Menlu: Tiongkok Tegaskan Bahwa Natuna Milik Indonesia

   •    21 November 2015 15:59 WIB
laut china selatan
Menlu: Tiongkok Tegaskan Bahwa Natuna Milik Indonesia
Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi di KTT ASEAN (Foto: Dok. Kemlu)

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur : Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menanggapi kabar mengenai Tiongkok yang mengklaim di Kepulauan Natuna. Menurutnya, Tiongkok sudah menegaskan bahwa Natuna milik Indonesia.

"Beberapa waktu lalu ada berita soal klaim Natuna. Itu sama sekali tidak benar," kata Retno dalam keterangannya kepada media massa, seperti dikutip dari Antara,  di Kuala Lumpur, Jumat (20/11/2015).

Menurut Menlu Retno, kepemilikan Indonesia atas Kepulauan Natuna sudah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan tidak pernah ada keberatan dari pihak mana pun, termasuk Tiongkok.

Menlu pun mengutip pernyataan juru bicara Menlu Tiongkok, yang dengan jelas menyebutkan soal kepemilikan Kepulauan Natuna oleh Indonesia.

"Ini adalah wilayah Indonesia. Titik," tegas dia.

Selain itu penentuan delimitasi, termasuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) dan batas kontinental, ditarik dari garis-garis tersebut, karena yang disengketakan antara beberapa negara adalah masalah fitur berupa pulau, atol, bebatuan, dan sebagainya.

"Dalam hal ini Indonesia tidak punya tumpang tindih klaim dengan negara mana pun," katanya.

Di Natuna, Indonesia mempunyai tumpang tindih batas kontinental dengan Malaysia, namun masalah tersebut sudah diselesaikan dan dicatatkan ke PBB. Sementara soal tumpang tindih kawasan ZEE dengan Malaysia di barat dan Vietnam di utara, saat ini masih dinegosiasikan.

Indonesia dan Malaysia sudah menunjuk utusan khusus untuk mempercepat proses negosiasi. Sedangkan dengan Vietnam, negosiasi yang sudah lama berhenti telah dihidupkan kembali dan akhir 2015 akan ada pertemuan lagi.

Indonesia mengajak semua pihak untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memantik ketegangan di kawasan, kata Menlu.

Senada dengan Retno, Menkopolhukam Luhut Panjaitan mengatakan bahwa Indonesia mengedepankan dialog dalam mengatasi masalah tersebut.

"Soal 'nine-dash line', kami sepakat bahwa kebebasan pelayaran, 'code of conduct' mengemuka. Namun kita ingin mengedepankan dialog untuk mengatasi masalah itu," ujar Luhut.

Luhut menambahkan bahwa Indonesia telah merencanakan kerja sama eksplorasi di ladang potensial energi di Natuna, namun rencana itu ditunda karena harga gas turun.


(FJR)

Video /