itu terus berlangsung.


(UWA)