Indonesia Kaji Mata Uang Renminbi dalam Bisnis

   •    21 November 2015 14:58 WIB
ekonomi china
Indonesia Kaji Mata Uang Renminbi dalam Bisnis
Ilustrasi mata uang Yuan. FOTO: Reuters/Carlos Barria

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong mengungkapkan bahwa IMF akan mengumumkan mata uang Tiongkok, Renminbi, sebagai mata uang kelima di dunia setelah dolar AS, euro, poundsterling, dan yen. Sehingga perlu dikaji.

"Dengan adanya perkembangan baru yang akan diumumkan IMF pada 30 November, Indonesia perlu melakukan kajian, mempelajari, mendalami dan menjiwainya untuk menggunakan mata uang tersebut dalam transaksi bisnis," ucapnya kepada media massa usai mengikuti persidangan ASEAN Summit di Kuala Lumpur, sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (21/11/2015).

Menurut dia, perkembangan baru yang sangat dahsyat ini yang harus ditanggapi. Dalam persidangan G-20 di Turki beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menekankan mengenai pentingnya bergeser dari dolar AS ke mata uang Remimbi. Dijelaskannya, ada banyak alasan mengenai penggunaan mata uang tersebut sejalan dengan semakin berkurangnya ketersediaan dolar AS.

"Sekarang ini, dolar sedang pulang kampung sejalan dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat," tutur Mendag.

Bagi Indonesia, lanjut dia, makna pengalihan dari dolar AS ke Renminbi merupakan isu fenomenal karena setiap tahun neraca perdagangan kedua negara cukup besar. Nilai impor Indonesia dari Tiongkok mencapai USD30 miliar, sedangkan ekspor ke negara tersebut hanya USD16 miliar sehingga terjadi defisit sebesar USD14 miliar.

Oleh karenanya, perlu ada kerja sama antar bank sentral Indonesia dan Tiongkok agar ada likuitas Renminbi yang berlimpah sehingga tidak susah mencari mata uang tersebut di perbankan seperti BNI, BRI, Mandiri dan lainnya.

Disebutkannya, Indonesia masih menggunakan mata uang dolar AS dalam perdagangannya dengan Tiongkok, sedangkan sejumlah negara seperti Malaysia sudah berapa persen transaksi menggunakan Renminbi.

"Malaysia sudah menggunakan transaksi pakai Renminbi sekitar 3-5 persen, sedangkan di beberapa negara lainnya bahkan mencapai 10 persen," ujar Thomas.

Untuk itu, perlu sosialisasi dan sebagai percontohannya dilaksanakan di Jakarta mengingat aktivitas bisnis dengan negara tersebut banyak dilakukan di ibu kota negara.

"Kita bisa memulainya di Jakarta, karena aktivitas importir banyak dilaksanakan di sini dan selanjutnya bisa diikuti oleh daerah," pungkas dia.


(AHL)


Jelang Hadapi Liverpool, Pelatih Kecewa dengan Performa Roma
AS Roma vs Genoa

Jelang Hadapi Liverpool, Pelatih Kecewa dengan Performa Roma

2 days Ago

Eusebio kesal karena para pemain Roma kerap terlena saat sudah berada dalam posisi unggul.…

BERITA LAINNYA
Video /