Perkembangan e-Commerce di Tengah Besarnya Pasar RI

Surya Perkasa    •    21 November 2015 15:42 WIB
e-commerce
Perkembangan <i>e-Commerce</i> di Tengah Besarnya Pasar RI
Pendiri Jualo.com, Chaim Fetter. (FOTO: MI/Sumaryanto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jualo.com berhasil menarik 1.000 akun penjual dalam satu bulan pertama walaupun masih pemain baru di bisnis e-commerce Indonesia. Hal ini pun berhasil dicapai tanpa mengeluarkan biaya untuk pemasaran. Hanya mengandalkan optimasi mesin pencari Google, sosial media, dan sistem yang memberikan kenyamanan bagi pengguna.

Pada April 2015, Jualo.com mendapatkan suntikan dana dari dua perusahaan investor Indonesia, Mountain Kejora Ventures dan Alpha JWC Ventures. Lalu lintas pengguna pun bertambah sampai tiga kali lipatnya. Jumlah transaksi Jualo.com saat ini berkisar di angka 10.000 transaksi per bulan. Jumlah ini berkisar di angka 10-15 persen dari jumlah iklan yang dipasang di Jualo.com.

"Saat ini kita belum bisa prediksi ke depan akan seperti apa. Karena seluruh transaksi masih sifatnya offline. Penjual dan pembeli bertemu untuk bertransaksi. Tapi setiap ada iklan yang dilepas, Jualo.com coba tanyakan alasan. Apakah sudah tidak dijual lagi, terjual lewat e-commerce lain, atau terjual lewat Jualo.com," terang Pendiri Jualo.com, Chaim Fetter, saat berbincang dengan Metrotvnews.com.

Dia melihat peluang e-commerce untuk berkembang di Indonesia sangatlah besar. Pengguna internet di Indonesia melebihi 100 juta. Namun pasar e-commerce masih berada di angka lima persen. "Masih ada 95 persen pengguna internet Indonesia yang cuma sekadar memakai fungsi sosial media," kata dia singkat.

Perkembangan e-commerce di Indonesia ini dilihatnya sedikit terlambat. Tiongkok misalnya, pasar e-commerce menguasai 10 persen transaksi retail yang ada. Sedangkan jika dibandingkan dengan Belanda, e-commerce Indonesia tertinggal sampai 10 tahun. "Apa yang terjadi di Indonesia sekarang, sudah terjadi di Belanda sepuluh tahun lalu," tutur dia.

Pasar besar ini pun menarik pemain e-commerce raksasa seperti OLX, Alibaba, dan eBay untuk masuk ke Indonesia. Namun dia melihat iklim bisnis e-commerce di Indonesia membuat langkah perusahaan e-commerce multinasional tertahan. Bahkan perusahaan investor masih berpikir-pikir untuk masuk walaupun potensi pasar yang sangat luar biasa.

Pasar e-commerce Indonesia masih sangat bisa dikembangkan dan digali. Masih banyak sisi-sisi e-commerce yang belum terpikirkan dan bisa digali. Contoh sederhana, Fetter yang senang olahraga diving ini, belum berhasil menemukan aksesoris dan peralatan diving secara online.

"Belum ada kepikiran. Padahal pasarnya ada. Bisa sangat membantu pariwisata kita, apalagi laut Indonesia itu indah," celetuk dia.

Dia melihat apa yang terjadi di bisnis e-commerce Indonesia ini terkait dengan budaya masyarakat Nusantara. Masyarakat senang membeli barang untuk upgrade barang yang dimilikinya. Tapi di sisi lain, mayoritas masyarakat tidak percaya dengan skema jual-beli daring dan lebih suka transaksi langsung. Ditambah lagi, Indonesia belum memiliki aturan yang khusus untuk e-commerce.

"Sekarang tergantung bagaimana perusahaan e-commerce sendiri. Contohnya Jualo.com, setiap penjual kita verifikasi. Penjual harus memiliki NPWP dan KTP. Kalau semisalnya ada kasus penipuan, konsumen bisa melapor ke Polisi, lalu kita bisa bantu meyerahkan data ke pihak berwajib. Kita juga memiliki sistem algoritma untuk memastikan tidak ada barang-barang palsu yang beredar," pungkas dia.


(AHL)