Antisipasi Propaganda ISIS, Muslim Diimbau Melek Teknologi

Willy Haryono    •    23 November 2015 15:47 WIB
isis
Antisipasi Propaganda ISIS, Muslim Diimbau Melek Teknologi
Second International Conference of The World Forum for Muslim Democrats di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin (23/11/2015). (Foto: MTVN/Nabila Gita)

Metrotvnews.com, Jakarta Dalam sehari, kelompok militan Islamic State (ISIS) dapat mengunggah sekitar 50 video propaganda di dunia maya. Propaganda berisi kebencian dan unsur ekstremis ini ditujukan ISIS kepada pengguna internet atau netizen yang rentan dan mudah dipengaruhi.

Demikian disampaikan Nurul Izzah, anggota parlemen Malaysia yang menjadi pembicara dalam Second International Conference of The World Forum for Muslim Democrats di Jakarta.

"ISIS sangat giat menggunakan media sosial, jadi kita harus lebih modern dan menemukan cara yang lebih baik untuk memeranginya," ujar Izzah, yang menjadi perwakilan Forum Dunia untuk Muslim Demokrat di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Izzah juga berharap pemuka agama Islam di seluruh dunia mau lebih berpikiran terbuka agar lebih dekat dengan masyarakat, terutama kaum muda. 

"Para ustaz harus memenangkan hati anak muda dan lebih modern. Penyebaran dan pengenalan Islam juga jangan hanya di masjid-masjid saja," tutur Izzah. 

Second International Conference of The World Forum for Muslim Democrats digelar sebagai bagian dari Peringatan Habibie Center, yang bertujuan mengutuk dan mengecam berbagai macam aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Masih terkait ISIS, Izzah mengimbau masyarakat Asia untuk mewaspadai ancaman grup ekstremis tersebut. Setelah terjadinya serangan teror di Paris pada 13 November, yang menewaskan 130 orang, ISIS terbukti mampu menebar teror di luar Timur Tengah. 

"Sebelum serangan di Paris, sudah ada serangan di Beirut dan Turki. Jadi, diharapkan negara Asia harus waspada dan siaga terhadap serangan ideologi yang mereka lancarkan," kata Izzah. 

Selain meningkatkan kewaspadaan, Izzah juga berharap negara-negara Islam di dunia dapat bersatu menghadapi ancaman terorisme. Namun, upaya yang dilakukan harus jauh dari unsur kekerasan. 

"Saya berharap adanya kerja sama secara multilateral oleh negara-negara Islam secara halus tanpa melanggar Hak Asasi Manusia, karena itu akan menimbulkan bibit-bibit kebencian dan rasa ingin balas dendam," ungkap Izzah. (Nabila Gita)


(WIL)