Berbicara Bahasa Arab, Dua Pria Dilarang Masuk ke Pesawat AS

Fajar Nugraha    •    21 November 2015 18:40 WIB
pesawat
Berbicara Bahasa Arab, Dua Pria Dilarang Masuk ke Pesawat AS
Ilustrasi pesawat (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Chicago: Hanya karena berbicara dalam Bahasa Arab, dua orang dilarang masuk ke dalam pesawat maskapai Amerika Serikat (AS). Ini merefleksikan ketakutan akibat serangan di Paris, Prancis.

Maher Khalil dan Anas Ayyad diperintahkan oleh seorang staf pintu gerbang maskapai Southwest, di Bandara Internasional Midway. Mereka tidak diperbolehkan masuk karena penumpang lain mendengar keduanya berbicara dalam Bahasa Arab. Penumpang lain itu mengaku takut terbang bersama keduanya.

Pada akhirnya kedua pria itu diinterogasi oleh pihak keamanan bandara, pada Rabu (18/11/2015) malam waktu setempat di Chicago. Bahkan beberapa penumpang memaksa mereka membuka bingkisan berwarna putih yang dibawa.

Ketika akhirnya mereka masuk ke pesawat dan membuka bingkisan yang dibawa, ternyata baru diketahui bahwa bingkisan itu berisi manisan.

"Jadi saya berbagi baklava (sejenis manisan) dengan para penumpang lain," ujar Khalid, kepada NBC 5, seperti dikutip AFP, Sabtu (21/11/2015). Sementara maskapai Southwest menolak untuk berkomentar tentang insiden ini.

Beberapa insiden serupa juga pernah terjadi di penerbangan domestik AS, khususnya setelah serangan di Paris pada 13 November 2015 lalu. Bahkan insiden itu juga melibatkan maskapai yang sama.

Pada hari yang sama, enam pria yang diidentifikasi oleh penumpang lain berasal dari Timur Tengah, diusir dari penerbangan yang akan menuju Houston. Keenam pria itu meminta penumpang lain untuk mengganti tempat duduk dan pada akhirnya menimbulkan keributan.

Lagi-lagi pihak Southwest menolak untuk memberikan keterangan mengenai insiden tersebut.

Serangan di Paris, Prancis memicu peningkatan keamanan di negara-negara Barat. ISIS yang mengklaim melakukan serangan di Paris, juga mengancam akan menyerang beberapa kota di AS.

Kota-kota yang diancam diserang itu antara lain New York dan Washington. Namun pihak FBI menegaskan tidak ada ancaman seperti yang dimaksudkan.


(FJR)

Video /